15. Dipaksa Nikah

1099 Kata
Nyonya Eva nampak memikirkan sesuatu, tersenyum pada putrinya dan membisikkan kata-kata kepada suaminya. Tuan Damares yang mendengar bisikan tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya singkat. Ada-ada saja. "Papah bakalan bantuin urus perusahaan kamu kok," ujar Nyonya Eva dengan nada riang. "Beneran?" "Iya, asal kamu mau dijodohkan." Sialan, dosa apa yang sudah Anara lakukan sehingga punya orang tua yang berdosa seperti ini, Ya Tuhan. Mengapa bisa mamahnya meminta Anara menikah sampai segitunya. "Mah, jangan bercanda, deh! Anara gak mau ya dipaksa gitu, lagian Anara udah punya pacar." Sial, Anara keceplosan. Mengapa di situasi segenting ini otak Anara tidak bisa bekerja dengan cepat? Mengapa di saat seperti ini mulut Anara tidak bisa direm? Padahal kan Anara dengan Dave sedang marahan, ayolah Anara. "WHAT? Punya pacar? Coba mamah liat! Ganteng, gak? Pinter, gak? Punya perusahaan? Kaya? Kamu harus tau seluk-beluk pacar kamu, Ra. Supaya nanti setelah kamu menikah dengan dia, kamu bisa leha-leha aja gitu, jadi sosialita kayak mamah." Kan, itu yang Anara malaskan saat cerita dengan mamah, pasti selalu bertanya tanpa rem, mencari seluk-beluk dan matre. C'mon, Anara tidak matre seperti mamahnya. Anara mencintai seseorang dengan tulus, tidak memandang apapun. "Mah!" Anara memperingatkan. "Anara kan udah bilang, meskipun nanti Anara punya pacar dan dia gak ganteng, gak punya perusahaan, gak kaya, Anara gak masalah. Mamah pernah gak sih cinta setulus itu sama orang? Apa mamah gak pernah merasakan ketulusan sampai semuanya mamah bisa ukur. Ukur dengan harta, ukur dengan ketampanan, ukur dengan kekayaan?" "Gak matre, Ra. Sebagai orang tua, mamah mau yang terbaik untuk kamu. Mamah mau kamu mendapatkan segala hal. Mamah gak mau kamu kesusahan. Kamu ini udah mamah besarin dari kecil dengan segala kemewahan, masa pas menikah jadi sengsara, gak baik dong. Mamah gak matre, cuma realistis aja. Yang namanya cinta dan ketulusan gak akan pernah bisa bikin kenyang, yang namanya cinta dan kesabaran gak akan pernah bisa bikin bahagia. Kamu harus punya pendirian dong, masa iya menikah sama cowok melarat." Anara memutar bola matanya, maha benar Nyonya Eva dengan segala dalilnya. Terlepas dari semua hal, Anara tidak peduli. Mau ketulusan tidak membuat kenyang pun tak masalah, lebih baik bahagia dengan orang yang kita cintai, daripada bahagia dengan harta orang yang kita sama sekali tidak cintai. "Terserah mamah aja." Bukannya memberikan pembelaan atau mengatakan mamahnya benar, tapi Anara malas berdebat. Pusing. Nyonya Eva yang tadinya duduk di pinggir sofa pun berdiri dan berada tepat di depan Anara. "Ra, mamah kan punya sahabat tuh, Tante Ayu. Kamu kenal Tante Ayu, kan? Dia punya dua anak cowok gitu, ganteng, udah sukses juga. Nah mamah niatnya mau jodohin kamu sama anak keduanya, kebetulan umurnya dia gak beda jauh sama kamu. Kamu pasti cocok kalau sama dia. Dia juga punya perusahaan gitu, pokoknya mantep lah, Ra." Astaghfirullah, dijodohin lagi. Anaknya Tante Ayu lagi, sebenarnya seberapa kaya, seberapa tampan sih, sampai-sampai Nyonya Eva ini berniat menjodohkannya dengan Anara. "Udah ganteng, kaya, baik lagi, Ra. Gak perlu ditanyain babat, bebet, bobotnya, mamah udah percaya. Apalagi Tante Ayu sahabat mamah banget. Kamu gak perlu capek-capek cari, Ra." Nyonya Eva kembali mempromosikan anak dari Tante Ayu itu. "Mah, udahlah!" Tuan Damares yang dari tadi hanya bungkam kini bersuara, paham jika anaknya merasa terdesak dengan paksaan istrinya. Nyonya Eva melayangkan tatapan tajam kepada suaminya, berkacak pinggang dan melayangkan tangan menandakan suaminya untuk diam. "Kamu gak bisa membenarkan semua yang Anara lakukan dong, Pah. Anara udah dewasa, harusnya dia udah tau planning yang akan dia lakukan. Seharusnya dia udah mempersiapkan semuanya. Karena kamu terlalu memanjakan dia jadinya dia gini, kan. Pokoknya mamah akan temuin kamu sama anaknya Tante Ayu. Nanti mamah bilang ke Anaknya Tante Ayu dulu." Jika Nyonya Eva sudah seperti ini, Tuan Damares akan diam. Tidak tahu harus berbuat apa. Bukannya lembek dan tidak mau menegur, tapi ucapan dari Nyonya Eva juga tidak ada yang salah. Seharusnya Anara memang mempunyai tujuan dan target pada dirinya sendiri. Sebenarnya Tuan Damares juga ingin melihat anaknya menikah, menemukan orang yang tepat, menikah dengan orang yang dicintai. Namun, saat Damares melihat Anara seperti merasa terpojokkan, ia pasti akan selalu merasa kasihan pada putrinya. *** Anara memasuki kamar dengan sempoyongan, merasa kepalanya sangat berat karena berdebat dengan mamahnya tadi. Terserahlah, Anara pasrah saja. Toh, Dave tidak pernah memberikan kepastian apapun. Dave itu manusia paling egois yang pernah Anara kenal, selanjutnya adalah Nyonya Eva. Mereka sama-sama selalu memaksakan kehendak. Padahal sudah dua tahun Anara kenal dengan Dave, tapi Dave sama sekali tidak ada itikad baik untuk melamar Anara. Ya memang Anara juga sama-sama belum siap, tapi apa salahnya lamaran dulu ya kan? Keambisiusan Dave merusak hubungannya dengan Anara. Selalu saja dunia yang Dave prioritaskan dan ia kejar. Anara jadi geregetan, apa memang Anara tidak pernah penting bagi Dave? Apa memang Dave hanya mempermainkan Anara? "Kenapa coba, Dave kayak gini ke gue? Gue males banget kalau dijodohin, tapi ya udahlah. Jodoh udah ada yang ngatur, kan? Tapi jodoh gue mana ya? Kok belum dateng, sih? Kok jodoh gue belum nongol, sih?" Mencari ponsel, Anara langsung menelpon Mikhaella, gabut juga tidak berbincang dengan gadis itu. "Halo, Ra! Kenapa?" tanya Mikhaella saat telepon tersambung. Nampaknya di rumah Mikhaella sedang sibuk sehingga terdengar berisik sekali. "Lo sibuk banget ya, Mik?" tanya Anara basa-basi. "Iya, Ra. Gue lagi mempersiapkan lamaran, lo tau sendiri kan bentar lagi gue lamaran. Lo dateng, kan? Pokoknya harus dateng, yakali sahabatnya lamaran gak dateng. Ntar lo gue kenalin sama Mas Va. Pokoknya Mas Va itu tipe orang idaman banget lah." Tunangan, lamaran, nikahan, tiga kata yang selalu Anara hindari. Mengapa orang-orang sekarang semenyebalkan itu? "Oke, gue pasti dateng, kok. Tenang aja. Ya udah deh kalau lo sibuk, gue matiin ya teleponnya." Nada kecewa Anara membuat Mikhaella yang di seberang sana mengernyitkan keningnya. "Lo kenapa? Mau cerita? Cerita aja kali, gak usah malu-malu. Sini cerita!" Dabest, memang paling pengertian sekali Mikhaella ini, sesibuk apapun, pasti Mikhaella akan memprioritaskan Anara. Semoga saja nanti di saat Mikhaella sudah menikah, ia akan tetap dekat dengan Anara. Jangan sampai ada jarak di antara mereka berdua. Ya, semoga. "Gue dijodohin sama temen mamah gue gitu, gue tolak kan, tapi ujungnya dipaksa. Gimana, ya? Pusing gue sama hidup. Kenapa harus ada target dan tujuan coba? Kenapa gak jalanin hidup sesuai takdir gitu, enjoy, kayak air yang ngalir." "Ck, ya gak bisa gitu lah, Ra. Itu mah namanya hidup gak niat. Coba lo ketemuan dulu sama anak temen mamah lo, siapa tau cocok dan kalian bisa nyusul gue yakan." "Males gue, Mik." "Gak boleh males, dong. Ayo semangat, lo harus bisa bikin target dan tujuan hidup. Siapa tau pas lo ketemu sama anak temen mamah lo itu, dia bisa bantuin lo tentang perusahaan lo, atau apa ya kan?" Benar juga, tumben cerdas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN