[Pulang jam berapa, Mas?] Sepuluh menit lebih telah berlalu, tapi pesan yang kukirim tak kunjung dibacanya. Apa mungkin keadaan Bang Ahmad sangat parah dan Mas Bagas sibuk mengurus keperluannya di rumah sakit? Kuhela napas panjang, lalu memasukkan kembali ponsel ke saku celana. Berjalan santai menuju jendela dan membuka tirainya. Kilau lampu di kegelapan malam tak terlihat indah karena hujan tengah mengguyur bumi cukup deras. "Semoga kamu tidak kehujanan, Mas. Eh, tapi ... Mas Bagas 'kan pakai mobil, ya." Aku kembali duduk di sofa dan mencoba menyibukkan diri dengan menonton televisi. Namun, percuma. Mata memang fokus ke layar datar itu, tapi pikiran melambung ke mana-mana. Pendingin ruangan tak mampu membuat kepala dan hatiku adem. Rasanya gelisah tak karuan. Khawatir terjadi sesuatu

