Anna berlari hingga Gio hanya menyamakan langkah dengan si kecil. Karena tertinggal, akhirnya ia menggendong Anna untuk mengejar bosnya di depan. Airin melangkah cepat, hingga Gio harus mengejar ketertinggalan.
"Bu ... Bu Airin mau ke mana?" tanya pria itu setelah dekat.
Airin berhenti sebentar di depan sebuah toko dan membuka kacamatanya. "Nah, ini. Kita masuk ke sini saja." Ia melangkah masuk.
Gio memperhatikan toko itu. Ternyata itu toko yang menjual mainan. "Bu, kami cuma bermain, Bu ...." Ia ikut melangkah masuk.
"Tapi apa kamu tidak punya keinginan untuk mendapatkannya?" Airin menoleh sambil mendatangi rak boneka.
"Itu hanya nilai plus kalau kami menang."
Seketika Airin berhenti. Ia memutar tubuhnya ke arah Gio membuat pria itu berhenti mendadak. Gio jadi bingung bergerak.
Kali ini Airin melirik ke arah Anna kemudian Gio. "Anakmu ini siapa namanya?"
"Anna."
Airin menatap Anna sambil tersenyum manis. "Anna, kamu mau boneka yang ada di dalam kotak tadi, 'kan?"
Anna mengangguk. Ia tak kenal wanita yang ada di hadapannya, hingga tak berani bicara.
"Nah." Airin kembali menatap Gio. "Bagaimana kalau kamu tidak mendapatkannya sementara kamu sudah menghabiskan banyak uang?" Lebih baik beli saja langsung. Di sini." Ia menunjuk rak boneka. "Tinggal pilih. Malah lebih bagus lagi barangnya daripada tempat tadi."
"Maaf, Bu. Tadi kami hanya ingin bermain, bukan membeli barang." Terang Gio lagi.
"Di sini juga ada mainan. Pilih saja." Airin menunjuk ke arah lain. Namun kemudian datang Libina dan Juwita bersama anaknya menyusul. Airin terlihat terganggu. Ia menatap Libina dengan alis terangkat satu. "Kenapa kamu masih mengikuti kami?"
Libina segera sadar kehadirannya hanya mengganggu. "Eh, aku hanya mau pamit saja pada Gio." Ia menoleh pada Gio. "Gio, aku pergi dulu ya." Tanpa menunggu jawaban, ia segera pergi.
Juwita terlihat senang. 'Syukurin!' Padahal Airin juga merasa kesal dengan kehadiran Juwita, tapi ia tak mungkin mengusirnya karena Juwita adalah tetangga Gio. Walaupun begitu, Airin melirik Juwita dengan tatapan sebal.
"Eh, terima kasih, Bu, tapi lain kali saja." Gio berusaha menolaknya dengan halus.
"Lho kenapa? Aku mau beliin anak kamu mainan lho!"
Gio jadi salah tingkah. "Tidak usah, Bu. Maaf. Mainannya di rumah sudah banyak." Ia bingung bagaimana cara menolak pemberian bosnya karena ia juga takut wanita ini salah paham.
"Tidak apa-apa. Aku ingin membelikannya. Apa Anna tidak ingin punya boneka baru?" Airin kini bertanya pada Anna.
Anna terlihat bingung. Ia canggung sampai memiringkan kepala. Anna melirik ke arah sang ayah yang tengah menggendongnya.
Gio berusaha membesarkan hatinya. "Anna maunya apa? Mau boneka baru?" bisiknya pada Anna.
"Boleh gak, Ayah ...." tanya Anna malu-malu. Bibir kecilnya sedikit maju karena tidak tahu apa ayahnya membolehkan ia mendapat boneka dari wanita ini.
"Boleh. Mau yang mana, Sayang?" Gio mulai bergerak ke arah rak boneka. Mau tak mau ia terpaksa menerima pemberian Airin walaupun ia sebenarnya sungkan.
Airin terlihat senang. Anna memperhatikan boneka yang ada, sedang Gio bergerak di sekitar rak.
"Anna mau boneka bayi ini?" Gio menoleh pada putri kecilnya. Ia mengambil boneka bayi yang sedang mengedot.
Anna menggeleng. Ia bingung. Banyak sekali boneka yang lucu di sana.
"Bagaimana dengan ini?" Airin membawakan boneka kuda dari kain. "Kuda poni dengan buntut tujuh warna. Aku sempat lihat, boneka ini viral di internet." Ia menyerahkan pada Anna.
Gadis kecil itu dengan malu-malu menerimanya. Ia memeluknya dengan mata bercahaya.
"Anna mau ini?" tanya sang ayah muda ini memastikan.
Anna mengangguk senang. Gio mengambil kembali boneka itu. "Dibayar dulu ya."
Airin menyambarnya. "Biar aku yang bayar."
Mereka pun mengikuti Airin ke tempat pembayaran. Gio ikut antri di belakangnya. "Terima kasih ya, Bu."
Airin memutar kepalanya ke belakang sambil menyelipkan rambutnya yang panjang sebahu ke belakang telinga. "Sama-sama. Aku senang anakmu mau kubelikan boneka." Sekilas ia melirik Juwita. "Eh, kapan-kapan, bagaimana kalau kita janjian jalan-jalan juga?"
"Eh, apa?"
****
Anna terkekeh ketika Gio menggelitik telapak kakinya. "Ayah!" Ia menendang perut Gio hingga pria itu terkejut.
"Aduh!" Gio pura-pura kesakitan. "Kenapa anak ayah sadis sekali sih." Wajahnya dibuat sedih.
Anna yang hendak merengut malah tersenyum lebar. "Ayah sih, gelitikin terus kaki Anna. Geli, tau!"
"Habis, kamu ditanya gak jawab-jawab. Ayah mau masukin kamu ke sekolah SD islam. Jadi kamu mulai sekarang belajar pakai kerudung ya?"
"Gak mau, ah! Gerah." Anna merengut.
"Eh, kita 'kan beragama islam, jadi harus masuk sekolah islam, Sayang. Biar kamu tahu apa-apa yang harus kamu ketahui sebagai seorang yang menganut agama islam. Di sana semua perempuan berkerudung, Anna."
"Tapi Anna gak bisa kelihatan cantik, nanti." Anna menopang wajahnya dengan wajah lucu ke arah sang ayah.
Gio hampir tertawa. Di umur segitu, Anna sudah tahu artinya cantik. "Orang cantik pasti tetap terlihat cantik. Orang islam menyarankan anak perempuannya berkerudung karena itu aurat. Kamu mau ayah masuk neraka karena membiarkan anak perempuan rambutnya tidak ditutup kerudung?"
"Memang ayah akan masuk neraka karena Anna, Yah?"
"Iya, betul. Nanti ayah akan masuk neraka kalau ayah tidak mengajarkan agama yang benar pada anak-anaknya."
"Tapi kerudung nanti panaas ...." Anna masih mengeluh.
"Lebih panas lagi api neraka. Bagaimana, hayo?" Gio mengajarkan anaknya dengan suara lembut.
Anna masih merengut. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan sang ayah. Gio pun tidak memaksa. Sekarang Anna masih sekolah di TK. Sebelum masuk SD, ia berharap Anna mau mengenakan kerudung agar ia bisa memasukkannya ke sekolah islam.
Gio berbaring di sebelah Anna. Ketika ia mengusap punggung bocah itu, Anna berbalik dan naik di atas tubuhnya. Anna berbaring tengkurap dengan memeluk tubuh Gio. "Aku sayang Ayah."
"Mmh." Gio mengusap-ngusap punggung Anna sambil menepikan rambutnya yang panjang. Sebentar kemudian bocah itu telah tertidur. Begitulah cara Anna tidur bila ada sang ayah. Setelah yakin terlelap, Gio memindahkannya ke dalam selimut dan meninggalkan kamar.
****
"... jadi Saya akan menaikkan jabatan Gio sebagai kepala proyek di proyek apartemen Linggasih, ya."
Gio terkejut. Terdengar tepuk tangan dari orang-orang yang ikut rapat. Ia tak menyangka, diminta berdiri oleh Airin karena jabatannya kini dinaikkan. Ia senang sekaligus bingung dengan jabatan barunya. Rasanya ia bekerja santai-santai saja dan tidak mengukir prestasi, kenapa ia bisa naik pangkat secepat itu?
"Ok, selanjutnya kita lanjutkan rapatnya," sahut Airin lagi.
"Eh, terima kasih, Bu." Gio tak lupa berterima kasih pada bosnya.
"Eh, tidak apa-apa. Tapi nanti setelah rapat, kita briefing dulu," ucap Airin sedikit acuh.
"Baik, Bu." Gio kembali duduk.
****
Satu-satu anggota rapat keluar menyisakan Gio dan Airin. Ketika pintu tertutup, wanita itu seketika berdiri dan duduk di meja di samping Gio.
Gio sedikit bingung ketika sedang merapikan berkas, tapi tiba-tiba dikejutkan dengan tarikan dasi oleh Airin. "Eh!"
"Yang rapi pakai dasinya, Gio." Rupanya Airin merapikan dasi dan kerah kemejanya.
Gio sedikit canggung ketika dilepas. "Eh, terima kasih."
"Ayo, kita ke lokasi. Kamu sudah tau kurang lebih tentang proyek ini, 'kan?"
"Eh, iya, Bu."
"Ok. Kamu terangkan padaku sambil jalan. Biar aku yang menyetir."
Gio mengikuti Airin hingga ke mobil. Sambil mengikuti, ia menerangkan proyek itu sejauh pengetahuannya. Airin mendengarkan keterangan Gio sambil bertanya beberapa detail yang pria itu mungkin tahu. Setelah sampai ke lokasi, Gio memperlihatkan beberapa perkembangan pembangunan yang ada. Airin tak salah menaikkan jabatan Gio. Walaupun pria ini tampak tak berambisi tapi ternyata ia sangat detail dalam bekerja.
"Ok, setelah ini, tempat berikutnya." Airin tersenyum.
"Ke mana, Bu?"
"Hotel Park Hype."
"Ho-hotel?" Dahi Gio berkerut.
Bersambung ....