Anara sudah siap dengan gaun putih yang melekat di tubuhnya yang ramping. Make-up tipis yang ia kenakan juga mempercantik penampilannya kini. Malam ini adalah malam yang paling membahagiakan bagi Anara, malam yang akan sangat berarti. Anara akan melihat bagaimana sahabatnya yang tersayang melaksanakan tunangan. Anara juga akhirnya akan melihat sahabatnya memperkenalkan calon suami. Dengan penampilan yang sudah elok dipandang, Anara keluar dari kamarnya, lalu mengernyit kala melihat sang mamah dan papah sudah siap dengan pakaian rapi. Mereka akan ke mana? Apakah mereka akan pergi ke acara lamaran Mikhaella? Apakah Mikhaella mengundang mereka? "Loh kamu mau ke mana?" tanya Nyonya Eva dengan wajah yang bingung melihat putrinya sudah rapi. "Aku? Mau ke acara tunangannya Mikhaella. Kan malam ini acaranya. Mamah sama papah sendiri mau ke mana?" tanya balik Anara. "Mau ke acara temen mamah. Kalau gitu kamu ke acara tunangannya Mikhaella aja, ya. Jangan lupa sampaikan salam ke dia. Mamah sama papah selalu doain dia, semoga kamu cepat menyusul juga." Ujungnya tetap sama, ujungnya tetap membahas kapan menyusul. Dengan terpaksa Anara tersenyum, mengangguk, dan langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya. "Mah, Pah, Anara pamit dulu, ya! Mamah sama papah hati-hati di jalan. Jangan sampai kebut-kebutan. Pokoknya selalu hati-hati. Oke?" "Oke, kamu juga hati-hati, ya. Titip salam buat Mikhaella sama tunangannya." *** Anara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tangan satunya meraih ponsel dan mengetikkan pesan singkat untuk Dave. Ya, walaupun Arabela sudah mengatakan untuk menjauhi Dave, Anara sama sekali belum bisa sekuat itu. Anara sama sekali belum bisa sehebat itu. Semuanya butuh proses, dan Anara akan melakukan perlahan. Semoga saja, jika Dave memang benar-benar jodoh yang Tuhan kirimkan kepada Anara, Tuhan memberikan jalannya dengan segera. Malam ini Anara pastikan akan tersenyum senang menyambut segalanya. Malam ini Anara pastikan akan menjadi malam yang paling luar biasa. Anara pasti akan turut bahagia dengan pertunangan Mikhaella. Mik dan Va, itulah yang Mikhaella sampaikan di kartu undangan pertunangan mereka. Entah bagaimana rupa dari Mas Va yang selalu Mikhaella bangga-banggakan, semoga saja Mas Va tersebut adalah orang yang terbaik untuk Mikhaella. Semoga saja bahagia selalu menyertai mereka berdua. Semoga saja pernikahan akan menjadi titik akhir dari kisah mereka. Aamiin. Anara berharap sahabatnya akan selalu bahagia. Dua puluh menit sudah berlalu, saat ini Anara sudah sampai di rumah yang akan menjadi saksi bisu segalanya. Rumah yang akan menjadi saksi bisu pertunangan Mikhaella. Ya, rumah Mikhaella sendiri. Rumah dengan tiga lantai itu sudah ramai didatangi oleh mobil-mobil mewah, parkiran yang luas dapat menjelaskan segalanya. Hawa bahagia langsung muncul kala melihat pemandangan sekeliling. Ada bunga yang bermekaran di mana-mana, ada bunga yang mekar seperti cinta dari Mikhaella dan juga Mas Va. Anara turut bahagia. Anara memasuki rumah Mikhaella dengan bingkisan cantik di tangannya, menemukan kedua orang tua Mikhaella membuat Anara berpikir untuk menyapa mereka terlebih dahulu. "Malam, Om, Tante!" sapa Anara pada Bagas dan Astrid, membuat Bagas dan Astrid menoleh dan tersenyum bahagia. "Astaga, Anara! Tante kangen banget sama kamu. Kamu tuh lama banget gak main ke sini, sih? Kenapa coba?" tanya Astrid dengan memeluk Anara. Anara memang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Astrid. Astrid menyayangi Anara dan Mikhaella tanpa membeda-bedakan apapun di antara mereka berdua. "Maaf, Tante. Anara kemarin-kemarin ke sini, kok. Cuma kata Mikhaella tante sama om lagi pergi, ya?" Ya, benar. Bukankah saat itu Anara ke sini? Anara tidur di kamar tamu, Anara sempat minta makan ke Mikhaella tapi ujungnya diusir juga. Kejam memang. "Ah iya, maaf, ya. Tante sama om waktu itu lagi mempersiapkan ini semua. Biasalah, sibuk. Kamu apa kabar? Baik, kan?" Astrid itu tipe ibu yang care parah kepada siapapun. Semua orang pasti akan dibuat nyaman oleh Astrid. "Baik, Tante. Tante sama om sendiri gimana?" tanya balik Anara. "Om sama tante baik, kok." Bukan, itu bukan suara dari Tante Astrid, itu adalah suara dari Om Bagas. "Oh iya, Anara, om pergi ke sana dulu, ya. Mau nyambut temen om. Kamu ngobrol sama Tante Astrid aja." "Kamu kapan mau nyusul Mikhaella nih, Ra? Udah ada calon, kan?" Semua ibu-ibu itu memang sama, ya? Tidak ada bedanya. Selalu membahas pernikahan, pertunangan, nyusul, dan lain sebagainya. Membuat mood Anara hancur saja. "Ada sih, Tante. Cuma Anara mau fokus ke karir dulu, Anara juga mau fokus ke pendidikan. Doain Anara aja ya, Tante. Semoga secepatnya bisa menjawab pertanyaan tante. Untuk saat ini Anara lagi cari informasi tentang S2." "Wah, cerdas sekali kamu, Anara. Tante sampai salut banget sama kamu. Nanti jangan lupa kasih tau tante kalau tunangan, ya. Pokoknya kamu harus undang tante." "Siap, Tante, hehe. Oh iya, Mikhaella di mana ya, Tante?" tanya Anara berniat mencari Mikhaella. "Dia ada di kamar, masih belum boleh keluar sebelum acaranya dimulai, kan dimulainya masih lama. Kamu ke kamar dia aja." "Oke, Tante. Anara pamit, ya." Dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya, Anara melangkahkan kakinya menuju kamar Mikhaella, menemukan Mikhaella yang sudah rapi dan cantik dengan softlens berwarna abu-abu. Tidak seperti biasanya, kini Mikhaella lebih memilih memakai softlens. "Hei yang mau tunangan! Apa kabar, nih?" tanya Anara dengan memberikan bingkisan yang ia bawa. "Anjir, Nara! Untung aja lo dateng ke sini. Gue mau nangis, gue deg-degan parah. Semuanya akan baik-baik aja, kan, Nar? Gue tremor." Gugup, itulah yang sedang Mikhaella rasakan, tubuhnya bergetar juga. Apa Anara akan mengalami hal seperti ini juga nantinya? "Santai aja. Semuanya bakalan terjadi sesuai yang lo mau kali, Mik. Udah, tarik napas, buang, gitu terus sampai berulangkali." "Ra, sorry ya kalau selama ini gue belum bisa jadi sahabat yang baik buat lo. Sorry kalau selama ini gue masih kekanak-kanakan, gue masih selalu ngambek sama lo, gak guna di saat lo butuhin gue, atau apapun itu. Maaf ya kalau selama ini gue gak bisa jadi semua yang lo mau, semua yang lo minta. Gak ada sahabat gue yang paling mengerti gue selain lo. Lo itu segalanya bagi gue, Ra." "Gak masalah lagi, Mik. Lo santai aja. Lo juga segalanya, kok. Lo juga baik banget ke gue. Lo yang paling mengerti gue. Pokoknya lo harus bahagia. Lo harus mendapatkan takdir yang baik, oke? Jangan nangis, dong. Lo pasti kuat. Ayo, yang mau tunangan." "Gue bakalan kenalin lo sama Mas Va, ayo keluar. Dia tuh orangnya baik banget, sebaik itu sampai gue percaya dan yakin sama dia." Mikhaella menggeret tangan Anara, keluar dari kamar Mikhaella dan memasuki ruang yang sudah dipadati para tamu. "Nah itu Mas Va! Ayo!" Kembali menarik tangan Anara, Mikhaella lalu menghentikannya tepat di belakang pria yang jangkung. "Mas Va!" panggil Mikhaella sambil menepuk pundak pria jangkung tersebut, membuat sang empu langsung menoleh ke belakang. DEG!!!