Tiga Puluh Dua

1400 Kata

"Sayang, Papa yang membawamu ke rumah sakit lalu menelpon Mas, Papa bercerita saat meninggalkan pemakaman perasaan Papa nggak tenang lalu Papa kembali ke makam dan mendapatimu yang hampir pingsan, selama kamu pingsan Papa berdoa tiada henti, bahkan Papa menangis." Ardan memberi jeda saat melihat air mata Aisya yang hampir jatuh, lalu memeluknya erat. "Jangan sedih Sayang Mas nggak mau kamu sedih dan banyak pikiran, ingat di sini ada dedek bayi kita," elus Ardan pada perut Aisya. "Aku kangen Papa Mas!" Tangis Aisya pecah dipelukan Ardan, Ardan membelai bahu Aisya berusaha menenangkan tangisnya. "Papa juga pasti merindukan kamu Sayang, setiap hari Papa telpon Mas menanyakan keadaan kamu!" Ucapan Ardan seketika menghentikan tangis Aisya, ia mendongak menatap Ardan mencari kejujuran di s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN