18. Kejadian

1052 Kata
Setelah diusir dari rumah Mikhaella karena mengganggu selama dua kali, Anara sekarang berada di pusat perbelanjaan kota. Ia sedang menikmati es krim rasa coklat yang sangat enak. Scroll sosial media adalah kegiatan kedua yang Anara lakukan, melihat ada banyak sekali video kocak yang langsung membuat mood Anara naik. Anara beruntung masih bisa menikmati hari di pusat perbelanjaan kota, daripada pulang dan disuguhkan kembali dengan pertanyaan laknat, malas sekali. Tidak memiliki teman dan tidak memiliki siapapun membuat hidup Anara jauh lebih datar. Astaga, seandainya Anara memiliki saudara. Setidaknya saudara tersebut bisa membuat hidup Anara sedikit lebih berwarna. Melihat es krim coklat yang sudah mau habis, Anara kembali memanggil pramusaji, meminta pramusaji untuk membuatkan es krim tiga rasa, vanila, coklat, dan stroberi. Melanjutkan acara gabutnya yakni scroll sosial media, melihat video kocak, lalu langsung menyukai video tersebut, pindah aplikasi, mencari kata-kata ambyar, memang mantap, apalagi Wi-Fi gratis yang Anara dapatkan. Anara melihat buku menu yang ada di hadapannya, lapar juga diusir dengan sarkas oleh Mikhaella, melihat makanan yang dapat membuatnya segar. Ah, gotcha! Salad buah dan jus setidaknya bisa membuat Anara lebih baik. Memanggil pramusaji lagi dan memesan pesanan yang memang ia inginkan. Anara kembali melakukan kegiatannya, datar-datar saja, tidak banyak bicara, tidak banyak omong, tempat yang dingin dan tempat yang baik untuk menyendiri. "Mba, boleh barengan meja? Meja di sini penuh semua." Tiba-tiba terdengar suara tersebut di telinga Anara, membuat Anara langsung mendongak. Sial! Mengapa di saat seperti ini ia harus bertemu dengan orang yang membuat moodnya hancur coba? Anara ingin bertemu dengan orang yang ia sayang, bukan setan. "Ngapain lo di sini, Arga?" tanya Anara dengan nada tinggi. "Lo pergi jauh-jauh sana! Bikin gue gak mood aja! Awas ya lo! Gue gak mood ketemu lo! Gue gak mood ketemu setan!" teriak Anara lagi. Arga yang melihat wanita di hadapannya ini langsung mendecih. Enak saja wajah tampannya dianggap setan, padahal banyak perempuan yang mengantri ingin dengan Arga. "Nyesel gue ketemu lo di sini." Tidak seperti biasanya, Arga yang biasanya jauh lebih formal, saat kesal pun seperti ini, saat kesal pun akan tetap frontal. "Iya emang harusnya lo gak di sini!" jerit Anara sebal. "Bikin mood gue hancur lagi kan jadinya!" imbuh Anara. "Ya mana gue tau kalau di sini ada lo. Gue juga gak pengen ya ketemu sama lo. Gue juga gak pengen ya ribut sama lo. Niat ke mall gini buat bikin diri jadi rileks, eh malah ketemu nenek lampir!" Kejam sekali kata-kata yang Arga lontarkan, membuat wajah Anara memerah, enak saja dibilang nenek lampir. "Ngadi-ngadi ya lo! Enak aja bilang gue nenek lampir! Gue ini tuan putri! Lo pergi sana! Jauh-jauh dari gue. Sebel gue liatnya." Tanpa pikir panjang, Arga langsung berbalik arah, menjauh dari Anara, membuat gadis dengan sweater tosca bisa bernapas lega kembali. Bertemu di saat unmood seperti ini membuat Anara terlihat sangat buruk. Sepertinya setelah makan Anara ingin menonton film di bioskop atas, oleh sebab itu Anara ganti aplikasi untuk memesan tiket di bioskop. Setelah semuanya selesai, makanan Anara sudah sampai. "Ayo, Anara, bikin hidup lo bahagia! Lo harus bahagia, gak usah mikirin siapapun." *** Anara menaiki lift menuju bioskop, saat sudah sampai di bioskop gadis itu memesan dua popcorn caramel dan minuman, lalu memasuki bioskop. Film dengan genre teenfict membuat Anara mengeluarkan beberapa uang, tak masalah. Film tersebut juga sudah lama Anara tunggu-tunggu. Anara membalikkan badannya, berniat membuang sampah, namun naasnya tubuh gadis dengan tinggi seratus enam puluh delapan itu menabrak pria jangkung. Sial, masalah apalagi ini. "Maaf," ucap Anara penuh penyesalan, tidak mau dicap sebagai gadis tak tahu diri dengan tidak mengucapkan maaf. "LO LAGI?" teriak Anara saat melihat tubuh orang yang baru saja ia tabrak. Ya, siapa lagi kalau bukan Arga. Arga, yang ia benci. Arga musuh yang sudah membuat Anara hampir bangkrut. Mengapa hari ini Anara sial sekali, sih? "Ngapain lo nabrak gue? Ada dendam kesumat apa lo sama gue?" tanya Arga dengan tenang, tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, ala-ala bad boy pada zaman SMA. "BANYAK!" jawab Anara nyolot. Enak saja tanya dendam kesumat, tentu saja Anara memang banyak dendam pada Arga. Arga telah merebut segalanya dari Anara. "Lo bisa profesional dikit gak, sih? Kalau lo ada masalah kerjaan sama gue gak usah dibawa ke sini sampai lo nabrak gue segala. Lo suka ya sama gue?" "Enak aja! Enggak, ya! Gue gak akan pernah suka sama lo! Kalau ngomong tuh dipikir dulu, lah! Seorang Anara gak mungkin suka sama lo. Dan untuk pertanyaan lo yang bilang profesional, gue profesional, ya! Mana gue tau mau nabrak lo." Anara membalas dengan nada tinggi, nyolot. Mood Anara untuk menonton film jadi buruk kembali, Anara langsung membalikkan badannya, lebih baik sekarang Anara pergi ke mana untuk menghilangkan bayangan Arga. *** Danau adalah tempat favorit yang saat ini Anara singgahi. Danau membuat Anara sedikit lebih tenang. Melempar batu pada danau membuat Anara seperti melemparkan semua bebannya. Akhir-akhir ini terlalu banyak masalah di kehidupan Anara, mulai dari masalah pekerjaan, rekan bisnis, pacarnya, keluarganya, dan banyak lagi. Anara menangis di suasana sunyi seperti ini. Anara ingin meluapkan segalanya. "ARGHHH!" jerit Anara sampai semua beban terasa hilang. "Gue benci banget sama semuanya! Gue benci banget sama semua yang udah buat mood gue hancur! Gue benci jadi dewasa, ternyata jadi dewasa itu gak enak." Tangisan yang semakin menjadi-jadi membuat Anara menghapus buliran bening tersebut. Anara langsung berdiri dan kembali ke mobil. Langit sudah gelap, saatnya Anara pulang, saatnya Anara istirahat. *** Dengan mata sembab sehabis menangis, Anara berusaha tetap tenang saat mengendarai kendaraan, gadis itu lupa melihat lampu lalu lintas saat melewatinya, padahal lampu lalu lintas tersebut berwarna merah, membuat mobilnya menabrak mobil hitam. Sial, masalah apalagi ini. Sebagai manusia yang mempunyai tanggung jawab, Anara keluar dari mobil, menemui orang yang ia tabrak untuk meminta maaf. "Maaf, saya tidak sengaja menabrak mobil Anda. Maaf karena saya sudah lalai dalam berkendara, saya lupa melihat lampu lalu lintas. Jika Anda membutuhkan ganti rugi, saya akan bayar, dan—" Anara mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan yang ada di hadapannya ini adalah orang yang ia benci atau tidak. "ARGA?" "Lo lagi, lo lagi! Lo ada masalah apa sih sama gue sampai semuanya ditabrak? Mobil ditabrak, tubuh gue ditabrak. Masalah apa lo sama gue ha?" Wajah Arga memerah, sangat marah saat Anara menabrak mobil terbarunya yang sedang ia jaga supaya tidak lecet sama sekali. Sialnya harus lecet gara-gara gadis sialan. "Sorry, gue gak bermaksud, kok."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN