Surat Cinta Untuk Senior

1480 Kata
Malam semakin larut, bulan pun sudah tidak sepenuh ketika pertama kali ia keluar menampakkan cahayanya, kini porsinya tinggal sebelah namun cahaya yang berpijar darinya tidak berkurang sedikitpun. Acara masih berlanjut saat ini, dan Ellva masih harus merapatkan jaketnya dengan lebih kuat karena udara dingin sudah menusuk lebih tajam. Perkenalan dari tiap perwakilan kelas telah dimulai dari beberapa jam yang lalu, dan kini Dewara telah berdiri untuk menyelesaikan pidato singkatnya. “Dan itulah sedikit profil dari kelas kami, kelas 10 bintang 3. Kami mohon kerja samanya. Terima kasih." Dewara menundukkan kepalanya sejenak tanda hormat, lalu kembali ketempat dimana dia tadi duduk bersila, riuh tepuk tangan pun kembali menggema. Beberapa detik kemudian Ragan sang ketua Osis maju ketengah lingkaran para junior dengan toa di bahu kirinya, “Disini aku berdiri untuk menutup acara malam ini, tapi sebelumnya aku ingin meminta klarifikasi dari seorang junior yang mungkin sedang bermasalah dengan hatinya.” Ragan menarik napas sejenak dan memandang berkeliling. Para junior saling berpandangan heran dan bisik-bisik kecil mulai terdengar riuh redam. “Aku mendapatkan secarik surat berwarna biru pastel tadi pagi, surat cinta yang ditulis seorang junior untuk senior charming kita.” Ragan tersenyum lagi, kali ini lebih menggoda dari sebelumnya. “Kak Zevan silahkan untuk maju ke depan, dan berdiri disampingku!” perintahnya. Zevan terlihat terkejut, namun sejenak laki-laki itu bisa mengendalikan keterkejutan hatinya, teman-temannya yang lain mendorong-dorong dirinya untuk maju kedepan dengan tawaan yang terlihat sedikit mengejek. Zevan berjalan mendekati Ragan dengan ragu, dia sedikit menggaruk pundaknya yang sudah pasti tidak terasa gatal sedikitpun. Ellva mendengus kecil, “Dia lagi!” Ujarnya. Ellva membuang wajah, namun dia masih bisa melihat raut wajah Clyde yang langsung berbinar ceria. Dan riuh-riuh kecil yang ditimbulkan junior itu mulai sedikit tak terkendali. Ragan menyikut bahu Zevan kecil, lalu kemudian melanjutkan perkataannya. “Selamat Kak Zev, ternyata diam-diam ada gadis lain yang mengagumimu. Ck, ck, ck.” Ragan tersenyum lagi, dan menepuk bahu Zevan lebih keras. Yang ditepuk hanya tersenyum tanpa ekspresi. “Dan kau tahu Zev, siapa gadis itu? mari kita panggil dia untuk maju ke depan bersama kita!" Ellva mendecak malas, dia mulai tidak tertarik dengan permainan ini, namun sebelum Ellva benar-benar memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya ke bahu Clyde, Ragan kembali berujar dan membuat rasa kantuk Ellva yang tiba-tiba menyerang langsung menguap seketika. “Ellva Aileen !” Ellva menganga tak mengerti. ‘Ada apa lagi ini?’ batinnya. Clyde memandang Noya tak percaya, dia menutup mulut tipis miliknya dengan kedua tangan, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. “Ellv-Ellva…” ucapnya. “Aku sama sekali tidak menyangka. Kamu ... astaga.” “Aku? bukan. Apa-apaan ini?” Ellva mengibas-ngibaskan kedua tangannya didepan d**a kepada Clyde tanda menolak, kemudian Ellva memandang sekeliling dan mendapati seluruh pasang mata menatap ke arahnya dengan tatapan yang tak bisa Ellva artikan satu persatu. Kemudian Ellva memandang Ragan dan senior kaki gajah itu bergantian, namun Ragan tetap tersenyum geli kearahnya, sementara Zevan memandang Ellva dengan tatapan merendahkan tanpa ekspresi. “Ayo, Ellva kemari!” Perintahnya. Ragan memanggil Ellva dan melambaikan tangannya kepada gadis itu. Ellva masih terdiam di tempat serta menggelengkan kepala, dia sendiri tidak yakin dengan apa yang harus dilakukannya saat ini. Namun Ellva lebih terkejut lagi ketika Ragan menghampirinya dengan cepat dan telah berdiri didepannya dengan tegap. Ellva baru saja hendak membuka mulut saat tiba-tiba Ragan menarik lengannya dan mengajaknya ke tengah lapangan dimana ada Zevan yang sedang berdiri dengan acuh disana. Dan kini Ragan telah memberdirikan Ellva disamping Zevan, tentu saja senior kaki gajah yang sangat Ellva benci itu. Ellva menutup matanya dalam. ‘Bodoh ini benar-benar bodoh.’ Bisiknya dalam hati. ‘Apa yang harus aku lakukan?’ Belum hilang kebingungannya, Ragan kembali membuka suaranya, membuat Ellva kembali tercengang dan benar-benar malu. “Ellv, tadi pagi aku menemukan surat ini di meja panitia. Dan tertulis jelas disana bahwa pengirimnya adalah Ellva Aileen plus dengan tanda tangannya.” Ragan berhenti sejenak, gemuruh dan suitan dari para junior pun semakin terdengar risih ditelinga Ellva, sedangkan para senior terlihat tertawa geli dan puas, yang masih terlihat tanpa ekspresi adalah Zevan dan seorang lelaki yang duduk disamping meja kecil di depan tenda panitia, tangannya menggengam telinga cangkir yang masih mengepul asapnya, sepertinya dia adalah Daniel, senior yang menanyakan kabar Noya beberapa jam yang lalu. “Apa yang akan kamu jelaskan dari semua ini Ellva? mungkin Zevan sedang menunggu jawaban darimu, benarkan Zev?” Ragan mengalihkan pandangannya dari Ellva kepada Zevan. Namun, Zevan masih saja terdiam dan mengedikkan bahunya tak peduli. Lalu kemudian dia menoleh kearah Ellva dan menaikan sebelah alisnya. Dia mendecak mengejek, lalu berkata. “Apa kau benar-benar menulis surat bodoh itu untukku?” Tanyanya. Pandangannya masih saja menampakkan kecurigaan. “Apa aku sebodoh itu Kak? menulis surat cinta kepada seseorang yang jelas-jelas tidak aku kenal.” Ellva mengelak dengan tegas. Namun apa yang Ellva dapatkan berikutnya bukanlah kepercayaan dari jawaban yang baru saja dia ucapkan, melainkan teriakan yang semakin membuatnya tersindir. Zevan hanya mendesis, lagi dan lagi. “Wow tunggu dulu. Aku tidak meminta kalian untuk bertengkar disini. Aku hanya meminta kepastian dari kamu Ellv? atau, tunggu dulu. Apakah sebaiknya kita meminta Ellva untuk membacakan surat itu didepan kita semua?” ***** Acara hari ini telah berlalu lebih dari satu jam, setelah pemaksaan yang membombardir Ellva sekaligus langsung membuatnya menurunkan harga diri yang selama ini gadis itu jaga dalam sekejap mata. Itu adalah benar-benar akhir dari mimpi buruk Ellva hari ini. Mungkin, andai saja besok Ellva bisa langsung enyah dari keberadaan ini, dan sekarang apa lagi yang harus ia lakukan ketika senior kaki gajah itu menariknya kembali menuju meja panitia dan memandang Ellva dengan tatapan sinis. Lagi. “Apa yang Kak Zev lakukan?” Ellva melepaskan tangan Zevan yang mencengkram lengannya dengan keras. “Kakak belum puas mempermalukan aku didepan teman-temanku tadi?” Ellva mencoba membela diri. “Aku menarikmu kesini bukan untuk berdebat denganmu tentang surat bodoh itu. Tapi aku ingin menanyakan hal yang sedari tadi membuatku bingung memikirkannya.” ‘Apa katanya tadi? bukan untuk membahas surat? lalu?’ selidik Noya dihatinya. “Lalu untuk apa kak Zevan menarikku kesini? tolong katakan dengan cepat! aku tidak punya banyak waktu, aku ingin istirahat.” Ellva mengalihkan pandangannya dari Zevan, dia melipat kedua tangannya didepan d**a. Berusaha memasang tampang yang sangar dan jutek. Gadis itu sedikitpun tidak ingin terlihat ramah didepan senior yang kini berdiri didepannya, dan Ellva tidak peduli walaupun laki-laki itu adalah kakak kelasnya. Noya sama sekali tidak pernah memikirkan sopan santun ketika dirinya berhadapan dengan sesuatu yang menyangkut harga dirinya. “Kenapa kamu memanggilku senior kaki gajah?” Pertanyaan itu membuat Ellva menyelesaikan ocehan dalam hatinya, dan hal itu benar-benar menohok ulu hati Ellva dengan sangat tepat. Ellva memandangnya cepat dan dalam sekejap dia melihat raut wajah Zevan mulai berubah menakutkan. “Tolong jelaskan panggilanmu itu padaku sekarang?” Tegasnya lagi. Ellva benar-benar tidak menyangka pertanyaan itu akan Zevan tanyakan padanya, Ellva pikir tadi seniornya tidak benar-benar mendengarkan apapun yang dirinya ucapkan. Zevan masih menunggu jawaban dari Ellva sementara Ellva masih berpikir bagaimana akan menjawab pertanyaannya itu. “Aku, aku...kenapa kak Zevan menanyakan itu padaku? Elaknya kemudian. “Lalu nona, harus aku tanyakan kepada siapa lagi ungkapan yang jelas-jelas dikeluarkan oleh mulutmu itu.” Zevan terlihat lebih geram dari sebelumnya, nada bicaranya terasa seperti sedang menahan sesuatu yang menjengkelkan. “Oke, well. Kalau memang Kak Zevan ingin tahu, tolong dengarkan aku baik-baik senior Zevan, panggilan itu tidak akan muncul dengan begitu saja andaikan Kak Zevan juga tidak melakukan sesuatu yang membuat panggilan itu tercipta dari mulutku ini.” Ellva menjawab pertanyaannya dengan tegas. Kini Ellva melihat raut muka Zevan berubah menjadi sedikit kebingungan, dan kini suara malam terdengar lebih menakutkan dari sebelumnya. “Apa katamu?” Tanyanya lagi, ia mencondongkan kepalanya kearah Ellva, mencoba meminta kepastian dari kata-kata yang baru saja Ellva utarakan. “Kak Zevan tidak ingat apa yang Kakak lakukan padaku saat aku menolong temanku Arizal yang kesusahan mengikat tali sepatunya, dan karena itu kak Zevan menghukum aku untuk berjalan jongkok dua putaran di lapangan yang luasnya minta ampun itu, hah? Kak Zevan tidak ingat? dan Kakak tahu? Gara-gara hukuman itu kakiku menjadi bengkak tidak karuan dan lebih parahnya lagi aku sama sekali tidak bisa menggerakan kakiku semalaman, Mamaku hampir bingung harus bagaimana mengobati kakiku itu.” Ellva menjelaskan pada Zevan dengan sejelas-jelasnya. Zevan melongo heran dengan jawaban yang diutarakan Ellva, mungkin ia tidak percaya dengan apa yang baru saja Ellva katakan. Gadis itu tersenyum puas, puas sekali. “Apa katamu? jadi panggilan itu karena…” Zevan memandang Ellva tidak mengerti, mungkin kini ia merasa bersalah pada gadis itu. Ellva terkekeh kecil menatap Zevan yang masih terlihat bingung didepannya. Dan mungkin sebentar lagi Zevan akan meminta maaf pada Ellva, pikirnya. Tapi tentu saja tidak, gadis itu benar-benar salah menduga karena sebelum Ellva merasa benar-benar puas dengan apa yang baru saja dikatakannya kepada Zevan. Zevan malah membuat Ellva menjadi benar-benar yakin bahwa dirinya tidak pernah salah dengan julukan yang Ellva berikan kepadanya laki-laki itu. Senior kaki gajah!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN