"Tidak sabar mau ...." Aku menjeda ucapan, lalu menoleh padanya. "Kok, Mas tanya tidak sabar kenapa? Yaa tidak sabar mau makan masakan Mas Bagas, dong. Kan, masakannya enak." Mas Bagas berdehem pelan sambil mengulum senyum. "Kirain." "Kirain apa?" "Tidak ada." "Ish, tidak jelas," gerundelku seraya melihat kembali ke depan. Aku yang tengah termenung pun, seketika menunduk saat dia meraih tanganku yang berada di pangkuan dan menautkan jemari kami. Membuat kami saling memandang sesaat dan melempar senyum, lalu sama-sama melihat ke depan lagi. Ah, memang sungguh luar biasa rasanya pacaran setelah menikah. Kami bebas mengekspresikan dan mengungkapan perasaan dengan cara apa pun. Bukan dosa yang didapat, tapi pahala. ??? Hujan yang cukup deras sudah turun ketika kami tiba di parkiran apa

