16. Kumpul Keluarga

1029 Kata
Anara membuka matanya kala jendela kamar memancarkan cahaya matahari yang terik. Meraba nakas untuk mengambil gelas dan meneguk air di gelas tersebut. Hari ini Anara masih berada di rumah kedua orang tuanya, sudah bukan di apartemen lagi. Katanya hari ini akan ada keluarga besar yang datang, dan ya, itu yang Anara benci. Keluarga Anara itu sebelas dua belas sama kayak mamahnya, tukang nyinyir, dan pemaksa, suka memojokkan juga. Semua yang Anara lakukan pasti salah jika bertemu dengan mereka semua. Menepis selimut yang masih berada di atas tubuhnya, Anara langsung berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Setidaknya mandi pagi bisa membuat Anara jauh lebih senang dan tenang. *** "Good morning, Mom!" sapa Anara yang keluar dari kamar, berjalan ke meja makan, melihat ibunya sedang mempersiapkan makanan. "Good morning!" balas Nyonya Eva. "Nanti kalau tante kamu udah pada dateng, kamu harus senyum loh, ya. Kamu juga harus bersikap baik, awas aja kalau gak baik." "Iya, Mah." Tuan Damares yang sedang turun dari tangga langsung menyapa sang putri. "Morning, Sayang!" "Morning, Dad." "Nanti kalian harus bersikap baik loh ya pas ada tamu. Awas aja kalau gak bersikap baik." Lagi-lagi Nyonya Eva kembali memperingati, membuat Anara dan Tuan Damares mengangguk begitu saja. TING TONG! Suara bel rumah langsung membuat ketiga orang di meja makan mengerjap. Itu semua pasti tamu yang sedang mereka tunggu. Ah ralat, yang sedang Nyonya Eva tunggu. Karena pada dasarnya, Anara dan Tuan Damares tidak menunggu apapun. Pembantu di rumah langsung membukakan pintu, dan munculah keluarga besar yang langsung heboh. "Kakak!" panggil Iva, adik dari Nyonya Eva. Usianya masih cukup muda, tiga puluh tahun. "Hai, Iv! Apa kabar? Baik, kan?" tanya Nyonya Eva dengan riang, menyambut sang adik dan cipika-cipiki sebagai salam. "Baik, Kak. Kakak sendiri apa kabar?" tanya balik Iva. "Baik juga, kok." Di sebelah Iva, ada seorang perempuan yang jauh lebih tua, kakak dari Iva dan Eva. Namanya Afi, anak pertama yang usianya sudah memasuki empat puluh delapan tahun. "Hai, Dek! Long time no see!" sambut Afi dengan cipika-cipiki juga kepada Eva. Semua kakak adik ini memang sosialita, terbukti dengan barang-barang branded yang ada di tubuhnya. "Long time no see juga, Kak! Ya Allah kangen banget. Kakak apa kabar? Baik, kan?" "Baik, dong." Eva yang tersenyum bahagia melihat saudaranya langsung menoleh ke arah Anara. Memberikan kode untuk menyambut saudaranya itu. Dan Anara yang paham langsung tersenyum, berdiri, lalu berjalan ke arah mereka semua. "Pagi, Tante! Pagi, Budhe! Pagi, Om!" sapa Anara mulai mengabsen semuanya. "Pagi, Ra! Oh iya, usia kamu sekarang udah berapa tahun? Udah dewasa, ya. Udah lama sih Budhe gak ke sini jadinya lama gak ketemu." Afi yang langsung disambut seperti itu akhirnya bertanya-tanya. Pertanyaan yang Anara yakini akan mengarah ke unsur pernikahan. Anara tersenyum canggung. "Dua puluh empat tahun, Budhe. Hehe, iya. Budhe emang jarang ke sini." "Wah, udah dua puluh empat tahun, pasti udah ada rencana untuk menikah, dong. Pasti mau tunangan cepet, ya? Mau nikah kapan, nih? Tunangannya kapan?" Bukan, itu bukan suara dari Budhe Afi, itu suara dari Iva yang turut bertanya. Benar kan, pasti akan seperti ini. Pasti ujungnya bahas pernikahan dan tunangan. Menyebalkan sekali. Anara ingin kabur saja rasanya. "Anara masih fokus ke karir, Tante. Anara juga masih mau melanjutkan studi Anara." Anara menjawab demikian, memang nyatanya akan seperti ini. "Gak usah lah karir dibagusin atau segala macem, cari laki-laki kaya raya aja, Ra. Dijamin kamu pasti akan bahagia, gak ada tuh yang namanya menderita. Terus juga studi itu udah bagus kok, kamu kan udah sarjana. Gak penting lah untuk lanjut ke S2, atau bahkan sampai S3. S1 aja cukup." Tolong, rasanya Anara ingin menampar ini semua. Bisa-bisanya Anara disamakan dengan mereka semua. "Iya loh, Ra. Bener apa yang dibilang sama Tante Iva. Kamu gak perlu kejar itu semua. Dulu aja Budhe menikah saat usia dua puluh satu tahun. Budhe bahagia sampai sekarang. Gak ada menderita sama sekali. Budhe yang hanya lulus SMA aja bisa beli barang branded seperti ini. Budhe yang hanya lulusan SMA aja bisa mempunyai segalanya, dan mengalahkan yang lulus sarjana." Kini Budhe Afi kembali menyamakan kehidupan Anara dengan dirinya. "Eh, tapi kamu udah punya pacar kan, Ra?" Om Iwan yang dari tadi diam kini mulai membuka suara. Semuanya ikut memojokkan Anara. "Dia mau cepet nikah kok, Kak, Dek. Udah ada calonnya, anak dari sahabatku. Anaknya baik, ganteng, kaya juga. Pokoknya idaman abis, tapi Anara akan tetap melanjutkan karir dan studinya, soalnya Anara mau mandiri." Eva membela putrinya, mulai menyelamatkan Anara dari hal terburuk. Tapi ... cara Eva menyelamatkannya yang salah. Anara sama sekali tidak suka dan tidak mau menikah dengan anak dari teman mamahnya. *** "Ra, dulu tante itu menikah umur dua puluh dua tahun. Tante bahagia sampai sekarang. Gak menderita. Tante cuma lulusan D3 padahal, gak sampai S1, tapi tante enjoy dan bisa bahagia sampai sekarang. Yang terpenting itu kekayaan dan harta. Kamu gak perlu lah melakukan banyak hal, kamu gak perlu capek-capek kerja, capek-capek kuliah, yang terpenting kaya. Kayanya juga dengan instan, cuma tinggal nikah sama laki-laki kaya." Iva kini sedang berada di kamar Anara, meminjam barang-barang Anara, lalu mencobanya satu persatu, menyebalkan. Wanita itu juga mulai menceramahi Anara. Oh ayolah, ceramahnya sama sekali tidak baik. Sama sekali tidak masuk akal. Anara adalah gadis pekerja keras yang tidak suka dengan cara instan. "Bahkan mie instan aja yang instan perlu proses untuk membuatnya, Tante. Anara gak mau lah kaya dengan cara instan atau apapun itu," tolak Anara mentah-mentah. Tidak setuju dengan ide gila Iva. "Betul! Cerdas! Proses kita apa? Ya deketin orang kaya tersebut! Itu namanya proses, ya kan?" Gila. Bisa saja membalas ucapan Anara. Bisa saja menganggap dirinya paling benar. Anara malas dengan yang seperti ini, Tuhan. "Tapi sama aja, Tante. Kita gak bakalan bisa bahagia." Anara kembali membalas, berusaha berdebat. Bodo amat akan benar ataupun salah. Yang Anara lakukan adalah yang terbaik untuknya. "Kata siapa gak bisa bahagia, Sayang? Mau bukti? Budhemu itu, Budhe Afi bahagia karena pakai cara tersebut. Mamahmu, juga bahagia pakai cara tersebut. Tante sendiri juga bahagia. Sepupumu, anaknya Budhe Afi juga bahagia, kok. Kamu gak usah sedih dan pesimis gitu. Pasti bahagia. Kamu bisa keliling dunia, kamu bisa beli barang-barang mewah, gak ada menderitanya sama sekali." "Oh ya? Apa tante gak pernah mencintai seseorang dengan tulus? Menyayangi seseorang tanpa pamrih?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN