Aku bergeming. Napas pun spontan tertahan beberapa detik ketika melihat Meisya berdiri di depan pintu. Mata sedikit membulat seraya menelan ludah susah payah. Lekas kuletakkan mangkuk bubur, lalu berdiri dan menghampirinya dengan hati berkecamuk. "Meisya." Aku dengan cepat berlari dan berhasil menangkap pergelangan tangannya sebelum dia pergi. Aku mencoba menenangkan dan memberi penjelasan, tapi Meisya tak mau mendengarkan. Dia selalu memotong ucapan seraya menggeleng lemah. Menatapku dengan sorot mata penuh luka dan kekecewaan. Tak ada lagi senyum ceria dan mata yang berbinar cerah. Tak ada kedipan manja dan suara menggemaskan ketika dia sedang merajuk. Sorot mata itu begitu sendu. Meskipun tak ada air mata, tapi berhasil membuat segumpal daging merah di dalam d**a ini berdenyut nyeri

