Usai mengalami semua drama dengan Arga, akhirnya Anara bisa sampai di rumahnya. Gadis itu ditanyai macam-macam tentang seharian ke mana saja, ngapain saja, dan banyak lagi lainnya. Sang sepupu, Arabela, sedang berada di samping Anara, memberikan warna pada kukunya. Anara sampai heran, tidak Arabela, tidak Mikhaella, sama-sama menyukai cat kuku. Apa sih bagusnya seperti itu? Biar kukunya cantik? "Ra, lo kapan nikah? Gue aja bentar lagi nikah, udah tunangan lama. Lo gak mau nyusul?" tanya Arabela dengan santainya, seolah-olah pertanyaan tersebut tidak melukai hati Anara. "Nunggu waktu yang tepat," jawab balik Anara. Semuanya sudah ada yang atur, kan? Dengan mereka bertanya, tidak akan mengubah apapun. Takdir Tuhan tidak sebercanda itu. "Nunggu waktu yang tepat tapi gak usaha juga sama aja bohong. Lo gak akan nemu jodoh kalau lo gak mencari. Ayolah, Ra, lo sama gue itu tuaan lo. Seharusnya lo udah menikah. Masa iya gue langkahin lo, sih?" Anara memutar bola matanya. "Ya udah kalau lo gak mau langkahi gue, lo jangan nikah dulu. Gampang, kan? Jangan dibuat ribet deh, Bel. Gue males banget bahas itu terus-menerus." Arabela yang mendengar ucapan tersebut dari sang sepupu pun mengerti, mengunci mulutnya rapat-rapat supaya tidak menyakiti hati Anara lagi. Jujur, Arabela ingin yang terbaik untuk Anara. Arabela ingin Anara bahagia di waktu yang cepat, namun Anara menolak, ya sudah, Arabela bisa apa ya kan? "Kalau gue terima perjodohan mamah gue gimana ya, Bel? Dia jodohin gue sama anak dari temennya. Gue belum pernah ketemu dan belum tau wajahnya, apalagi sifatnya, sih. Cuma gue rasa itu cowok, cowok yang kudet gitu, deh. Cowok yang apa-apa tergantung orang tua, manja." Tiba-tiba Anara membahas hal demikian, karena tidak berhasil membahas dengan Arabela. "Semua ada di tangan lo sih, Ra. Kalau lo mau ya sabi aja. Tapi kalau lo gak mau ya udah. Jangan memaksakan kehendak pada diri sendiri juga, jatuhnya gak baik." Arabela itu lulusan psikologi di universitas ternama. Jadi, curhat dengan Arabela jauh lebih baik ketimbang bingung sendirian. "Gue males tapi," tolak Anara. "Tapi mamah selalu ribut, selalu nyuruh gue nerima. Gimana ya menurut lo?" "Gak usah. Kan lo gak mau. Nanti kalau lo terima, lo malah susah sendiri. Mending jujur ke diri lo aja. Ada orang yang lagi ngisi hati lo ya, Ra?" Sebentar, ini Arabela sedang meramal Anara atau apa? Mengapa Arabela tahu kalau Anara sedang mempunyai orang spesial? "Lo lagi ramal gue apa gimana nih, Bel?" tanya Anara. Arabela mengangkat alisnya. Apa tadi katanya? Meramal? Oh ayolah, Arabela itu lulusan psikologi, bukan peramal. "Gue? Peramal? Ya gak mungkin lah. Ya kali gue ngeramal lo. Gue ini lulusan psikologi, Ra. Gue bukan lulusan peramal. Gak ada kekuatan apapun di diri gue buat ramal lo. Tapi, kalau lo balas kata-kata gue dengan kata-kata tersebut, berarti bener, kan? Lo lagi jatuh cinta, kan? Lo lagi punya seseorang yang istimewa, kan?" Sial. Ujungnya Anara terjebak juga. Memang berbicara dengan lulusan psikologi itu membongkar kedok diri sendiri. "Ya gitulah." "Gitulah gimana? Lo bisa cerita semuanya ke gue. Gue bisa atasin semua masalah lo. Gue bisa kasih solusi, dan gue gak ember, kok. Mau curhat?" Hm, seperti curhat dengan lulusan psikologi bisa juga. Anara jadi tidak stres memikirkan semuanya sendirian. Anara jadi tidak stres menghadapi semua masalah yang ada di hidupnya. "Jadi gini, Bel. Gue tuh sebenernya punya pacar. Dua tahun ini gue pacaran sama orang, gue emang gak bilang ke siapapun, gak cerita ke mamah, ke papah, ke Mikhaella sekalipun. Gue menutupi itu semua. Tapi, selama dua tahun, gue berasa dibohongi, gue gak dikenalin sama keluarganya dia, gue gak tau rumahnya dia di mana, gue gak tau dia anaknya siapa, gue gak tau segalanya tentang dia. Gue gak dikasih kepastian apapun. Dia selalu cerita ke gue kalau dia itu lagi ngejar karir, dia gak mau menikah terlebih dahulu. Gue bilang dia egois, karena sampai saat ini gue gak dikasih kepastian apapun. Eh dia malah bilang gue gak bisa ngertiin dia. Gue chat dia gak dibales." Sekian curhatan Anara kepada Arabela, membuat Arabela menatap penuh tanya. "Dua tahun? Sampai segitunya? Berarti dia emang gak niat sama lo, Ra. Kalau dia niat sama lo, pasti dia bakalan ngiket lo lebih dulu. Ya walaupun dia belum siap menikah, tapi dia bakalan ngelamar lo." Benar juga apa yang Arabela katakan. Jika seperti ini, pasti karena Dave yang tidak berniat serius pada Anara. Dave pasti hanya main-main. "Saran gue, jauhin dia. Buat apa sih selama dua tahun lo sabar nungguin, tapi dia gak ada itikad baik buat serius. Seminim-minimnya kenalin lo ke keluarga dia. Lo kenalin dia ke keluarga lo juga. Tapi ini gak ada apapun. Berarti dia emang gak serius ke lo, Ra. Tinggalin cowok toxic yang sama sekali gak gentleman. Lupain semuanya. Semakin lo nunggu, semakin lo dipermainkan." Oke, lupakan. Anara harus melupakan Dave. Anara harus melupakan segala hal tentang Dave. Dave tidak serius dengan Anara. Ayo Anara lupakan segalanya. "Tapi gue udah sayang banget sama dia, Bel." "Stop it! Jangan bego! Semua cewek juga bilang itu kalau disuruh putus sama cowoknya. Sekarang lo emang sayang banget sama dia. Tapi waktu bisa mengubah segalanya. Waktu bisa mengubah perasaan lo. Lo bisa biasa aja, kok. Lo harus niat dan lo harus ada usaha untuk lupain dia. Tekad yang kuat, itu kuncinya. Dan yang lo bilang tadi, dia bilang lo gak mengerti dia? Coba balik, deh. Dua ngerti lo apa enggak? Enggak, kan?" Pedas, seperti ini ya rasanya curhat dengan seorang psikolog. Semuanya membuat Anara lebih membuka mata dan sadar. Oke. "Thanks, ya. Lo emang sepupu paling pengertian." *** Anara tersenyum riang saat koper besar sudah terkumpul di ruang depan. Akhirnya semua keluarga akan pulang. Akhirnya semua keluarga akan jauh-jauh dari rumah Anara lagi. Anara tidak terpojokkan lagi. "Anara, Budhe pulang dulu, ya. Kapan-kapan kamu main ke rumah Budhe juga, dong. Gantian gitu. Budhe kan pengen kamu yang dateng ke sana." Afi memeluk erat tubuh Anara, membuat Anara tersenyum riang, padahal riang tersebut bukan riang membalas pelukan, tapi riang melepas kepergian semuanya. "Iya, Anara. Nanti tante kangen juga sama kamu kan jadinya. Pokoknya kalau kamu lagi ada waktu luang, kamu harus jenguk kita semua, oke?" "Iya, Budhe, Tante. Anara pasti jenguk kalian semua, kok. Ya udah, kalian hati-hati di jalan, ya." Anara kini berjalan menuju Arabela, padahal baru semalam Arabela mendengarkan curhatannya. "Nara gila! Gue pasti bakalan kangen banget sama lo! Lo kapan-kapan harus main ke sana pokoknya! Oke?" "Oke." Semua keluarga memasuki mobil, membuat Anara semakin tersenyum dan melambaikan tangan. Good bye!