Perang di Mulai

1272 Kata
Matahari timbul kembali, udara pagi ini begitu indah, sejuk dan menyenangkan. Mungkin itulah yang dirasakan Clyde teman Ellva pagi ini, karena Ellva rasanya benar-benar tidak bisa menikmati apapun dari tidurnya semalaman. Ellva merasa badannya pegal-pegal pagi ini, lehernya sakit dan matanya sedikit bengkak, bahkan lingkaran hitam pun bisa terlihat dengan sangat jelas di sekeliling matanya. Semalam Ellva tidak bisa menutup matanya dengan rileks, namun setelah berusaha dengan sekuat tenaga barulah jam empat pagi Ellva bisa menutup mata dengan sekejap, karena tiba-tiba tiga puluh menit kemudian Clyde sudah membangunkan Ellva lagi, membuat kuku-kukunya yang panjang bergerak cantik menusuk-nusuk tangan Ellva. "Astaga, Ellv. Apa yang terjadi padamu? kamu berantakan sekali." ucapnya ketika Ellva sudah mulai membuka matanya dengan perlahan. "Aku tidak bisa tidur semalaman Clyde, aku baru benar-benar bisa menutup mataku tiga puluh menit yang lalu sebelum kamu membangunkan aku." Jawabnya pasrah, mata Ellva berkedip perlahan, rasanya berat tidak karuan. "Ck, ck, ck, apa yang terjadi padamu Ellva? Semalaman aku tidak bisa menemukanmu, tapi karena aku sangat mengantuk jadi kuputuskan untuk tidur duluan. Dan aku benar-benar sangat terkejut ketika bangun sudah melihatmu tidur disampingku. Kuharap kau tidak marah padaku?" Clyde menangkupkan kedua tangan didepan d**a tanda permohonan, dan Ellva pun segera mengibaskan sebelah tangannya ke arah sahabatnya itu. "Tidak usah kamu pikirkan, aku sama sekali tidak marah padamu. Apa salahnya orang mengantuk? tapi tolong izinkan aku untuk menutup mataku kembali sebentar lagi saja. Hemm?" Pinta Ellva pada Clyde seraya berusaha kembali menelentangkan badannya yang terasa akan remuk ini. Namun sebelum badan Ellva tepat berada pada posisi yang diinginkannya Clyde mencegah Ellva dengan cepat. "Tidak bisa Ellva! kau harus bangun. Pagi ini kita ada acara lagi. Kecuali kalau kamu memang ingin terkena hukuman dari senior, maka kuizinkan kamu untuk terlelap lagi. Lagipu-." Ellva terbangun seketika mendengar ucapan Clyde, kemudian meninggalkan sahabatnya yang masih terduduk dengan kaget. ***** Setelah kejadian malam itu, ketika terjadi anjangsana rahasia antara Ellva dan senior kaki gajah, membuatnya menjadi sedikit agresif dengan kata-kata senior dan hukuman, dan Ellva benar-benar tidak akan pernah melupakan kalimat terakhir yang ditinggalkan Zevan padanya saat itu. 'Ok, aku terima kata-kata itu kalau itu bisa membuatmu puas. dan kau jangan menyesali apapun yang akan terjadi padamu nanti karena hal itu.' Ellva menggigit bibirnya tegang, lalu menghembuskan napasnya perlahan. Dia menunduk pasrah, "Fyuhh, baiklah, mungkin memang inilah yang akan terjadi padaku." Ellva berbicara pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Ellva, dari mana saja kamu? ayo, acara perpisahan akan segera dimulai, kita harus kembali ke posko utama." Clyde menarik lengan Noya dengan cepat dan mengajaknya kembali ke perkemahan. Disana Ellva melihat para junior sudah berbaris dengan rapi dengan tas punggung mereka dan para senior berdiri tegak didepannya, Zevan pun ada diantara barisan para senior itu, memakai jaket abu-abu dan celana jeans panjang, kaos putihnya ia biarkan terlihat. Wajahnya terpasang lebih ramah kali ini, 'apa memang seperti itu biasanya wajah laki-laki itu.' "Apa? a-apa yang baru saja aku perhatikan? apa aku tidak salah telah menilai cara berpakaian senior kaki gajah itu. Benar-benar memalukan! Tuhan, sepertinya aku sudah gila." Ellva berkata pada dirinya sendiri, lagi. Ellva tertunduk, kali ini lebih pasrah daripada sebelumnya. Clyde menyikut pundaknya, Ellva memandangnya sekilas lalu melangkah bersama menuju barisan kelompok mereka, kelompok burung bangau. Sesampainya disana Arizal menyapa Ellva pelan. “Bagaimana kabarmu, Ellv?" bisiknya kepada Ellva begitu gadis itu berdiri disampingnya. Ellva tersenyum kecut. “Apakah wajahku terlihat baik-baik saja?" jawabnya pelan pada Arizal tanpa memperhatikan raut wajah laki-laki di sampingnya. Arizal pun diam tanpa berkata apapun lagi, lalu yang Ellva dengar selanjutnya adalah penjelasan Clyde tentang Noya kepadanya. ***** “Ini adalah acara yang telah kita tunggu-tunggu bersama. Acara puncak dari masa orientasi siswa tahun ini." Toa yang di pegang Ragan itu menambah volume suaranya menjadi dua kali lipat lebih besar dari suara aslinya, para junior bertepuk tangan dengan meriah, begitupun dengan Clyde yang berdiri disamping Ellva. 'Benar-benar membosankan,' Ellva berbisik dalam hati. Ellva sama sekali tidak merasakan kesenangan apapun dalam acara ini, dia memandang lurus kedepan, kali ini pikirannya sedang kacau balau. Terdengar Ragan melanjutkan pidatonya, "Kami dari para senior mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua, junior yang dengan senang hati rela mengikuti acara orientasi siswa yang kami adakan selama seminggu kebelakang ini, bukan maksud kami untuk melakukan hal apapun yang tidak kalian sukai, namun ini adalah bukti keseriusan kami untuk melatih mental kalian agar benar-benar siap untuk bergabung dengan kami disekolah yang sangat kami cintai ini." Ragan menarik napas sejenak, pidatonya kali ini lebih semangat dan berapi-api, membuat mata junior tersihir dengan apapun yang dikatakan olehnya, bukan hanya itu, bahkan salah satu junior dari kelas bintang lima sampai menangkupkan kedua tangannya didepan d**a, tentu saja karena dia terlalu pandai dibohongi dengan kata-kata yang telah dirangkai semanis mungkin oleh para senior itu. Tentu saja karena sebagai seorang senior yang tergabung dalam keorganisasian OSIS sudah sepantasnya orang yang dipilih pun adalah orang yang pandai berorasi. Iya, seperti mereka ini. Ellva menghirup napas dalam-dalam, dan mengembuskannya dengan cepat. Dia berbisik pelan kepada Clyde, “Sampai kapan bualan mereka akan diperdengarkan seperti sekarang ini?" Ellva mendengus, dan sedikit mencondongkan kepalanya kesamping Clyde. Takut-takut kalau ada senior yang melihatnya mengobrol. “Ini bukan bualan Ellv, ini adalah tanda kedewasaan dari mereka." Clyde megacungkan telunjuknya kearah Ellva tanda meyakinkan, dan supaya gadis itu diam juga mendengarkan orasi Ragan didepan sana. Ellva mendesis, kali ini lebih keras dari pada sebelumnya, membuat beberapa pasang mata disekelilingnya memandang kepadanya dan mengingatkan untuk diam. 'Isshh, aku benar-benar kesal.' omelnya. Dua jam berlalu, sebelum akhirnya pidato itu benar-benar mencapai puncaknya. Matahari pun sudah berada tepat diatas kepala para siswa dan siswi, beberapa peluh mengucur dari tubuh Ellva dan membasahi sebagian dahi juga lehernya. Ellva menunduk kesal, setelah berkeliling dan berbaris untuk bersalaman dengan para senior, kini Ellva dan kelima temannya yang terkumpul dalam kelompok burung bangau membuat lingkaran kecil untuk terakhir kalinya untuk saling mengucapkan terima kasih kepada sesama team dan pembimbing mereka. Tentu saja dengan Zevan yang berada diantara mereka. “Aku mengucapkan terima kasih kepada Kak Zevan atas bantuannya selama masa orientasi ini, kami sangat berhutang budi." Faqih berkomentar pertama kali. Yang diikuti anggukan ketiga teman Ellva yang lain. “Aku juga," tambah Arizal. "Apalagi bantuan Kak Zev kepadaku juga Ellva yang tersesat dihutan saat itu, thanks, aku salut dan berterima kasih." Arizal menjabat tangan Zevan dengan hangat. Ellva menatap Arizal keki dan memutarkan bola matanya tanda sinis, Arizal hanya mengangkat bahunya kecil dan tersenyum kearah Noya. 'kapan aku pernah mengatakan terima kasih padanya?' bisik Ellva dalam hati. Zevan hanya tersenyum, dan terlihat menganggukan kepalanya. Entahlah, Ellva tidak tahu makna anggukan apa yang laki-laki itu berikan atas pernyataan Arizal barusan, hanya saja Ellva yakin bahwa itu bukanlah jawaban yang baik tentang pertolongannya. Clyde membuka tasnya cepat lalu mengeluarkan benda kotak berwarna deep purple dengan pita kecil di bagian kanannya. Clyde tersenyum kecil pada Ellva sebelum akhirnya melangkah mendekat kepada Zevan dan mengulurkan benda yang Ellva tahu adalah sebuah kado yang pernah sahabatnya itu ceritakan padanya. Zevan menatap kotak itu dengan bingung sebelum akhirnya mengambil alih benda itu dari tangan Clyde. "Apa?" tanya Zevan pelan. “Hadiah dari seseorang." jawabnya pelan. Dia lalu tersenyum kecil, tidak bisa dipungkiri memang, kalau senyum Clyde sungguh manis. Malah Ellva kira senyum itu terlalu manis rasanya. Tapi kenapa harus bertele-tele mengatakan kalau hadiah itu dari seseorang kalau ternyata dia sendiri yang memberikannya. Dasar Clyde. Ellva menggeleng-gelengkan kepalanya bingung, lalu beralih pandang kepada Zevan, dia masih memandang Clyde dengan ragu sebelum akhirnya dia bertanya pendek. “Dari?“ “Hadiah itu dari temanku, Ellva." jawaban Clyde benar-benar membuat mulut Ellva menganga sangat lebar. Dan sedetik kemudian Ellva mulai melihat tiga pasang mata memandang mengintrogasi dan satu pasang mata yang memandangnya dengan tatapan perang, Zevan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN