"Sudah siap belum?" Aku menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara Mas Bagas. Dia yang sudah rapi dan sempat turun lebih dulu, kembali menyusul ke sini. "Sedikit lagi, Mas," kataku seraya merapikan kepangan rambut yang sengaja dibuat menyamping. Mas Bagas mendekat, memeluk dari samping seraya mengusap perutku yang sudah membesar. "Cantik sekali istriku." Aku menatapnya sambil mengulum senyum. "Tapi akan lebih cantik lagi kalau rambut indah ini hanya diperlihatkan untukku," imbuhnya seraya mengusap kepala ini. Aku tersenyum kaku dan kembali menatap diri sendiri melalui cermin. "Katanya mau belajar hijaban? Kapan?" "Ehm– nanti ya, Mas. Aku belum siap." "Kenapa?" tanyanya lembut. "Gerah." "Kalau sudah terbiasa juga tidak akan gerah. Atau kalau perlu, kamu tidak usah keluar rumah
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


