“Itu tadi di sana ribut-ribut kenapa ya, Mas? Lagi ada acara kayak gini malah ribut-ribut. Gak elok banget dilihatnya.” Eva—wanita paruh baya yang sedang menikmati jamuan pertunangan langsung bertanya kepada suaminya yang berada tepat di sebelah wanita tersebut. Sedari tadi di tengah ruangan sana memang ada ribut-ribut sampai akhirnya dari suara orang-orang sekitar, Eva tahu jika sang mempelai wanita menangis tersedu-sedu. Namun tak ada sama sekali niat dalam hati Eva untuk menghampiri di sana. Ia sudah terlalu malas melihat drama.
Damares yang sama-sama malas melihat drama seperti istrinya pun hanya bisa mengangkat bahu tinggi-tinggi, sama sekali tidak tahu kejadian yang berlangsung tadi. “Selingkuh kali cowoknya,” sahut Damares sekenanya. “Biasa, godaan kalau menikah itu emang ada aja, ya. Semoga aja nanti Anara dapet laki-laki yang terbaik, enggak hobi selingkuh,” lanjutnya dengan berharap.
Eva setuju dengan Damares, memang godaan orang mau menikah sesulit itu. Ia pun mengalaminya sendiri. Ia pun pernah merasakan hal serupa, goyah dengan apa yang ia mau, goyah dengan rencana yang sudah fiks sebelumnya. Jadi, setan memang seringkali menggoda calon mempelai untuk gagal melakukan pernikahan. Untuk gagal melangsungkan ijab qobul dan janji suci.
“Kita ternyata udah semakin tua ya, Mas. Enggak nyangka kalau ternyata Anara udah sebesar ini, semoga aja secepatnya dia menikah dengan orang yang tepat.”
***
Acara pertunangan yang semulanya hancur entah apa penyebabnya akhirnya berlangsung jadi juga. Eva dan Damares yang notabenenya pasangan pun dengan sangat serasi langsung bergandengan tangan ke depan panggung sana, tempat di mana sang mempelai akan melangsungkan acara pertunangannya. Mereka berdua menyapa orang-orang di sekeliling yang mereka kenal. Tak dapat dipungkiri lagi, bisnis yang mereka bangun memang sangatlah sukses sampai banyak relasi yang didapatkan dari sana.
“Hai, Jeng!” sapa Nyonya Eva yang langsung mendekati sahabatnya. Tentu saja sahabatnya itulah yang memiliki acara ini, beliau yang mengundangnya. Putra beliau lah yang akan segera bertunangan. Sangat tidak etis sekali jika Nyonya Eva tak menyapa sang sahabat, bukan?
Wanita cantik dengan gaya yang sangat fashionable itu langsung menoleh saat dirinya merasa dipanggil. Ia langsung tersenyum sembari menepuk lengan sang sahabat dan tertawa renyah. “Baru keliatan nih, Jeng. Aku kira kamu enggak dateng, soalnya aku tau sih kamu lagi sibuk. Gimana ini acaranya? Kamu suka apa enggak sama acara pertunangan anakku? Ini semua bukan aku yang ngurus sih, cuman keluarga dari mempelai wanita yang ngurus semuanya,” sahut ibu-ibu sosialita tersebut. Bergaya sangat mewah sekali, terbukti dari perhiasan elegan yang tentunya sangat fantastis jika disebutkan harganya.
“Mewah banget! Aku suka banget sama semua acara di sini. Pastinya aku dateng ke sini, dong. Supaya nanti pas anak kita menikah kita bisa pakai acara kayak gini juga.”
Namanya Ayu, sahabat sejati dari Eva. Mereka berdua memang kerap kali menjodoh-jodohkan kedua anak mereka, padahal keduanya sama sekali tak pernah mau jika terlibat perjodohan konyol yang jelas-jelasnya hanya untuk memperikat hubungan ibu-ibu sosialita saja.
Damares yang notabenenya adalah suami dari Eva langsung menggeleng, meringis ngilu karena rupanya sang istri tetap bersikeras menjodohkan putrinya. Padahal berulang kali Anara sudah jelas-jelas menolak perjodohan itu. Namun Eva tetaplah Eva. Ia harus mendapatkan apa yang ia mau dengan mudah, tak peduli berapa kali orang lain menentangnya.
“Oh iya, nanti aku kenalin anakku ke anak kamu supaya rencana kita makin cepet terlaksana, ya. Lama banget nih rencanain tapi ternyata belum kesampaian juga. Nanti kalau emang udah waktunya, kita langsung gas aja,” sahut Ayu dengan sangat excited. “Kamu enggak sama anak kamu, Jeng? Dia lagi sibuk atau gimana? Kalau sama anak kamu kan kita jadinya bisa kenalan bareng-bareng gitu,” lanjut Ayu dengan senyum sumringah.
Eva menggeleng. “Kebetulan sahabat anakku lagi tunangan juga makanya anakku pergi ke acara tunangan sahabatnya. Sebenernya pengen aku ajak ke sini, sih, tapi ya gitu. Makanya gak bisa. Oh iya, Jeng, kalau boleh tau tadi itu ada apa ya? Kok sampai rame-rame gitu. Katanya juga mempelai wanitanya sampai nangis. Kebetulan aku enggak ke sana buat liat, males berkerumun, tapi penasaran hehe.”
Namanya juga manusia, terlebih manusia berjenis kelamin wanita, yang namanya penasaran merupakan hal yang sangat wajar. Yang namanya ingin tahu pun begitu. Tak peduli apakah menyinggung pihak yang ditanya atau pun tidak, langsung saja asal bunyi dan buka suara.
“Oh itu, tadi ada sahabat calon mantuku yang ke sini, dia pas ketemu sama anakku bilang katanya anakku itu pacarnya. Enggak tau deh ceritanya gimana, aku gak ngerti. Jadi semacam anakku selingkuh, padahal aku gak yakin kalau anakku selingkuh. Anakku itu anak yang baik-baik.” Ya namanya juga seorang ibu pastinya akan membela anaknya, terlebih nama baik anaknya seketika hilang. Tentu saja Eva paham apa yang dialami sang sahabatnya itu. “Semuanya sekarang udah oke, kok. Cewek yang ngaku-ngaku itu juga udah pergi, tunangannya juga bakalan tetep jadi,” lanjut Ayu dengan wajah manis penuh senyuman.
Syukurlah, jika seperti ini Eva bisa bernapas lega. Ia akhirnya bisa tahu permasalahan apa yang tadi terjadi. Pun semuanya sekarang sudah baik-baik saja jadi tak perlu khawatir untuk semuanya.
“Jeng Ayu! Acaranya ud—“ Seorang wanita yang semulanya berlari ke arah Ayu seketika menghentikan langkahnya tepat di hadapan Eva. Ia langsung melotot penuh tidak percaya melihat Eva di sini. “Loh, Eva? Kamu ngapain di sini? Bareng sama Anara, kah?”
Itu Astrid, ibunda dari Mikhaella. Wanita tersebut tampak akan memanggil Ayu namun kaget dengan kehadiran Eva. Pun sebaliknya, Eva juga sangat kaget saat ada Astrid di sini. Sedang apa seorang ibu dari sahabat putrinya di sini? Apakah memang salah satu sahabat dari Ayu juga sampai turut diundang? Atau bagaimana?
“Aku diundang sama Ayu sih di sini. Anara ke sini? Ngapain? Aku enggak ngajak dia kok. Bukannya dia lagi dateng ke acara tunangannya Mikhaella, ya? Tunggu ... Mikhaella tunangan di sini? Kalian bakalan jadi besan? Astaga! Aku sama sekali enggak tau! Kalau tau aku pasti dateng sama Anara tadi!” sahut Eva sangat excited. Sungguh, dirinya sama sekali tak menyangka jika ternyata dunia sesempit ini. Memang dunia itu unik sekali, ya. Bisa mempertemukan para relasi kita dalam waktu bersamaan.
“Anara buat rusuh acara ini tadi. Dia jadi orang ketiga di dalam hubungan Mikhaella sama Va. Aku kecewa banget sama Anara. Sekarang dia udah pulang karena aku usir. Aku minta tolong banget sama kamu sama Damares ya, Anara cariin jodoh yang baik supaya enggak hancurin hubungan orang lain apalagi sahabatnya sendiri.”
DEG!!!
Mata Eva serta Damares seketika langsung melotot mendengar ucapan yang disampaikan oleh Astrid. “Apa? Anara jadi orang ketiga?”