Daniel Atmaja

1097 Kata
Deru mobil di halaman depan membangunkan Ellva dari tidur malamnya, mungkin bukan benar-benar tidur malam karena sebenarnya Ellva baru bisa menutup mata saat jarum pendek jam bekernya tepat berada di angka tiga. Dirinya tidak mengerti kenapa mendadak menderita insomnia seperti ini. Ellva menguap sekali, lalu merentangkan tangannya lebar-lebar, mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan menahan kepalanya dengan lipatan kedua tangan. Ellva memejamkan mata, kemudian melakukan gerakan kecil dijari-jari kakinya. Berharap hal itu dapat mengalirkan darah ke semua syaraf tubuhnya lalu berakhir tepat di otaknya. Mungkin akhir-akhir ini Ellva banyak menghabiskan tenaga, entah itu tenaga yang keluar dari tubuhnya atau tenaga yang dipaksaan keluar dari setiap rongga tenggorokannya. Dua minggu telah berlalu sejak kejadian memalukan yang dilakukan Clyde kepadanya waktu itu, Ellva harus menjelaskan apapun yang bisa dilakukannya demi mengembalikan harga dirinya dihadapan Zevan. Tentu saja setelah meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya dari sahabatnya Clyde. Kejadian waktu itu benar-benar membuat berat badan Ellva berkurang beberapa kilo. Walaupun sebenarnya Ellva sangat mensyukuri kejadian kehilangan beberapa kilonya itu. Tapi tetap saja, harga dirinya didepan Zevan turun menjadi sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen, tentu saja karena satu persen yang didapatkan Zevan dari harga diri Ellva sangat berharga sekali. Apalagi setelah kejadian yang terjadi di lapangan basket. Astaga, rasanya Ellva benar-benar ingin sekali menonjok Zevan tepat dihidungnya saat pria itu mengatakan bahwa Ellva menyukai Zevan didepan teman-temannya. Jadi, ini yang pria itu maksud dengan perang dimulai. Sejujurnya Ellva juga sangat ingin menangis saat itu. Namun, Ellva menahannya sekuat tenaga, karena Ellva yakin jika dia menangis, dirinya sudah pasti akan ditertawakan oleh teman-teman Zevan. Andai saja, Ellva yang saat itu berada di Lapangan lebih lama tangisnya sudah pasti berderai. Untung saja Daniel segera datang lalu menarik lengan Ellva dan membawanya pergi menjauh dari sana. Iya Daniel, senior tingkat tiga sekaligus sepupu Zevan yang saat ini tengah dekat dengan Ellva, sebenarnya tidak bisa dikatakan dekat. Hanya saja Daniel yang lebih sering mendekati Noya, membantu Noya ketika dia dijahili Zevan, bahkan tidak segan pria itu mendatangi kelas Ellva jika kebetulan sedang jam kosong. Iya, setidaknya dia lebih perhatian dari pada si kaki gajah Zevan. Upps, benar-benar tidak sehat. Ellva, tolong jangan pikirkan Zevan pagi-pagi seperti ini! Batin Ellva menginterupsi. Tentu saja hal itu akan membuat mood Ellva rusak setelah semalaman hal itu juga yang telah berhasil merusak tidurnya. Ellva hendak menurunkan kakinya saat melihat pintu kamarnya terbuka perlahan dan menyembulkan kepala Mama dari luar. Mama menjerit ketika mendapati posisi Ellva saat ini. “Astaga Ellv? apa yang kau lakukan? cepat turunkan kakimu! kau membuat Mama takut." Eliana memekik tertahan sembari menutup mulut dengan tangan kanannya. Membuat Ellva menurunkan kakinya dengan sekali gerakan, dia segera melompat untuk mencium pipi Mamanya dengan cepat. “Ma, sepertinya aku sakit. Coba kau pegang dahiku, sepertinya aku demam. Boleh hari ini aku tidak masuk sekolah?" Ellva merajuk. Dia bahkan terbatuk kecil demi meyakinkan Eliana bahwa hari ini anaknya memang benar-benar sedang sakit. Eliana memegang dahi anaknya pelan kemudian mengangkat sebelah alisnya seolah-olah mencoba berpikir apakah Ellva benar-benar sakit atau tidak. Namun sedetik kemudian dia malah mendorong dahi Ellva kebelakang dan berujar. “Cepat mandi! pacarmu sudah datang menjemput." *** Ellva turun ke lantai bawah menuju meja makan lima belas menit kemudian, setelah Eliana memberitahunya bahwa pacar Ellva datang. Tentu saja ocehan Mama itu adalah omong kosong, karena Ellva tahu yang datang menjemputnya bukanlah pacar, melainkan Daniel, senior sekaligus sepupu Zevan. Ellva menggendong tasnya, lalu mencium punggung tangan kedua orangtuanya. "Kamu tidak sarapan?" Albert membuka suara. “Tidak, nanti saja dengan Clyde disekolah, lagi pula aku yakin dia membawa bekal yang banyak." jawab Ellva sekenanya. Ellva tersenyum kecil lalu mengencangkan dasi pitanya sekali lagi. “ Baiklah, aku pergi." Daniel melajukan motornya dengan perlahan, dengan Ellva yang duduk dibelakangnya. Helm yang Daniel berikan pada Ellva tidak di kenakannya, Ellva membiarkan anak-anak rambutnya terbang tertiup angin. Sebenarnya Ellva hanya tidak suka menggunakan helm, karena nantinya benda ini akan merusak rambutnya. Ellva menghela napasnya dalam-dalam, rasanya sangat menenangkan. Udaranyanya masih sangat segar untuk dihirup oleh paru-parunya. Ellva menoleh kearah depan, Daniel masih fokus dengan motornya, seluruh kepalanya tertutup helm, yang terlihat darinya hanyalah tengkuknya yang tegas. Tapi kadang-kadang Daniel juga sedikit berceloteh tentang dirinya. Yang hanya Ellva jawab dengan anggukan dan sekali-kali jawaban hem. Ellva tidak yakin sejak kapan sebenarnya dirinya bisa dekat dengan Daniel, juga sejak kapan tepatnya pria itu sesekali datang menjemputnya. Namun sebelum semua pertanyaan itu bisa terjawab Daniel mnghentikan sepeda motornya. Lima belas menit kemudian keduanya sampai diparkiran sekolah, Ellva turun dari sepeda motor Daniel, dan menyerahkan helm yang sedari tadi ia letakkan di pangkuannya. "Terima kasih." Ucap Ellva tanpa menoleh kepadanya. Daniel mengambil helm itu dan tersenyum kecil. “Sama-sama." jawabnya. Aku dan Daniel berjalan beriringan di lorong menuju kelas, kebetulan kelas Ellva dan kelasnya satu arah, hanya saja kelas Daniel ada di lantai dua, dan Ellva hanya perlu belok untuk masuk ke kelasnya saat Daniel beranjak menaiki tangga menuju kelasnya di lantai dua. “Bye Ellv. Have a nice day!" ujarnya seraya melambaikan sebelah tangannya ke arah Ellva. Ellva hanya mengangguk kecil dan berlalu menuju kelasnya. "Kau semakin dekat saja dengan Kak Dan. Kalian berdua pacaran?" Clyde langsung menginterogasi sahabatnya begitu Ellva duduk di sebelahnya. Tatapannya menyelidik, walaupun Ellva tahu pertanyaan itu bukanlah hal yang serius dia tanyakan. Ellva mencondongkan badannya, lalu menatap sahabatnya bingung. “Jangan bermimpi Clyde, ini masih pagi." Clyde mendengus pelan, dan menonjok bahu gadis yang duduk di sebelahnya dengan lembut. "Huh!" Ellva hanya tertawa kecil menanggapinya. “Jangan bicarakan hal yang sangat tidak mungkin untuk dibicarakan, Clyde!" Clyde melirik ke arah Ellva. “Kenapa tidak mungkin? berita tentang kamu pacaran dengan Kak Dan itu sudah ramai dibicarakan Ellv. Apalagi sekarang kamu sering terlihat bersama dengan Kak Dan, sampai di jemput dan diantar pulang segala. It’s not just a news, Ellv." Clyde menggelengkan kepalanya. “But it’s the best news. He likes you, you have to know it! Kamu harus sadar Ellv, Kak Daniel itu sudah memperhatikan kamu dari mulai Mos, bahkan ketika di perkemahan waktu itu. Dia satu-satunya orang yang tidak perduli pada orang lain, tetapi dia sangat perduli sama kamu, Ellv." Clyde mendecak-decakkan mulutnya. “Kamu saja yang tidak pernah menyadari hal itu. Aku yakin Ellv, siapapun akan mengatakan hal yang sama seperti yang aku katakan ketika mereka melihat tatapan Kak Dan kepadamu." “Aku tidak pernah memperhatikan." jawab Ellva pendek. “Lagi pula aku hanya menganggapnya sebagai Kakak kelas dan teman. No more!" Ellva menambahkan. “Suatu saat kamu pasti menyadari itu Ellv, asalkan hatimu belum tertutup oleh lelaki lain saja." Clyde menepuk punggung Ellva pelan, lalu menunjuk tepat di hatinya. “Siapa tahu saja ada orang lain disini." bisiknya pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN