Rasa yang Salah
Vivian berdiri terpaku di depan mesin cetak, wajahnya memucat setelah melihat tumpukan kertas laporan transaksi harian yang mestinya tersusun rapi… kini berantakan dan tercetak dobel sampai hampir setebal buku telepon.
“Ya Tuhan…” bisiknya. Tangannya gemetar saat meraih kertas terakhir. “Ini pasti salah aku.”
Dia hanya ingin membantu, ingin terlihat cekatan di hari pertamanya sebagai karyawan magang. Semua orang terlihat sibuk, dan seniornya, Rina, meminta Vivian mencetak ulang laporan untuk meeting jam dua siang. Vivian menekan tombol print all, tidak sadar kalau file itu punya delapan lampiran tambahan yang ikut tercetak.
Dan sekarang, meja pusat cetak penuh kertas tak berguna.
“Vivian!” Suara Rina memotong keheningan dengan nada tajam.
Vivian tersentak. “Iya, Bu?”
“Apa kamu yang cetak ini semua?”
Vivian menelan ludah, jantungnya berdebar seperti hendak melompat keluar. “Iya, Bu… aku pikir itu satu file saja—”
“Kamu pikir? Kamu pikir?” Rina mendengus. “Ini kantor bank, bukan tempat coba-coba! Lain kali cek dulu sebelum menekan tombol. Kamu tahu ini buang kertas berapa banyak? Dan meeting Pak Hans butuh laporan yang benar, bukan gunungan sampah begini!”
Beberapa karyawan menoleh. Ada yang saling berbisik. Vivian memaksa tersenyum kaku, menahan panas di matanya. Tenggorokannya tercekat.
“Aku… aku minta maaf, Bu. Aku akan perbaiki.”
“Sudahlah. Minggir. Biar aku saja yang ulang. Kamu bersihkan ini semua!”
Vivian mengangguk buru-buru dan berjongkok, mengumpulkan kertas-kertas itu ke dalam kotak bekas. Suaranya tidak keluar, hanya derap napas yang berusaha ia stabilkan.
Dia berusaha kuat.
Hari pertama, masa mau nangis?
Tapi nyatanya dadanya sesak.
Satu kertas jatuh dari tangannya. Vivian meraihnya tapi gerakannya berhenti ketika melihat bayangan seseorang berdiri di belakangnya.
Seseorang dengan sepatu kulit hitam dan postur tegap.
Hans Ryanza, manajer bank, memandang ke bawah dengan alis terangkat tipis. Lelaki berusia 35 tahun itu tidak berkata apa pun selama beberapa detik, hanya menilai situasi dengan tatapan tajam yang begitu dikenalnya sejak kecil, tatapan yang biasanya penuh kehangatan, tetapi kali ini jelas menyimpan tanya.
“Vivian?” suaranya dalam, rendah, dan jauh lebih lembut daripada nada marah Rina tadi.
Vivian terpaku, kertas-kertas di tangan gemetar. “O-Om…”
Dia langsung meralat, terbata, “M—maksudku, Pak Hans… saya… saya minta maaf. Ini salah saya.”
Hans mengalihkan pandangan ke tumpukan kertas. “Apa yang terjadi?”
Vivian membuka mulut, tapi Rina langsung mendekat.
“Maaf, Pak Hans. Anak magang baru ini salah cetak. Saya sudah bilang padanya untuk cek file, tapi dia nggak teliti.”
Vivian ingin membela diri, tapi Hans mengangkat tangannya, meminta Rina diam. Tatapannya beralih pada Vivian, bukan menghakimi, melainkan meneliti. Menyelidik perasaan di balik mata Vivian yang mulai berkaca-kaca.
“Vivian,” katanya perlahan, “kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan sederhana itu membuat tenggorokan Vivian langsung tercekat.
Dia tidak ingin menangis. Anak magang tidak seharusnya terlihat lemah. Tapi selama bertahun-tahun, hanya Hans yang bisa membaca ekspresinya seperti buku terbuka.
“Saya… saya nggak tahu kalau file itu punya banyak lampiran,” jawab Vivian dengan suara lirih. “Saya benar-benar minta maaf.”
Hans mengangguk pelan, lalu menatap Rina. “Kesalahan seperti ini wajar di hari pertama. Jelaskan prosedurnya dengan benar. Tegur boleh, tapi jangan berlebihan.”
Rina terdiam, wajahnya kaku. “I-iya, Pak.”
Hans kembali melihat Vivian dan mencondongkan tubuh sedikit, suaranya merendah agar hanya Vivian yang mendengarnya.
“Jangan dipaksakan untuk kuat.”
Vivian menatapnya, matanya memerah. “Saya… saya bisa, Pak.”
Sudut bibir Hans terangkat sangat samar. “Baik. Tapi kalau ada yang kamu nggak mengerti, kamu tanya. Jangan menebak.”
Vivian mengangguk, menunduk cepat. “Iya, Pak.”
Hans berbalik dan pergi.
***
Hari pertama magang akhirnya selesai, tapi ruangan bank sudah lebih sepi dari sebelumnya. Para pegawai lain sudah pulang. Namun satu meja masih berpenghuni. Vivian duduk membungkuk, menyusun ulang berkas-berkas yang tadi kacau karena kesalahannya. Jemarinya bergerak cepat, tapi matanya terlihat lelah. Ini sudah lewat jam lima. Bahkan cleaning service sudah lewat dua kali.
Suara langkah sepatu kulit terdengar pelan dari arah belakangnya.
Vivian tidak menyadari.
Sampai suara itu berhenti persis di samping mejanya.
“Vivian.”
Vivian langsung tersentak kecil. “Om Hans! Astaga…”
Dia menutup mulut dan buru-buru berdiri, hampir menjatuhkan map di tangannya sendiri. Wajahnya memerah malu.
Hans memandang meja itu, lalu tatapannya kembali pada Vivian. Dingin tapi lembut. “Kenapa kamu belum pulang?”
“Aku…” Vivian menelan ludah. “Aku harus bereskan ini dulu, Om. Kesalahan aku tadi siang. Aku nggak mau meninggalkan masalah untuk besok.”
Hans menatapnya beberapa detik, seakan mencerna kata-katanya, lalu menghela napas pendek. “Vivian, lihat jam. Sudah pukul lima lewat empat puluh menit”
“O-Oh…” gumamnya.
“Sudah lewat jam kerja,” Hans berkata sambil menyilangkan tangan. “Kamu masih magang. Nggak perlu lembur. Itu tugas pegawai tetap.”
“Tapi Om—”
“Ayo pulang,” Potongnya. “Om tunggu di depan.”
Pipinya Vivian sedikit memanas tanpa alasan yang jelas. “Baik, Om.”
Hans tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya memberi anggukan singkat lalu berbalik, berjalan ke arah pintu depan. Vivian buru-buru menutup map terakhir, merapikan mejanya, lalu mengambil tas selempang kecilnya, lalu menyusul Hans dengan langkah cepat.
***
Interior mobil terasa hangat oleh cahaya sore yang masuk melalui kaca depan. Mesin melaju pelan di antara keramaian jalan pulang, sementara Hans mengemudi dengan tenang seperti biasanya. Vivian duduk di sampingnya, memeluk tas kecilnya.
“Jadi, gimana hari pertama kerja? Sulit, bukan?” tanya Hans membuka obrolan.
Vivian mengembuskan napas pelan. “Lumayan sulit, Om… Rasanya campur aduk. Deg-degan, malu, takut… semuanya jadi satu.”
Hans tertawa singkat, rendah. “Kalau tantemu tahu, dia pasti akan menertawakanmu.”
Vivian hanya menunduk, meremas ujung tasnya.
Lagi.
Deliana lagi.
Setiap kali mereka hanya berdua, Hans selalu menyebut nama istrinya dengan nada lembut, kadang bangga, kadang sekadar kebiasaan. Entah kenapa, d**a Vivian selalu terasa panas. Marah? Cemburu? Atau kombinasi keduanya, yang bahkan tidak berani diakuinya di depan diri sendiri.
Dia menggigit bibir, menatap luar jendela untuk menyembunyikan perasaan itu.
Lampu merah menyala. Mobil melambat sampai berhenti.
Tiba-tiba Hans bertanya santai, “Vivian, kamu tahu nggak tantemu lagi pengen apa sekarang? Tas? Sepatu? Atau liburan ke mana?”
Vivian mengerutkan kening. “Kenapa nanyanya ke aku? Kenapa nggak tanya langsung ke tante?”
Hans meliriknya dengan senyum kecil. “Ulang tahun pernikahan kami sebentar lagi. Jadi mau kasih kejutan. Delia pasti senang kalau aku nebak keinginannya tanpa dia minta.”
Vivian tersenyum hambar, hati tiba-tiba terasa kosong. Hans selalu berusaha. Selalu ingin membuat Deliana bahagia. Padahal Vivian melihat sendiri betapa dinginnya Deliana bersikap pada Hans saat di rumah.
Vivian menoleh ke luar jendela kanan untuk mengalihkan pikiran, namun seketika tubuhnya membeku.
Di luar sana, di sebuah restoran dengan kaca besar, terlihat sosok yang sangat dikenalnya.
Deliana.
Tantenya.
Duduk berhadapan dengan seorang pria berjas mewah, wajahnya tampan, berkelas, jelas bukan Hans. Pria itu mencondongkan tubuh. Deliana tersenyum. Dan mereka berciuman.
Tepat di depan mata Vivian.