Anara memasuki gedung dengan lima belas lantai yang dominan berwarna putih abu-abu. Gadis itu tersenyum ramah saat semua karyawan menyapanya dengan hangat. "Pagi, Bu Anara!" sapa resepsionis sambil menundukkan badannya, memberikan hormat pada Anara yang baru masuk kantor. "Pagi, semangat kerjanya ya kalian!" Anara itu sebenarnya orang yang humble, asik parah, dan banyak tingkah. Anara tidak pernah membedakan antara sekretarisnya ataupun karyawan yang biasa saja. Anara memandang semua orang sama rata. Menjadi seorang pemilik perusahaan di usianya yang dua puluh empat tahun membuat Anara dikenal dengan wanita cerdas nan cantik. Gaya yang selalu branded namun elegan klasik membuat Anara dijuluki fashionable. Apalagi wajah barat mendominasi gadis itu. Lebih tepat sebagai model sebenarnya. Dengan high heels lima senti yang ia kenakan, Anara melangkahkan kakinya anggun, memasuki lift lalu memencet angka sepuluh pada lift itu. Lantai sepuluh memang angka di mana ruang kerjanya berada. Entah mengapa Anara menyukai angka sepuluh, oleh karena itu ia selalu membuat ruang kerjanya berada di lantai sepuluh. "Pagi, Bu Anara!" sapa sekretaris Anara saat Anara keluar dari lift. Anara mengangguk sambil tersenyum manis membalas sapaan tersebut. "Ada kabar buruk pagi ini, Bu. Tender kita bersama perusahaan Pratama Group kalah. Yang memenangkan tender proyek tersebut malah perusahaan seberang." Mata Anara membola, kaget bukan main. Tender proyek yang selama ini ia idamkan jatuh ke perusahaan seberangnya? Enak saja! Padahal Anara sudah mati-matian berusaha memenangkan tender proyek tersebut. Dengan kepalan tangan yang mengeras, Anara berbalik badan, memasuki lift lagi dan memencet angka terbawah. Masa bodoh sekarang bagaimana, Anara akan melabrak tetangga kantornya itu. "Gue yang kerja keras, dia yang dapetin itu semua! Enak aja! Gak terima ya gue. Semenjak dia ada di seberang sana, perusahaan gue jadi kalah tender mulu. Banyak klien yang batalin kerja sama juga. Dia tuh bisanya cuma nyusahin orang doang. Merebut rezeki orang!" gerutu Anara sambil menendang pintu lift yang mulai terbuka. Semua orang yang ada di lantai satu menganga heran melihat Anara dengan wajah memerahnya keluar dari lift, jangan lupakan tangan yang terkepal sempurna juga. "Kalau ada yang mau ketemu saya bilang atur jadwal sama sekretaris dulu, ya. Saya sedang tidak menerima tamu untuk hari ini," pesan Anara sedikit lantang membuat sang resepsionis hanya mengangguk paham. Anara melanjutkan langkahnya, menyebrang jalan lalu memasuki kantor seberang dengan menggebrak meja. "Mana bos kalian?" tanyanya dengan geram. "Tuan Arga sedang tidak bisa diganggu, Nona. Ada keperluan apa Nona dengan Tuan?" Resepsionis itu nampak mengeratkan tangannya. Ia paham betul jika pemilik perusahaan di seberang akan membuat masalah di sini. Pasalnya berulang kali selalu seperti itu. Selalu meributkan banyak hal. Sering resepsionis itu dimarahi habis-habisan oleh Anara karena bekerja pada orang yang salah. Padahal apa salahnya? Sang resepsionis hanya berusaha mencari nafkah. Tidak ada maksud lain, tidak ada niat untuk menghancurkan perusahaan Anara juga. Namun, nampaknya Anara memang memiliki dendam kesumat pada perusahaan ini, sehingga sebaik apapun pekerja di sini menyapa, membantu Anara, jawabannya tetap sama. Endingnya tetap sama. Anara memang dendam. Anara memang tidak suka dengan perusahaan itu. Anara memang tidak menginginkan perusahaan itu ada di seberang perusahaannya. Anara memang benci jika ada seseorang yang berusaha menyainginya. Baik itu saingan dalam bentuk apapun. "Saya tidak tanya Tuan Arga bisa diganggu atau tidak. Saya bertanya di mana Tuan Arga? Cepat katakan!" teriak Anara semakin sarkas. Matanya yang mendelik tajam membuat semua pekerja di perusahaan Arga bungkam. "Ada apa ini? Ada masalah apa sehingga pagi-pagi seperti ini sudah membuat masalah di kantor saya? Apakah Anda tidak punya etika? Saya bisa saja melaporkan Anda ke polisi karena sudah mengganggu ketentraman perusahaan milik saya." Seorang pria tampan dengan tubuh tegap mendekati Anara. Rahang pria itu kokoh, bibirnya tipis, wajahnya perfeksionis, terlihat seperti pria blasteran. Arga Satria Megantara, seorang pria yang sedang berada di depan Anara. Pria yang sudah tiga bulan Anara benci karena mendirikan perusahaan di seberang kantornya. Orang yang membuat Anara memiliki dendam kesumat karena kliennya seperti direbut begitu saja oleh Arga. Pria yang kemungkinan usianya jauh lebih dewasa daripada Anara. "Lo udah rebut puluhan klien gue! Dan sekarang lo rebut tender proyek yang udah gue perjuangin mati-matian? Lo itu emang b*****t, ya! Bisa gak, sih, lo gak usah rebut apa yang udah jadi milik gue? Gue perjuangin itu mati-matian. Gue bisa bangkrut kalau kayak gini. Rezeki udah ada yang ngatur, jangan semena-mena dengan merebut segalanya." Anara dengan napas yang tersengal-sengal kembali mengepalkan tangannya, menceramahi Arga dengan wajah merah padam. Arga yang mendengar itu seketika mengernyit, tertawa sumbang membuat Anara merasa disepelekan. "Merebut apa yang sudah menjadi milik Anda?" tanya ulang Arga. "Tender itu bisa dimenangkan oleh siapapun. Belum ada tanda sah kalau Anda menang dalam tender itu. Saya juga sama-sama berjuang. Saya juga sama-sama bekerja mati-matian untuk tender itu. Jadi fair, dong? Masalah menang atau kalah itu takdir." Arga menjentikkan jarinya tepat di depan Anara. "Dan seperti yang sudah Anda katakan. Rezeki sudah ada yang atur. Tuhan memenangkan saya dalam tender proyek kali ini karena itu memang rezeki saya. Anda tidak ada hak untuk melakukan apapun. Hanya pasrah, dan mencari peluang baru. Saya rasa Anda berpendidikan tinggi, sehingga saya tidak harus menjelaskan apa kata tender proyek itu sendiri. Semuanya sama-sama berjuang, bukan hanya Anda. Semuanya sama-sama mencari peluang, bukan hanya Anda." Sial, bisa-bisanya Anara kicep karena omongan Arga. Ya memang tender proyek begini aturannya, tapi kan Anara selalu menang di tender-tender sebelumnya, maka tender kali ini juga harus sama. "Bisa gak, sih, lo pindah dari sini? Semenjak lo ada di seberang kantor gue, rezeki gue berasa dipatok ayam. Lo ayamnya!" sewot Anara dengan kaki yang dihentakkan ke lantai. Arga tersenyum sinis, wanita di hadapannya memang wanita gila yang memiliki dendam kesumat padanya. Padahal Arga tidak pernah melakukan apapun. Padahal Arga tidak pernah mencari gara-gara kepada wanita itu. "Pindah dari sini?" tanya Arga dengan remeh. "Memangnya ada urusan apa dengan Anda?" sambungnya. "Saya membeli tanah ini menggunakan uang saya sendiri. Otomatis tanah ini adalah tanah saya. Saya bangun kantor di tanah ini juga terserah saya. Ada alasan apa Anda mengusir saya di kantor dan tanah saya sendiri? Apakah Anda pemilik tanah sebelumnya?" Arga sama sekali tidak mengerti dengan pola pikir Anara. Anara itu gadis yang jauh lebih muda darinya, ia tahu itu. Tapi mengapa pemikirannya masih sangat kekanak-kanakan? Pemikiran Anara itu seperti anak kecil yang takut jika mainannya diambil oleh musuh. Pemikiran Anara itu dangkal, menurut Arga. "Ya karena gue ...."