Semua teman mamah sudah kembali ke rumah masing-masing. Anara dipanggil untuk duduk di ruang keluarga. Mamah dan papahnya juga berkumpul di sana, mereka menonton televisi ditemani dengan kue kering dan juga cokelat bersama. "Mamah denger Mikhaella mau menikah, ya, Ra?" tanya Eva yang mulai menyindir Anara nampaknya. Anara diam, paham mengenai arah bicaraan yang dimaksud. "Belum, baru mau tunangan," elaknya. "Sama aja kali, Ra. Kalau mau tunangan itu artinya ada tanda-tanda mau menikah. Kamu gak mau nyusul kayak Mikhaella? Semakin hari usiamu semakin dewasa, kamu gak harus siap, yang penting kamu mau belajar. Hidup ini perjalanan, Ra. Gak selamanya kamu stuck di satu kegiatan terus-menerus tanpa mencoba hal baru." Nah kan, apa yang Anara sampaikan benar. Anara sudah bisa menebak itu semua. Pasti semuanya berkaitan dengan pernikahan dan meminta Anara menikah. "Tapi pernikahan bukan sesuatu yang harus dicoba, Mah. Pernikahan itu salah satu hal yang sakral, kita gak bisa semena-mena sama pernikahan. Anara gak mau jadi janda, gak mau cerai, gak mau pisah. Anara mau menikah satu kali dengan orang yang tepat." Lagi-lagi Anara mengelak. Gadis itu tidak mau menikah muda dengan resiko yang beragam. "Tapi kamu harus inget, perjalanan kamu masih panjang, Ra. Kamu mau menikah di usia tua? Kamu sih bisa oke aja kalau menikah tua, tapi mamah sama papah gimana? Kamu gak mau memikirkan kami? Kami malu, kami kecewa, mungkin saja kami bisa pergi terlebih dahulu." Eva mulai memojokkan Anara, salah satu hal yang memang tidak Anara sukai. "Benar apa kata mamah kamu, Ra. Kamu harus merancang hidup, kamu harus punya tujuan dan resolusi. Masa iya kamu mau menikah di usia tua? Kamu gak mau beresolusi menikah seperti teman-teman kamu yang lainnya?" Damares yang memangnya pendiam mulai angkat bicara. Membuat Anara semakin terpojokkan. Tentu saja kalian paham bagaimana yang Anara rasakan, bukan? Pasti menyedihkan. Dipaksa menikah dan disindir terus-menerus, risih, sedih, merasa ingin membalas tapi percuma. Apalagi saat papahnya sudah angkat bicara, Anara jadi memikirkan, apakah Anara yang memang salah? "Mah, Pah, Anara ada keinginan menikah, kok. Tapi ya gak sekarang juga, karir Anara—" "Karir kamu udah bagus, Anara. Udah cukup kamu mendapatkan karir seperti ini, jangan mengejar kesempurnaan, karena manusia pada dasarnya gak ada yang sempurna. Dan satu lagi, manusia gak pernah bisa puas dengan apa yang dicapai. Selama apapun kamu mengejar, percuma, menyakitkan dirimu sendiri. Syukuri apa yang sekarang terjadi." Sebenarnya benar juga apa yang dikatakan Damares, manusia tidak ada yang sempurna dan tidak akan pernah merasakan puas. Jika kita mengejar kesempurnaan, hanya akan menyakitkan hati saja. Tapi masalahnya Anara belum siap. Anara masih ingin menikmati masa muda. "Jadi kapan kamu mau menyusul Mikhaella? Kapan kamu mau mengundang teman-teman kamu? Kapan kamu menyebarkan undangan? Gak malu apa mendapatkan undangan terus-menerus? Gak malu apa jadi tamu undangan terus-menerus?" sindir Eva kembali. "Secepatnya dan setepatnya. Jika Tuhan berkehendak, Anara pasti akan menikah kok." "Kehendak tanpa usaha adalah salah satu kesia-siaan. Percuma kamu bilang gitu kalau kamu masih diam di tempat tanpa mau memikirkan, tanpa mau mencari. Kamu udah ada pacar belum? Kamu udah ada calon yang harus dikenalin sama mamah sama papah belum? Belum, kan? Kamu belum usaha apapun. Kalau mau biar mamah yang cariin buat kamu. Kamu tinggal bilang pria idaman kamu itu seperti apa. Kamu tinggal bilang mau atau enggak sama pria yang mamah tunjukkan." Drama ibu-ibu. Bilang saja mau menjodohkan putrinya. Anara bukan anak kecil yang apa-apa harus dicarikan, oh ayolah. Anara juga bukan anak kecil yang meminta sembarangan. Ini adalah pernikahan. "Mah, ini bukan zamannya Siti Nurbaya yang nikah dijodohin, aku gak mau lah. Aku punya kriteria sendiri, dan cuma aku yang bisa mencarinya. Mamah tinggalin doain aja supaya Anara cepet dapet jodoh yang terbaik. Mamah gak usah ikut campur, deh!" sentak Anara dengan raut wajah murka. Pipinya memerah, bukan karena tersipu malu, tapi karena marah. "Anara ke kamar dulu!" pamit gadis itu lalu berlari ke kamar, merebahkan tubuhnya di kasur dan menangis sejadi-jadinya. Mengapa manusia selalu ikut campur masalah manusia lain, sih? Memang apa salahnya belum menikah di usia dua puluh empat tahun? Apa salahnya menikmati kehidupan muda? Apa salahnya berusaha mengejar mimpi? Apa salahnya mencari jodoh terbaik? Anara sangat ingin menikah, tapi tidak untuk sekarang. Anara masih ingin melakukan banyak hal di masa lajangnya. Masih banyak target yang belum tercapai. Anara ingin tenang saja untuk saat ini. "Apa salahnya belum nikah coba? Lagian masih wajar umur dua puluh empat belum nikah, belum punya pacar, belum ada tunangan. Masih wajar. Bukan suatu aib juga, kan? Kenapa malah jadi dipojokkan? Nanti pas udah dapet pacar ditanya kapan tunangan. Udah tunangan kapan nikah. Udah nikah kapan punya anak. Belum punya anak disangka mandul. Udah lahiran dibilang gak bisa rawat diri. Udah rawat diri dibilang gak rawat anak. Udah selesai semua tinggal ditanya kapan nambah. Emangnya mereka semua siapa sampai bertanya seperti itu? Tuhan udah atur semuanya dengan baik padahal. Gak perlu ditanya juga bakalan kejadian." Anara yang sebal langsung membuka ponselnya, melihat salah satu notifikasi muncul dari sang kekasih. Davendra Dio Renova [Malem, Babe! Lagi ngapain, nih? Kok aku telepon gak diangkat, sih? Sibuk, ya?] Dengan senyum yang mengembang sempurna Anara langsung membalas pesan tersebut. Anara Clarys Graceva [Malam juga, Babe. Aku lagi ada acara di rumah. Baru selesai, nih. Maaf, ya. Kamu sendiri abis ngapain? Kok dari tadi siang gak hubungi aku, sih? Masih ada masalah? Atau ada kesibukan lain?] Davendra Dio Renova [Iya, tadi ada masalah sebentar. Udah kelar, kok. Miss you, Babe. Kangen banget sama kamu. Yuk telepon!] Anara Clarys Graceva [Jangan dulu, aku lagi gak bisa telepon. Mataku lagi sembab, suaraku lagi serak, abis berantem sama mamah. Besok aja gapapa, kan? Besok kamu di kantor, gak? Makan siang di kafe bareng lagi, yuk.] Davendra Dio Renova [Oh oke, aku di kantor kok, ayo aja, sih. Mau di kafe biasa? Besok, ya. Aku ada masalah bentar, mamah lagi panggil aku. Bye, see you.] Anara Clarys Graceva [Oke, bye. See you!] Anara bangkit dari tidurnya, mendekati jendela dan menatap ke atas langit. Bintang yang bertaburan di sana sangat banyak sekali. Anara jadi flashback ke masa lalu. Dulu mamah dan papah sering sekali mengajak Anara tidur di balkon supaya bisa memandang bintang. Ternyata menjadi dewasa itu menyiksa, ya. Tidak mengenakan. Ada banyak ekspetasi yang membebani. Ada banyak realita yang tidak semanis ekspetasi. Ada banyak lagi masalah yang terus menghampiri. Jadi dewasa tidak semudah yang di pikiran Anara dulu, ternyata. Apalagi jika Anara kesulitan mencari pekerjaan, pasti jauh lebih menyiksa.