21. Malam Pertunangan

1061 Kata
DEG!   Seketika pasokan udara di sekitar terasa menghilang begitu saja, d**a Anara naik-turun dengan tatapan menganga tak percaya. Gadis cantik nan manis itu terus menggeleng, menampar pipinya sendiri, memastikan jika yang ada di depannya ini adalah sebuah mimpi semata. Ayolah, ini hanya mimpi, kan? Anara ada di alam mimpi, kan? Siapa pun tolong katakan iya pada Anara, Anara mohon!   “Dave?” beo Anara dibarengi dengan air mata yang berlinang. Tubuh gadis tersebut langsung merosot dan terkulai lemas di lantai. Matanya memerah, menangis dengan perasaan sakit luar biasa. Apa-apaan ini, Tuhan? Mengapa menjadi seperti ini? Malam ini merupakan malam yang sudah dinantikan oleh Anara, tetapi mengapa menjadi malam yang sangat menghancurkan? “Lo salah orang kan, Mik? Bukan dia Mas Va yang lo maksud kan, Mik?” tanya Anara dengan penuh tekanan. Wanita tersebut terus menggoyangkan lengan sang sahabat guna meminta penjelasan dengan segera.   Bingung, tentu saja itulah respon yang saat ini Mikhaella lakukan, tak mengerti mengapa tiba-tiba saja Anara menangis dan menganggap dirinya salah orang. Gadis cantik yang malam ini akan bertunangan itu seketika langsung menatap ke arah Mas Va, rupanya Mas Va juga sama kagetnya menatap Anara. Ya Tuhan ... ada apa ini? Mengapa saat dirinya mengenalkan calon suaminya dengan sang sahabat, keduanya saling terkejut?   “Kalian kenal? Dia calon suami gue, Ra. Dia Mas Va yang selalu gue ceritain itu,” sahut Mikhaella dengan penuh keyakinan, tak lupa juga Mikhaella menunjuk ke arah Mas Va guna menjelaskan segalanya. “Lo kenapa, sih? Kenapa lo tiba-tiba nangis gini?”   Hancur sudah. Tak perlu dijelaskan betapa hancurnya Anara saat ini. Rasanya Anara ingin menangis sekencang-kencangnya, rasanya Anara ingin mengatakan kepada dunia jika ia sedang tidak baik-baik saja. Ia sedang terluka. Bagaimana tidak terluka jika ternyata sang kekasih yang selama ini ia sembunyikan, kekasih yang selama ini sangat ia sayangi dan cintai ternyata merupakan calon suami dari sang sahabatnya sendiri.   “Dia enggak boleh nikah sama lo, Mik! Lo enggak boleh nikah sama dia! Dia pacar gue! Dia orang yang gue cintai! Lo enggak boleh tunangan sama Dave!” teriak Anara dengan sangat lantang, seketika langsung membuat semua atensi mengarah kepadanya. Make-upnya yang sudah sangat hancur akibat air mata pun sudah tak lagi ia pedulikan. Rambutnya yang seketika rusak pun sudah tak lagi menjadi prioritas utama.   Ya Tuhan ... ini semua tak boleh terjadi. Anara sangat tidak mau sekali jika Mikhaella bersama dengan kekasihnya. Anara sangat tidak mau sakit hati dengan melihat mereka berdua bersama di hadapannya. Tidak boleh!   “Kamu ke mana aja selama ini Dave? Kamu marah sama aku? Kamu kecewa sama aku? Kamu bosen sama aku atau gimana? Kamu cuman milik aku, Dave! Aku enggak mau berbagi walaupun itu semua sama sahabatku sendiri. Tolong jangan kayak gini, Dave. Jelasin semuanya ke Mikhaella kalau kamu sebenarnya sayang sama aku. Tolong jelasin sama dia kalau kamu lebih milih aku.”   Bodoh, sebenarnya apa yang Anara harapkan dari pria bodoh seperti ini? Sebenarnya apa yang Anara inginkan dari pria yang hobinya berbohong seperti ini? Tidak ada, bukan? Lantas sekarang mengapa Anara sampai mohon-mohon di hadapannya. Lantas sekarang mengapa Anara terlihat seperti w************n?   Lihatlah sekarang, bahkan pria b******k itu tidak melakukan hal apa pun juga. Bahkan tak mau menatap manik mata Anara yang sudah menangis dengan pilu. Memang pria b******k!   PLAKKK!!!   “Cewek murahan! Jadi selama ini lo yang jadi selingkuhan calon suami gue? Gue sama sekali enggak nyangka sama lo ya, Ra! Gue kira lo sahabat gue yang paling baik. Gue kira lo enggak bakalan makan temen. Tapi apa? Kenyataannya enggak kayak gitu! Kenyataannya lo malah mau jadi orang ketiga di dalam hubungan gue sama dia. Lo sahabat munafik! b*****t!”   Mari kita lihat dari sudut pandang Mikhaella. Terkejut? Tentu saja. Bahkan bukan main. Ia sama sekali tak mengira jika sahabatnya sendiri bisa berlaku semunafik ini. Ia sama sekali tak mengira jika Anara adalah orang ketiga di dalam hubungannya. Bertahun-tahun Mikhaella percaya dengan Anara, tetapi ternyata yang terjadi justru seperti ini. Hancur, hancur sekali perasaan Mikhaella. Hari pertunangan yang ia pikir akan indah dan menyenangkan ternyata berantakan. Hatinya sakit sekali. Hari ini begitu menyakitkan.   “Gue benci sama lo, Ra. Gue benci banget sama lo!” Seketika tangis Mikhaella pecah. Matanya memerah dengan tatapan kosong nan tak percaya. Make-up cantik yang menghiasi wajahnya ternyata berantakan juga. Semuanya benar-benar membuat Mikhaella kecewa.   “Mikhaella!” Setelah sekian lama bungkam, akhirnya sang b******k pun bersuara. Ia langsung memeluk Mikhaella dan membawa wanita cantik itu duduk.   Lagi, rupanya Anara kalah. Rupanya Anara tidak dipilih oleh Dave yang berstatus sebagai kekasihnya. Seharusnya memang sedari awal Anara sadar jika ia hanya wanita yang dipermainkan saja. Terbukti, kan? Mikhaella diseriusi namun Anara ditinggal begitu saja. Anara dighosting. Jadi sangat tidak mungkin jika Anara menjadi pemenangnya.   “Anara ... tante sangat kecewa sama kamu. Tante kecewa kalau kamu ternyata orang ketiga di dalam hubungan Mikhaella dengan Va. Kamu itu sahabatnya Mikhaella. Kamu itu orang yang sangat Mikhaella percaya. Tapi ternyata apa? Ternyata kamu malah mengkhianati dia. Ternyata kamu malah membuat Mikhaella sakit hati. Sekarang kamu bisa pergi dari sini! Kamu enggak perlu lagi dateng ke sini. Persahabatan di antara Mikhaella dengan kamu udah putus. Kamu yang menghancurkan segalanya. Kamu yang membuat semua pesta ini hancur juga. Tante kecewa banget sama kamu.” Astrid, ibu dari Mikhaella yang selama ini juga turut menyayangi Anara rupanya setelah tahu ini semua malah membenci Anara. Wanita paruh baya itu mengusir Anara dari sini, membuat Anara tersadar jika dirinya sudah hancur dan sudah benar-benar sendiri. Anara sudah tak memiliki Mikhaella lagi.   Perlahan namun pasti, Anara langsung berdiri. Mengusap semua air mata yang sudah mengalir deras di pipinya. Merasakan sakit yang luar biasa atas semua luka yang saat ini terasa. Menyeret kakinya dengan mata kosong, Anara langsung keluar dari rumah mewah ini. Kejadian barusan terus-menerus berputar di otaknya, menyayat perih hatinya yang memang sudah benar-benar koyak. Mulai malam ini semuanya berubah, semuanya sudah sangat hancur sekali. Mulai saat ini tak ada lagi Mikhaella yang setia bersama dengan Anara. Tak ada lagi Astrid yang menjadi ibu kedua baginya, tempat berbagi keluh kesah saat ibunya sendiri tak lagi mampu mendengarkan semua ceritanya. Tak ada lagi juga Dave yang selama ini selalu mencintai Anara dengan segenap hati. Semuanya sudah benar-benar hancur berantakan. Semuanya sudah benar-benar tak lagi bisa Anara genggam.   “Malam yang buruk,” gumam gadis pilu yang terus saja menggeret langkahnya sampai memasuki mobil. “Malam yang sama sekali tidak ingin aku jumpai.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN