Saat ini Anara sedang mengendarai mobilnya menuju rumah Mikhaella. Hari pertunangan Mikhaella sebentar lagi, dan Anara berniat membantu. Selain itu Anara berniat untuk berbincang-bincang dengan Mikhaella, sebelum Mikhaella menjadi istri orang. Dua puluh menit sudah Anara tempuh, saat sampai di rumah megah minimalis berlantai tiga itu, Anara turun dan berjalan memasuki rumah Mikhaella. Melihat Mikhaella yang masih memakai piama sedang berada di depan sambil memegang ponsel, menelepon kekasihnya mungkin. "Hai, Mik!" sapa Anara dengan nada riang. "Lo lagi ngapain?" lanjut Anara bertanya, membuat sang empunya rumah berjingkrak kaget, pasalnya Anara sama sekali tidak ada janji untuk datang ke rumahnya atau bermain. "Ya Tuhan, Anara! Gue hampir jantungan!" omel Mikhaella dengan memakai kembali kacamata bundarnya. "Aku matiin teleponnya dulu ya, Beb. Jangan lupa sarapan. I love you," ujar Mikhaella dengan orang di seberang sana, yang sedang bertelepon dengan Mikhaella tentunya. "Lo mau ngapain ke sini? Diusir dari rumah?" Sarkas, sahabat macam apa Mikhaella ini, bukannya disuruh masuk, Anara malah disangka diusir dari rumah. "Enak aja! Enggak, ya! Gak mungkin seorang Anara diusir gitu aja dari rumah. Niat gue ke sini baik loh padahal, gue mau ajakin lo ghibah karena lo lagi gabut, kan? Gue tau itu semua. Gue juga mau bantuin persiapan tunangan lo. Lusa lo tunangan, kan? Gak nyangka temen yang selama ini bucin banget sama gue bisa tunangan juga," cerocos Anara tanpa henti. "Gue pasti bakalan kangen lo, pake banget." Mikhaella mendecak. "Emangnya lo, gak tunangan, gak pacaran, gak nikah. Kapan coba lo nyusul gue?" Pertanyaan itu lagi, oh ayolah. Anara sudah sangat bosan mendengar itu semuanya. "Lo bakalan nikah kan, Ra? Sama yang kemarin mamah lo jodohin itu?" tanya Mikhaella. "Gue? Menikah? Sama yang mamah gue jodohin? Enggak deh kayaknya, males gue sama dia. Ya walaupun gue belum pernah ketemu sama orangnya, tapi gue pikir pasti orangnya datar, flat, orangnya juga pasti bosenin." Tanpa dipersilakan masuk ke dalam rumah, Anara berinisiatif masuk sendiri, duduk di sofa dan langsung mengambil kue kering. Not have attitude memang Anara ini. "Heh! Ini rumah gue ya kalau lo lupa! Enak aja bisa masuk langsung duduk sambil makan," decak sebal Mikhaella. "Kan rumah lo itu rumah gue juga." Anara membantah, bukankah memang begitu? Rumah Mikhaella adalah rumah Anara juga. "Teori dari mana tuh? Semenjak kapan rumah gue itu rumah lo? Gak ada, ya! Jangan ngadi-ngadi Anda!" Mikhaella yang kesal langsung mengambil toples yang digenggam oleh Anara, menutup toples tersebut dan menyimpannya jauh-jauh. Setelah tidak ada makanan yang bisa didekap oleh Anara, Anara justru tiduran di sofa dan mengambil remote televisi, menyalakan televisi dengan random lalu memanggil bibi, pembantu di rumah Mikhaella. "Bibi! Anara mau sirup! Jangan lupa esnya yang banyak!" teriak Anara dengan kencang, membuat beberapa pekerja yang sedang mendekor tempat acara pertunangan langsung geleng-geleng kepala. "Lo itu, ya! Pagi-pagi udah ngerepotin aja! Enak banget sampai sini tiduran, abis itu makan, pesen sirup, astaga! Pulang sana lo! Gue males ya terima tamu yang cuma bisa bikin kericuhan. Gue males juga punya tamu yang bisanya nyusahin. Balik sana! Buruan balik!" usir Mikhaella dengan sarkas. "Ck! Gue niatnya mau bantuin lo loh, Mik." Anara membela diri. "Lagian dua puluh menit gue di sini, dan lo gak menghormati apapun? Gila, sih. Lo kejam banget, Mik!" "Lo mau cerita apa, sih? Lo lagi kenapa? Gue males drama, ya! Buruan, deh! Gue masih sibuk bikin persiapan semuanya." "Gue lagi males di rumah, Mik. Ada budhe sama tante gue, ada om gue, sama sepupu juga. Kalau di rumah tuh pasti ditanyain nikah mulu, tunangan, umur, sampai dibandingin sama mereka. Ya udah gue izin ke rumah lo, makanya dibolehin. Udahlah, yang penting gue ada di sini, nemenin lo yang gabut." Seenak jidatnya Anara menjadikan rumah Mikhaella sebagai tempat kabur seperti itu, astaga. "Gak, ya! Enak aja gue dibilang gabut. Gue justru sibuk, sibuk mikirin pertunangan dan segala macem. Jangan ngadi-ngadi lo! Lo kalau mau tidur di kamar biasa aja sana! Ntar gue bangunin kalau makanan udah siap. Jangan ganggu gue, hari ini banyak tamu buat persiapan tunangan." "Oke." Dengan senang hati Anara bangkit dari tidurnya di sofa, berjalan menaiki tangga dan memasuki kamar tamu, kamar yang biasanya Anara gunakan saat tidur di sini. Menutup pintu, lalu tidur. *** Mikhaella sedang sibuk mempersiapkan semuanya, mulai dari make-up artist yang akan ia gunakan sampai gaun dan semuanya. Ponsel yang berbunyi menandakan ada telepon masuk langsung membuat Anara tersenyum. Pasti Mas Va, kekasihnya mau bertanya sedang apa, atau bertanya sudah makan belum. "Halo, Mas Va!" sapa Mikhaella di dalam telepon. "Halo, Beb! Kamu lagi ngapain nih? Tumben banget pesanku gak dibales, hm?" Ah, hampir saja kelupaan. Akibat banyak pertemuan dengan make-up artist, butik, dan orang dekor, lalu orang catering membuat Mikhaella hampir lupa mengabari kekasihnya. "Maaf banget ya, Mas. Aku lagi sibuk banget, tadi make-up artist dateng buat geladi bersih make-up gitu, terus ada juga orang butik, orang catering, orang dekor, makanya gak sempet bales pesan kamu." "No problem, Sayang. Kamu jangan kecapekan, ya. Aku sayang banget sama kamu. I love you, Babe! Bentar lagi kita menikah, nih. Aku pasti bakalan seneng banget, bangun tidur ada kamu, pulang kerja ada kamu, semuanya sama kamu." Astaga, ucapan Mas Va benar-benar manis, membuat Mikhaella tersenyum dan memerah merona. "Ish, Sayang! Bisa aja, deh. I love you too, Mas! Aku juga sayang banget sama kamu." *** Anara baru saja bangun dari tidurnya, mengambil ponsel di nakas dan melihat pesannya yang belum dibalas oleh Dave. Oke, seharusnya Anara yang marah, namun Anara tidak bisa diam-diaman seperti ini dengan Dave, alhasil Anara mengirimkan pesan singkat. Melihat tulisan online pada profil Dave membuat Anara langsung menelepon lelaki itu. Sedang berada di panggilan lain. Apa ini? Mengapa muncul tulisan ini? Apakah Dave sedang telepon dengan orang kantor? Atau meeting dengan siapa? Mengapa ada tulisan sedang berada di panggilan lain? "Apa Dave masih marah sama gue? Harusnya kan gue yang marah ke dia. Apa-apaan coba! Enak banget ya gitu. Sumpah sih gue sebel banget. Argh!" Anara bangkit, keluar dari kamar tamu yang ada di rumah Mikhaella dan turun ke lantai dasar, melihat Anara yang sedang teleponan, bucin banget sepertinya pacar Mikhaella itu. "Mik, gue laper! Udah ada makanan belum?" Kaget mendengar ucapan Anara dari belakang, Mikhaella hanya bisa berdecak sebal. "Lo itu, ya! Udah dua kali kagetin gue! Ke dapur sana, gak usah ke sini kalau mau makan. Ganggu banget!" Kan, kalau sudah bucin mah beda, dunia serasa milik berdua.