Anara menatap dirinya di depan kaca kamarnya, memakai gaun berwarna biru muda dengan perhiasan elegan membuat Anara semakin berwibawa. Gadis itu memoleskan sedikit lipstik ke bibirnya, walaupun acara malam ini adalah makan malam, ia harus terlihat cantik dan tidak pucat.
Setelah merasa sempurna, gadis itu keluar kamar dan melihat ada segelintir orang yang sudah datang, siapa lagi kalau bukan teman mamahnya. Mamahnya juga tampak bahagia menyambut semua temannya itu. Saling memeluk melepas rindu. Barang-barang branded yang terpasang di tubuh teman-teman mamahnya sudah menandakan bahwa mereka semua adalah sosialita. Ibu-ibu kalangan atas yang hobi berpesta ria.
"Anara, sini! Ayo sambut temen-temen mamah!" seru Nyonya Eva dengan melambaikan tangannya ke Anara. Anara pun langsung menghampiri mereka, bersalaman sebagai tanda sambutan saja.
"Lama gak ketemu makin cantik aja kamu, Ra. Kamu masih pegang perusahaan, kan?" tanya salah satu teman mamah, yang Anara ketahui namanya Tante Ayu.
Anara pun mengangguk sambil tersenyum simpul. "Masih, Tante," jawabnya sopan.
Tante Ayu hanya terkekeh kecil. "Cocok sama anak tante, dia juga pegang perusahaan gitu."
Kan, apa Anara bilang, makan malam ini bukan tujuan utama, yang utama adalah menyindir Anara menikah, menjodohkan Anara dengan anak dari mereka, menjodohkan Anara dengan banyak lagi lainnya, membandingkan Anara juga.
"Anara masih mau fokus ke karir dulu, Tante. Lagi gak mau mikirin nikah. Nikah kan hal yang sakral, enggak seharusnya ditempatkan untuk main-main. Lagian juga Anara masih belum siap untuk menikah." Anara menjawab sebisanya, berusaha untuk membungkam ibu-ibu sosialita yang mau menyindirnya nanti.
Salah satu teman mamahnya itu malah tertawa mendengar perkataan Anara, menepuk pundak Anara dengan gigi yang meringis. "Kamu ini terlalu naif, Ra. Tugas suami itu cari kerja, cari uang, jadi fokus ke karir itu ya tugas suami. Nanti kalaupun kamu menikah, kamu tinggal bersantai aja, urusin rumah masalahnya bibi, urusin anak masalahnya baby sitter, kamu tinggal belanja, arisan, hang out sana, hang out sini, jadi sosialita itu enak. Gak ada beban apapun. Gak usah mikirin apapun."
Anara tersenyum kikuk. Enak saja membalas perkataan Anara dengan seperti itu. Anara tidak bisa disamakan dengan mereka semua tentunya. Anara berbeda dengan mereka semua.
"Maaf, Tante. Anara emang mau jadi wanita karir, bukan cuma wanita yang bisanya menghabiskan uang suami. Mencari uang itu susah, dan tidak seharusnya kita habiskan dengan cara menghamburkan uangnya. Hidup kita harus tetap bergantung pada diri kita sendiri, jangan ke orang tua, jangan ke suami, jangan ke keluarga. Kita gak tau bagaimana rencana Tuhan. Mungkin Tuhan mau menjemput mereka semua terlebih dahulu, dan kita hanya sendirian, nanti kita juga yang kesusahan. Mungkin juga Tuhan memisahkan kita terlebih dahulu, suami kita minta cerai, dan kita kebingungan. Oleh karena itu karir dari kita perlu, gak selamanya kita harus bergantung kepada orang lain."
Mantap, perkataan Anara langsung membuat mereka semua bungkam. Bukankah semuanya benar? Yang mengerti dirimu adalah dirimu sendiri, bukan keluarga, bukan orang tua, bukan teman, bukan orang lain. Yang menjadi tempat bergantung adalah Tuhan dan dirimu sendiri, bukan semua orang.
Kita seharusnya belajar untuk mandiri, mengerti keadaan. Kita harusnya juga belajar untuk menjadi wanita tangguh yang tidak mudah terpancing apapun. Wanita itu diciptakan sempurna, bisa melakukan apapun. Jangan rendahkan wanita dengan cara berleha-leha seperti itu.
Melihat semua temannya bungkam, Eva pun langsung mengajak mereka langsung ke makan malam. Mereka menikmati hidangan dengan nikmat.
"Enak banget ini, Say. Siapa yang masak?" tanya salah satu teman mamah, Anara tak tahu namanya siapa.
"Bibi yang masak, kalau enak ayo dong ditambah. Masa cuma segitu doang makannya."
"Lagi diet, gak enak kalau makan banyak, nanti gemuk." Astaga, Anara ingin mengumpat sekarang juga. Diet di saat tubuhnya sudah seperti sapu lidi? Yang benar saja! Tubuh kurus kering seperti itu masih harus diet? Mau sampai apa tubuh ideal menurut mereka?
Maha benar ibu sosialita bersama dengan segala omongannya. Anara sudah lepas tangan, yang terpenting sekarang Anara aman.
"Kalau kamu mau sama anak tante gapapa kok, Ra. Udah mapan, kamu gak harus kerja lagi, gak harus cari uang lagi. Pokoknya kamu aman." Tante Ayu kembali menjodohkan Anara dengan anaknya. Memang sesempurna apa anaknya sampai harus dijodohkan dengan Anara?
"Gak, Tante. Anara belum mau menikah," balas Anara dengan senyum sesinis mungkin, menandakan dirinya sedang tidak mau membahas pernikahan.
"Kamu bisa pacaran dulu kok sama dia. Tenang aja, dia anaknya juga sabaran. Ganteng juga. Idaman pokoknya. Kalau kamu sama dia, kamu benar-benar mendapatkan sesuatu yang istimewa."
Sebenarnya Tante Ayu ini menjodohkan Anara dengan anaknya atau mempromosikan anaknya? Mengapa selalu membicarakan hal yang baik mengenai anaknya? Sebaik apa sebenarnya?
"Enggak, Tante. Anara masih mau fokus ke karir, gak mau terdistraksi sama banyak hal. Anara masih mau jadi perempuan mandiri. Anara masih bisa kok menjaga diri Anara sendiri, tanpa harus meminta bantuan siapapun. Lagian juga usia Anara masih muda, dua puluh empat tahun belum bisa dikatakan perawatan tua loh, Tante. Anara masih mau menikmati hidup. Anara masih mau menjalani banyak hal yang hanya bisa dilakukan oleh wanita yang belum menikah. Kehidupan masih sangat panjang."
Kalau Anara sudah menjawab pertanyaan dengan sebal, maka jawabannya pasti seperti itu. Damagenya bukan main. Anara pasti akan mengatakan banyak hal, mengatakan semua unek-unek yang ia pendam dari zaman terdahulu. Lagian Tante Ayu ini niat sekali menjodohkan Anara dengan anaknya. Sudah tahu Anara menolak, tetap saja bersikeras. Menyebalkan.
Benarkan, langsung kicep. Kalau Anara sudah menyadarkan mereka semua pasti langsung kicep. Memang benar, seharusnya omongan Anara selalu pedas supaya tidak ada yang bisa mempermainkannya. Apalagi merendahkannya.
"Anara mau ke kamar dulu, Mah, Pah, Tante. Anara pamit, ya."
Anara pergi meninggalkan meja makan, pergi ke kamarnya dengan hati yang sudah sebal. Makan malam ini selalu membuat Anara bergerutu tak menentu.
"Hih! Ngapain juga gue dipaksa nikah sama anaknya, sih? Gue males banget apa-apa dipaksa. Kalau gue gak mau ya udah gitu, ya. Gak usah berharap banyak. Gue males ladeninnya," gerutu Anara dengan tangan yang mengepal sprei kamarnya.
***
Sedangkan di meja makan, seorang ibu-ibu masih berkumpul, bercanda, tertawa bersama-sama. Mereka masih tetap menjadi ibu sosialita yang hobinya memamerkan barang-barang branded mereka.
"Waduh, Jeng. Gimana tuh sama Anara? Aku paksa selalu aja gak mau. Coba kamu paksa lagi, lumayan loh kalau dapet anakku. Kita bisa jadi besan. Keluarga kita bisa bekerja sama banyak hal. Kita juga bisa semakin erat persahabatannya." Ayu masih tetap mengajak Eva menjodohkan anak mereka. Eva yang setuju pun hanya bisa mengangguk.
"Tenang aja, nanti aku akan coba untuk yakini anakku, atau apa gitu."