"Eciee ... senyum-senyum terus dari tadi." Aku tersadar dari lamunan ketika Pipit menyenggol lengan ini di meja. "Kenapa, sih? Kelihatannya senang sekali kuperhatikan. Kemarin-kemarin saja, kamu murung terus." "Tidak kenapa-napa." Aku mengulum senyum. "Jawaban dan ekspresimu itu tidak selaras, Meisya. Kamu tidak pandai berbohong." Pipit tertawa. "Habis apa hayo dengan suamimu." "Ish, apa, sih?" tukasku seraya membuang muka yang terasa menghangat. Pipit tergelak. "Mukamu merah seperti kepiting rebus. Makin jelas saja kalau ini ada hubungannya dengan Bagas. Iya, kan?" "Kalau iya, kenapa?" Aku kembali mengulum senyum. Entahlah. Rasanya aku tak bisa mengendalikan bibir ini untuk tidak tersenyum. Sejak dua kali penyatuan kami tadi malam, hatiku bak dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran.

