28. Pesta

1170 Kata

Juwita mengangkat wajahnya. Ada senyum yang sedikit menyeringai ke arahnya. Pandangan mata wanita itu benar-benar menghujam. Tajam hingga seperti ingin menembus ulu hati. Juwita gelagapan. Orang miskin seperti dirinya, bagaimanapun membela diri, adakah yang akan mendengar? "Eh, iya, Bu." "Bagi kami, pernikahan anak kami Gio itu penting karena ia sendiri yang memilih istrinya. Aku tak ingin karena nila setitik, rusak sussu sebelang. Kalau kamu menghargai Gio dan keluarga kami, tolong jangan ganggu Gio lagi!" "Eh ...." Juwita mengangguk dengan nada pasrah. "Iya, Bu. Maaf." "Tapi kami juga bukan orang jahat." Kae menyodorkan sebuah amplop tebal yang diletakkan di atas meja. "Aku tahu kamu butuh ini." Juwita menatap ke arah amplop itu. "Apa ini?" Ia berusaha berbicara dengan hati-hati, sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN