"Sekolah mana yang pulang selarut ini?" Albert sudah disambut oleh mama dan papanya persis didepan pintu. Mamanya yang berdiri sambil melipat tangan tdidadanya menunjukkan wajah marah, sedangkan papanya yang berdiri dengan mengantongo kedua tangannya membuat jantungnya berdebar sangat cepat berusaha menjauh agar aroma alkohol yang sempat dinikmatinya tidak tercium oleh orangtuanya.
"emang kakak pindah sekolah ya ma?" Tanya adik perempuannya sengaja meledek Albert.
"Maaf ma, tadi Kita kerumah sakit. ada teman yang sakit" Jawabnya tidak sepenuhnya berbohong.
"Al, papa ga pernah melarang kamu untuk berbuat baik dengan menjenguk teman yang sakit" Ucap papanya Dengan wajah tampak tidak senang.
"Maaf pa,
"tapi kalau bolos untuk menjenguk teman itu tidak wajar" Ucap papanya memotong ucapan albert.
"siapa yang sakit?" tanya mamanya membuat wajahnya memerah tiba-tiba.
"itu mah, ekhem. Teman" jawabnya menundukkan wajahnya.
"teman yang mana?" tanya mamanya bertubi-tubi.
"anu mah, satu sekolah" Ucapnya semakin pelan.
"Apa harus bolos al?" tanya mamanya tegas.
"maaf ma, ucapnya menunduk.
"mama ga mau ya kamu harus bolos lagi untuk alasan apapun. mama sama papa sekolahin kamu baik-baik berharap kamu bisa bejalar dengan baik" Ucap mamanya sedikit meninggikan nada suaranya.
"sudah ma sudah, tahan papanya sambil menenangkan mamanya.
"sudah gimana pa? ini anak uda bolos sekolah, bolos dari bimbingan, malah pulang larut malam. Ucap mamanya.
"ini juga pertama kalinya dia berbuat salah, namanya anak muda ma" Papanya tampak sedikit membela. Albert sedikit menghela napas dan lebih tenang. Namun dia belum berani mendekati papa dan mamanya.
"mama ga mau ini terulang lagi" Ucap mamanya sambil menatap Albert.
"ia ma, al janji. makasih ya ma" jawabnya menebarkan senyum manis yang meluluhkan hati mamanya.
"al ke kamar dulu ya ma, pa" ucapnya berusaha menghindar dengan setengah berlari.
"eh eh eh, kamu ga cium tangan dulu?" Teriak mamanya. jantungnya kembali berdetak tak normal.
"pelan-pelan dia kembali dan mengulurkan tangannya dari jauh, mamanya menyambutnya dan dia menciumnya. setelah mamanya melepaskan tangannya dia merasa sedikit lega. kali ini dia tak punya keberanian untuk menatap papanya apalagi lebih dekat. mungkin mamanya tidak mengerti tentang aroma minuman. Tapi mungkinkah papanya juga tidak mengerti? papanya menariknya lebih dekat dan menuntunnya kearah kamarnya.
"papa mau kemana?" mamanya terlihat heran
"urusan pria," jawab papanya membuat Albert semakin cemas. "tamat gue" batinnya. pintu kamar albert kini tertutup setelah mereka tiba didalamnya.
"apa dia seorang perempuan?" pertanyaan tak terduga keluar dari papanya. Albert berusaha tersenyum.
"kok ga dijawab?" tanya papanya terlihat sangat bersemangat. Albert akhirnya mengangguk perlahan-lahan.
"huh" Papanya menghembuskan napas panjang terlihat lega.
"Syukurlah, papa lega" Ucap papanya sambil mengelus dadanya.
"maksud papa?" albert membesarkan matanya tak mengerti.
"mencium kamu bau alkohol hari ini, dan mendengar kamu bolos sekolah untuk seorang perempuan membuat papa percaya kalau kamu normal" Jawaban yang sangat mengagetkan bukan. bagaikan tersambar petir disiang bolong. Albert tak tau harus berkata apa, dia terdiam dengan tangan yang otomatis menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bahkan hanya bisa bengong dan membiarkan papanya keluar begitu saja. Setelah papanya menutup pintu dia berpikir untuk beberapa saat.
"Apa papa pikir gue homo?" Gumannya kembali menggaruk kepalanya.
"mama ngapain depan pintu?" Ucap papanya yang tiba-tiba melihat istrinya itu sudah berdiri depan pintu kamar Albert.
"mama nguping ya?" Ucapnya lagi. wanita paruh baya itu hanya memanyunkan bibirnya dan pergi begitu saja.
"Dasar wanita" Gumannya kemudian mengikuti istrinya yang sudah memasuki kamar.
*****
Dimas yang berusaha masuk diam-diam dengan langkah kaki yang sudah dibuat sepelan mungkin. Pintu rumah terbuka dengan sukses, Pelan-pelan dia menutupnya sampai tidak menimbulkan suara. Setelah pintu tertutup dengan sukses dia pelan-pelan menghela napas dan mengelus dadanya.
"ceklek" Ruangan menjadi terang seketika. Dimas Melayangkan pandangannya sejajar sisi kanan dan menemukan wanita paruh baya sedang berdiri disana dengan wajah yang sangat familiar.
"mam, mama belum tidur?" Ucap nya sambil menggosok tengkuknya dengan telapak tangannya.
"jam berapa ini?" ucap wanita itu dengan wajah datar.
"he, ini... jam, itu jam sebelas ma" jawabnya menebarkan senyum palsu.
"ada rencana pulang lebih larut untuk besok?" Tanyanya memudarkan senyum palsu Dimas. Dimas hanya mampu menggelengkan kepalanya.
"maaf ma, tadi Dimas kerumah sakit" Ucapnya tanpa janjian bisa menjawab sama dengan Albert.
"siapa yang sakit?" Ekspresi mamanya seketika berubah menjadi iba.
"Adek kelas ma," jawabnya jujur. meskipun itu bukan alasan utamanya pulang larut.
"sakit apa?" Mamanya semakin kepo.
"cuman demam biasa kok ma, mungkin kecapean. Jawab Dimas.
"semoga teman kamu cepat sembuh ya, yaudah kamu masuk aja. langsung mandi yah, habis itu makan malam dulu biar ga masuk angin. Setelah itu kamu langsung istirahat. Biar besok ga telat bangun" Dimas mengangguk dan merasa menang karna berhasil mengalihkan kekesalan mamanya.
"ia ma, maaf ya ma" ucapnya sedikit merasa bersalah karna mamanya harus menunggunya untuk pulang. Padahal mamanya harus banyak-banyak istirahat dengan kondisi yang kurang fit sejak lama.
"ia, tapi kamu ga bohong kan" Ucap mamanya. Dimas hanya menggeleng tak berani menatap mamanya. Kakaknya yang berdiri tak jauh dari mereka memperhatikan pembicaraan mereka.
"Yaudah, kamu masuk kamar gih" Ucap mamanya.
"ia ma, mama juga ya, d**a mama, I love you" Ucapnya membuat mamanya tersenyum lebar.
"SSst" kakanya Dino menghentikan langkah kakinya.
"tumben-tumbenan lu pulang selarut ini, Ucapnya dengan tatapan meledek.
"bukan urusan lu" jawabnya kemudian menjulurkan lidah. Dino mengikuti nya sampai kekamar dan membaringkan tubuhnya diatas kasur Dimas.
"Darimana aja lu pulang selarut ini?" Cecernya seakan dia tau kalau dimas tak sepenuhnya jujur terhadap mama mereka.
"kepo" jawabnya membuat Dino menarik bantal dan melemparnya.
"ga sopan" Ucap dino tau kalau dimas sedang menutupi sesuatu. Dimas membuka seragam atasnya dan melemparkannya diatas d**a Dino untuk membalas serangan Dino. Dino dengan gerakan cepat menangkap dan berniat melempar kembali. tapi tangannya terhenti saat mencium aroma berbeda disana. Dia kembali mendekatkan seragam itu ke hidungnya dan dia menjadi yakin.
"Lu habis minum?" Pertanyaan Dino spontan membuat Dimas membalik badan dan mnatapnya.
"Minum apaan?" kilahnya berusaha menutupi.
"Jangan bohong lu, Ni cium baju Lu" Dino melemparkan kembali bajunya dan Dimas tak bisa berbohong lagi.
"ngaku lu" Ucap Dino.
"ka, jangan bilang mama ya. gue ga bisa nolak Reno kak. Dia tadi ngajakin gue sama Albert bertiga. dia kan mau ulang tahun" Ucapnya terpaksa jujur.
"kak kuk kak kuk, ada maunya aja lu panggil gue kakak" Jawab Dino
"kak, gue mohon sama lu. Lu jangan jahat banget jadi kakak. jangan bilang mama ya, Please" Dimas kini memasang wajah memelas untuk meluluhkan hati kakaknya.
"ok, dengan 1 syarat" Bukan Dino namanya kalau membantu tanpa imbalan.
"yah, jahat banget kan" Ucap Dimas yang sudah sering menjadi korbannya.
"Mau gue bantu apa gue laporin?" Dino semakin jadi.
"yauda syaratnya apa?" Mau tidak mau Dimas harus menuruti Dino.
"Minggu depan gue ada meeting diluar kota selama 5 hari"
"trus?"
"berhubung karna gue sibuk untuk persiapan materi meeting, lu harus belanja untuk kebutuhan gue"
"what? ke mall?" Dimas yang tidak tertarik dengan mall tentu sangat tidak senang dengan persyaratan Dino.
"ga maksa sih, tapi sepertinya mama belum tidur" Ucap Dino sambil melirik jam tangannya.
"eh eh eh, ga kok, gue ga nolak." Dimas terpaksa menerimanya karna ancaman Dino.
"ok, besok gue kasi ATM sama kunci mobil yah" Ucap dino sambil menepuk dilengan Dimas.
"yah, jangan besok dong. besok kan ulang tahunnya Reno kak" Jawab Dimas.
"ok, dimaklumi, Lusa, 'no debate'," Ucap Dino menebarkan senyum kemenangan.
"Siap Komandan!" Ucap Dimas membalas dengan senyuman palsu.
"dan ingat, gue ga suka warna terang dan lebay. yang nude-nude aja" Ucap Dino mengingatkan.
"ga akan lupa sih gue, masih pengen hidup soalnya" Jawab Dimas tak punya pilihan lain.
"dan 1 lagi. ukuran gue 1 nomor diatas ukuran lu" Dino menatap Dimas sesaat dengan wajah Dimas yang penuh senyum kepalsuan itu kemudian pergi tanpa pamit. Dimas menghusap wajahnya dan merasa sedikit lega setelah Dino keluar.
Sementara Reno bisa masuk dan keluar rumah tanpa ada yang perlu dikawatirkan. Dia yang mendapat kepercayaan penuh dari keluarganya membuatnya merasa lebih bebas dari kedua sahabatnya itu. Tapi tidak ada jaminan kalau dia kaan selamat dari amukan ibunya jika mengetahui apa yang sudah dia coba lakukan hari ini bersma teman-temannya. Terlebih kalau ibunya harus tau dia yang menghasut mereka untuk melakukannya.
"tok tok tok" Ketukan pintu terdengar dipintu kamarnya.
"Reno." Ibunya memanggilnya namanya dengan nada Lantang.
"coming" jawabnya kemudian meninggalkan istana game nya.
"waktunya tidur" Ucap mamanya yang sudah berpakaian kimono.
"tanggung ma," Jawabnya masih semangat untuk melanjutkan gamenya.
"tidur sekarang atau.."
"ok ok ok, tidur" Ucapnya memotong ucapan mamanya tak ingin mendengar mamanya mengeluarkan ancaman akan mengirimnya kuliah diluar negri.
"sekarang!" ucap mamanya semakin tegas. Reno berbalik dan mematikan Komputernya. kemudian meninggalkan kursinya dan beranjak menuju tempat tidurnya. mamanya kemudian masuk dan mengambil stick gamenya. Memang tertalu berlebihan, tapi begitulah mamanya harus memperlakukannya agara dia bisa mendapatklan intirahat yang cukup. tentu mamanya tak ingin menyaksikan anaknya harus berbaring dirumah sakit lagi karna alasan kelelahan sampai harus membuatnya sekarat berhari-hari.
******
Dewi baru saja berpamitan kepada mamanya dan melihat kalau Dimas sudah tiba didepan rumahnya dengan Sepeda motor kesanyangnnya.
"ooh, Dijemput lagi?" Ucap mamnya terlihat menggoda putri semata wayangnya itu.
"ih, ama" Ucapnya malu malu lalu setengah berlari menghampiri Dimas.
"Good morning" Ucap Dimas sambil menawarkan helm yang langsung disambut Dewi.
"Morning" Jawabnya senyum.
"hmmm, Dua sijoli yang kasmaran tiba nih" Ledek reno melihat Dimas dan Dewi memasuki parkiran.
Albert menoleh sesaat dan ikut tersenyum. Sedangkan Sesel yang berangkat berbarengan dengan Albert dan Reno mendengus dan langsung meninggalkan parkiran. Dengan sengaja dia memutar badannya dan beradu pandang dengan Dewi. Dari tatapan Sesel seakan mengatakan kalau Dewi dalam bahaya. Dimas yang fokus dengan jalannya tak begitu menghiraukan kalau sesel melihat mereka.
"nanti siang aku anterin kerumah sakit ya" Ucap Dimas saat motor sudah terparkir sempurna. Dewi hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Dimas mengambil helm dari tangan Dewi dan menempatkanya diatas motornya.
"Dewi masuk dulu ya kak" Ucap dewi lalu melambaikan tangannya. Dimas mengangguk dan membalas lambaian kecil.
"uda udahg udah, ga usah diliatin terus. ga bakal ilang" Ucap Reno meledek Dimas yang masih menatap Dewi dari belakang. Dimas meninju pelan diperut Reno sebagai balasan ledekannya.
"auh" Cuman segitu pukulan lu" Ledeknya semakin jadi.
"Good morning kak Albert" Suara khas dari Alexa membuyarkan candaan Reno Dan Dimas seketika.
"hi.. good morning" Jawab Albert tersenyum.
"I have something for you" Ucapnya sambil menyodorkan sebuah kotak makan.
"Buat gue?" Ucap Albert menunjuk dirinya. dari sekian gadis-gadis yang menggemarinya mungkin ini yang paling gila. ga ada angin ga ada hujan tiba-tiba bawa kotak makan dan menawarkan kepada Albert.
"yes, buat you" Ucap Alexa melebarkan senyum indahnya.
"ga usa xa, gue uda sarapan kok" Ucap Albert berusaha menolak halus.
"ini camilan kok, bukan sarapan" Ucap Lexa memurungkan wajahnya. Albert tentu saja tidak enak melihat ekspresi itu.
"ooh gitu, yaudah deh. than kyou" ucap albert akhirnya menerimanya.
"you are welcome" Ucap alexa sangat girang. Dia kemudian pergi dengan langkah setengah berlari tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.
"cieeee. Cabe Amerika" Ledek Reno
"oooo..." Ucap Albert akhirnya paham. Dimas hanya bisa menahan tawa menyaksikan pemandangan yang baru saja terjadi.
"mending sekarang kita masuk kelas, mumpung masih ada banyak waktu buat makan" Ucap Reno. Albert dan Dimas setuju dan sesampainya dikelas membiarkan camilan nuget dan roti bakar isi daging Ala Lexa menjadi sarapan pagi Reno. Sesel tiba-tiba muncul dari pintu dan masuk kelas dengan langkah santai. Dimas memutuskan untuk bertukar bangku dengan Albert agar bisa mengawasi Sesel.
"ngapain lu duduk disini?" Ucap Sesel yang sebenarnya bisa menebak tujuan Dimas.
"Lu ga akan senang kalau gue jawab" Ucap Dimas
"t-e-l-a-t" Ucap Sesel dengan nada ditekan.
"maksud lu?" Ucap Dimas. Sesel menegakkan kepalanya dan memberi kode dengan jari melewati lehernya. Dimas menatapnya tajam dan memutar otak untuk beberapa detik.
"lu habis dari mana?" Tanya Dimas mulai kawatir.
"Dari gedung sebelah, Lantai 1." Ucapnya santai. Wajah Dimas berubah derastis dan langsung berdiri. Dia menatap Sesel beberapa detik.
"Kalau terjadi sesuatu dengan dia, gue ga kan pernah maafin lu dan ga akan pernah ada ampunan buat lu" Ucap Dimas langsung berlari keluar kelas. Sesel hanya tersenyum sungging dan menampilkan wajah sinisnya.