Beberapa teman sekelas Bella tampak sudah hadir dengan berbagai gift ditangan masing-masing. Sebelum kedatangan mereka Dania dan suaminya sudah lebioh dulu datang dengan hadiah kecil untuk memberi semangat pada Bella. Beberapa diantara mereka memilih membawa bouquet bunga, buah dan camilan sehat lainnya. Bella tampak memaksakan senyum diwajahnya mendengar gurauan beberapa temannya. Pandangannya terlihat sibuk mencari sosok yang tadi menemaninya sampai tertidur namun tidak menemukannya. Disisi lain Dewi sibuk menata buah yang dibawa teman-temannya disebuah meja didekat Bella terbaring.
"Makasih ya, kalian semua sudah repot" Ucap Bella membuat ruangan menjadi hening seketika.
"Kita ga repot kok, Asal kamu cepat sembuh aja" Jawab Gadis berdarah america itu dengan vocal khasnya.Siapa lagi kalau buka Alexa.
"By the way. Where is he?" Tanya Alexa menatap Reno dan Dimas. Dimas dan Reno Saling bertukar pandang.
"Lexa?" Tegur Jeany sambil menarik lembut dilengan baju Alexa.
"Maksud kamu kak Albert?" Tanya Dewi dengan polosnya.
"Yes ofcourse, Bukannya kalian 3 Serangkai?" Tanyanya Lagi dengan nada khas yang terdengar lucu itu dan memang sedikit berbeda dengan Jeany yang sudah tinggal lama di Indonesia.
"He must be here right?" Ucapnya bersemangat. semua mata ikut memperhatikan sekeliling mereka.
"Bukannya Albert tadi disini?" Guman Dimas sambil melirik sekitarnya.
"Tadi ada," Jawab Dewi ikut bingung.
"Gue liat keluar sebentar" Ucap Dimas bermaksud meninggalkan mereka.
"good, Ok. it is a nice idea" Ucap Alexa membuat mereka sedikit bingung.
"Kita kesini mau jenguk kak Albert atau Bella sih lexa?" ledek salah satu siswa yang ada diantara mereka.
"hahahaha" tawa pecah serentak dari siswa itu terdengar sampai keluar ruangan. suster yang kebetulan lewat mendengar dan langsung mengetuk pintu. Keadaan menjadi hening dan seorang suster paruh baya berdiri sambil memegangi gagang pintu.
"sssssttt" ucapnya sambil menempelkan jari telunjuk diatas bibirnya.
"maaf sus" ucap mereka hampir serentak dengan nada setengah berbisik. Suster itupun langsung pergi setelah menutup pintu.
"Yaudah ya Bel, kita balik dulu ya. lu juga harus banyak istirahat biar cepat sembuh" Ucap Jeany.
"ia Jen, thankyou banget ya kalian uda nyempatin waktu" Ucap Bella sedikit terharu melihat teman-teman yang ternyata peduli padanya.
"Cepat sembuh ya bel," ucap mereka bergantian sambil d**a d**a terhadap Bella, yang membalas dengan senyuman bahagianya. Kini hanya mereka berempat yang tertinggal diruangan itu. Dimas, Reno, Dewi dan Bella.
"Tadi kita ada catatan dari guru matematika. ntar lu salin catatan gue yah" Ucap dewi sambil mengambil posisi duduk disisi Bella.
"ia wi, makasih ya" jawabnya.
"padahal besok malam acara ulang tahun gue, kok lu malah sakit sih Bel?" Ucap Reno dengan wajah yang dibuat tidak senang.
"emangnya ulang tahun lu tertunda kalo ga ada Bella?" Ledek Dimas.
"ya enggak sih, tapi kan kalo Bella ga dateng pasti Dewi ga dateng" Ucap Reno asal tapi mampu menciptakan kaget diwajah Dimas. Dimas langsung menatap Dewi dan Bella secara bergantian.
"trus kalo nggak ada Dewi emang kenapa?" Tanya Dimas jengkel.
"nanti lu ga semangat" ledek Reno membuat mereka semua tertawa.
"Dewi pasti dateng kok kak" Ucap Bella meyakinkan masih diiringi tawa.
"Trus yang jagain lu siapa?" Tanya Dewi sewot.
"Disini kan banyak perawat, ada dokter juga" Jawab Bella.
"ngga ngga ngga, Gue ga akan kemana-mana. titik!" Ucap Dewi. Dimas tentu tidak suka dengan keputusan Dewi. Tapi Dimas tidak boleh egois juga dengan kondisi Bella saat ini.
"Lagian juga bik inah nanti balik lagi kok, Dia cuman pulang sebentar untuk ambil pakaian ganti" Ucap Bella.
"tau ah, pokoknya gue ga akan kemana-mana" Ucap Dewi.
"santai aja wi, gue bisa maklumin kok" Ucap Reno
"Tu kan, kak reno aja gak papa" Ucap Dewi.
"ia bel, lagian juga ini bukan ulang tahun terahir gue" Ucap Reno membuat mereka semua tertawa. Tak lama setelah itu, Dimas dan Reno berpamitan untuk pulang.
"Albert kemana ya?" Tanya Reno pada Albert saat mereka sudah sampai diparkiran.
"tau tu anak, ilang tiba-tiba" Jawab Dimas.
"Coba lu telpon aja deh" Tambah Dimas. Reno baru saja akan mengeluarkan ponselnya Albert sudah muncul dibelakang mereka.
"Gue disini" Ucapnya membuat mereka kaget.
"heeeiiit, teriak Reno saking kagetnya.
"biji salak, ngagetin aja" Ucap Reno sambil mengelus dadanya.
"darimana aja lu?" Tanya Dimas, Albert mejawab dengan kode mengedipkan mata melirik Reno. Simas mengangguk lalu pura pura menggaruk tengkuknya. dalam hatinya dia berpikir keras tentang kado apa yang sudah disiapkan Albert untuk Reno kali ini.
"ada cabe nyariin lu" Ledek Reno berbisik ditelinga Alber
"Cabe?" Ulang Albert sedikit heran.
"ia, Cabe Amerika" Jawabnya tertawa. Albert mengerutkan keningnya.
"uuuuh, sembarangan aja lu kalo ngomong" ucap dimas sambil menutup mulut Reno dengan telapak tangannya.
"siapa sih?" tanya Albert penasaran
"masak lu ga tau si cabe Amerika sih?" Ucap reno semakin jadi menggoda Alber.
"Siapa?" Albert menyingsing lengan jaketnya dengan tampang yang dibuat mengancam Reno.
"wooittsss, Santai bang" Ucap Reno menirukan logat orang Medan.
"sini - sini gue bisikin," ucapnya membuat Albert mendekatkan telinganya.
"Alexa" Teriaknya tepat ditelinga Albert.
"Sialan lu," Ucap Albert sambil memegangi telinganya. Dimas dan Reno tertawa serentak melihat ringisan Albert.
"Udah ah, mending lu berdua ikut gue sekarang" Ucap Reno.
"Kemana?" tanya mereka serentak.
"Gue mau nikmatin 2 hari terakhir gue diusia teenager ini" ucapnya membuat mereka bertiga tertawa. Albert sedikit berat menerima permintaan Reno sahabatnya itu. Tapi dia juga tidak punya alasan untuk menentap disamping Bella.
"Ayo, malah bengong" Reno menarik lengan Albert dengan kasar membuat Albert akhirnya menurut. Sekilas Dimas menatap wajah Albert yang tak ingin pergi. Saat itu Dimas menyadari kalau sahabatnya itu sedang dilanda asmara.
"kita mau kemana?" Tanya Albert masih belum mengerti tujuan Reno.
"Itu didepan belok kanan." Ucapnya menentang maut.
"what? lu gila ya, itu jalan satu arah. jangan g****k ah" Ucap Albert menghentikan mobil dadakan. Suara klekson mobil terdengar bersahut sahutan karna Albert berhenti ditengah jalan.
"Come on man, Ini permintaan gue. Mulai besok gue janji ga akan g****k lagi" Ucapnya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk V.
"lu jangan aneh-aneh deh Ren, Kalau kecelakaan gimana?" Timpal Dimas pertanda tidak setuju.
"Masak anak motor takut sih, lu bawa motor juga ugal-ugalan" Ledek Reno terlalu bersemangat menentang arus lalu lintas.
"Tapi gue ga gila juga lawan arah k*****t" Ucap Dimas. Bunyi klekson mobil dibelakang mereka terdengar semakin ramai.
"1,2,3" Ucap Reno dan Albert nekat mengikuti intruksi Reno. Mobil itu sudah membelok kekanan dengan tikungan yang sedikit tajam namun dengan kecepatan rendah.
"Kok jalanannya sepi?" Tanya Albert sambil memperhatikan jalan yang kosong.
"lanjut aja" Ucap reno santai. Dimas hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat kelakuan dua manusia didepannya itu. Jalanan itu tampak seperti jalan impian para bucin.
"Kemana lagi nih? Tanya Albert ketika mereka sudah sampai dipertigaan ujung jalan.
"Ke kiri" Jawab Reno setelah beberapa saat memastikan tujuan mereka.
"Sebenarnya lu mau kemana sih?" Tanya Dimas semakin heran
"Surganya para pujangga" Jawab Reno asal. Satu tabokan pedas mendarat dilengan Reno.
"Lu jangan aneh-aneh deh" Ucap Albert namun masih mengikuti instruksi Reno.
"gue jamin dah, lu berdua pasti suka" Ucap reno mantap. Albert tidak punya pilihan lain selain terus menurutinya.
"Gue harap lu ga mati sebelum ulang tahun" Ucap Dimas sarkas.
"eit, ga mungkinlah, Gue kan belum kawin" Ucap Reno membuat suasana jadi tawa. setelah menempuh jarak puluhan kilometer dengan durasi 155 menit.
"Stop stop stop" Ucap Reno tiba-tiba tepat didepan sebuah apartemen dengan bangunan yang menjulang tinggi.
"Disini?" Tanya Albert memastikan.
"masuk kedalam boss, ga bisa parkir di sini boss" Jawab Reno dengan tampang yang dibuat aneh.
"Ngapain kita disini?" Tanya Dimas yang ikut tak menegrti.
"ikut aja, ga usah banyak tanya" Ucap reno. Dimas kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Albert hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mobil pun kini terparkir tepat sesuai intruksi Reno.
"uda siap dengan kejutan gue?" Tanya Reno seakan bukan dia yang akan berulang tahun.
"ok" ucap dimas dan Albert serentak. reno menuntun mereka memasuki lift dan menekan tombil 11.
"lantai 11?" Albert memastikan.
"yes" Jawab Reno menyejajarkan posisi berdirinya diantara Dimas dan Albert. Tidak ada pembicaraan diantara mereka selama lift berjalan hanya Dimas dan Albert yang berulang kali saling bertukar pandang. lift pun berhenti dan pintu lift terbuka. Reno yang melangkah dengan percaya diri diikuti oleh Dimas dan Albert. Reno berhenti disalah satu pintu dan mengeluarkan kunci dari saku celananya.
"here we go" Ucap Reno setelah pintu terbuka. "WELCOME HOME" terpampang jelas saat pintu terbuka.
"what?" ucap Dimas dan Albert menganga tidak percaya.
"lu serius? Dimas memastikan sambil menepuk-nepuk pipinya.
"yes" Ucap Reno merapikan kerah seragam sekolah yang masih mengantung dibadannya.
"Gue ga ngerti" Ucap Albert.
"this is my birthday gift" Jawab Reno dengan gaya sombong.
"apartement?" ucap Albert masih belum percaya. Reno hanya mengangguk berkali-kali sampai akhirnya mereka bertiga berteriak bersama.
"gila gila gila, ini sih gila" Ucap Albert sambil memeluk sahabatnya itu.
"this is the best gift that I have till today bro" Ucap Reno sangat terharu.
"ooh man, You are so lucky" Ucap Dimas sambil menyalami Reno ala gentleman.
"yea, I thank God about this man" Jawabnya tak kalah bersyukur.
"but, wait a second. gue masih punya kejutan yang lain" Ucapnya membuat Albert dan dimas kembali bertukar pandang. Reno berjalan menuju dapur dan membukasebuah kulkas berukuran raksasa. Perabotan diapartemen Reno memang sudah lengkap dan semua itu adalah barang yang dipilih olehnya sendiri.
"we need to try this man" Ucapnya kembali dengan sebotol minuman ditangannya.
"no way, lu jangan gila" Albert sedikit kaget melihat Reno bertingkah seperti itu.
"Come on man, gue bilang try, bukan mabuk. Ok?" Ucapnya lalu meletakkan botol haram itu diatas meja. Dimas dan Albert lalu duduk disofa yang berhadapan dengan meja tersebut.
"Gue ambil gelas dulu" Ucap reno dan langsung melangkah kedapur.
"Kok ada yang aneh ya?" Ucap Dimas tak percaya kalau sahabatnya itu memiliki keinginan terpedam untuk mengkonsumsi alkohol.
"kita ga bisa biarin ini" Ucap Albert yang setuju dengan Dimas.
"Here we go" Ucap Reno yang kembali dengan 3 gelas berukuran mini yang disebut sloky ditangannya.
"tapi ingat, hanya mencoba" Ucap Reno meletakkan didapan mereka masing-masing. Wajah yang tadinya menolak bahkan untuk sekedar mencoba itu akhirnya terlihat jinak. wajah itu seakan mengatakan 'it's ok, hanya sedikit'. Reno kemudian menuangkan kesetiap sloky dan mengangkatnya.
"tos?" Ucapnya sambil memandangi kedua sahabtnya itu.
"ok" ucap mereka serentak dan mengangkat gelas kemuan tos.
"ini untuk lu berdua yang sedang kasmaran" Ucap Reno lalu menengguk satu sloky pertamanya.
"beeek" Albert Dan Dimas terdengar mengeluarkan kalimat yang sama.
"b**o, ini rasa apaan" ucap dimas dengan ekspresi yang aneh tampak jelas diwajahnya.
"ga ngerti gue" Timpal Albert tak kalah ekspresi. Reno menuangkan lagi kesetiap sloky untuk yang ke dua kalinya.
"lu doyan?" Tanya dimas melihat Reno tampak menikmati.
"ini untuk kita bertiga" Ucap Reno membuat Albert dan Dimas kembali harus menurut. mereka mengangkat gelas dan kemudian tos ke dua.
"Semoga kita tetap bersahabatan sampai kain kafan yang menutup tubuh" Ucap Reno membuat Albert terharu mendengar doa doa sahabatnya itu. tenguukan kedua pun selesai. tapi siapakah didunia ini yang berdoa dan meminta hal hal baik saat bersama minuman haram itu?
"Sumpah sih ini gila" Ucap Dimas.
"Ini belum seberapa" Ucap reno
"maksud lo?" Teriak Dimas dan Albert serentak. Reno kembali menuangkan kesetiap gelas untuk yang ketiga kalinya.
"Ren, ini pertama kali kita minum yang beginian. jangan banyak-banyaklah" Ucap Dimas menahan Reno.
"come on man" tepisnya melanjutkan
"Bukannya tadi kita hanya try?" Ucap Albert mengingatkan Reno.
"Tanggung Ucap Reno dan ketiga sloky itu sudah terisi.
"ini untuk kalian yang sudah menjadi teman terkampret gue" Ucap Reno mengangkat gelasnya. Dimas dan Albert akhirnya menuruti. 3 sloky masing-masing kini berhasil dilalui. Mereka menghabiskan beberapa saat dengan gurauan dan saling meledek satu sama lain.
"gue laper nih", ucap Reno sambil memegangi perutnya.
"sama, gue juga" jawab Dimas.
"tenang, kita pesan online aja" Ucap Reno mengeluarkan ponselnya. tak lama kemudian petugas pizza mengetuk pintu dan mengantarkan pesanan mereka. Mereka tampak berebut dan menikmati hidangan Reno hari ini. Begitulah hari itu berlalu dan hari sudah sangat gelap saat mereka memutuskan untuk pulang kerumah.