"Dim, Lu mau kemana?" Teriak Reno melihat Dimas berlari meninggalkan ruangan. Albert yang ikut kaget ikut memperhatikan namun tidak berbuat apa-apa.
"Jangan bilang lu bikin masalah lagi" Ucap Reno sambil mengarahkan jari telunjuknya terhadap Sesel.
"apaan sih?" Sungut Sesel cuek. Albert menatap tingkah Sesel yang berusaha santai dan menyadari kalau kondisi saat ini tidak akan baik bagi Sesel berbagi Meja dengan Dimas. Dia akhirnya memutuskan untuk kembali duduk disebelah Sesel. Sesel hanya melirik dengan ekor matanya dan kembali tersenyum sinis.
"Lu bisa ga sih ga usah cari masalah terus bentak Reno geram dengan kelakuan Sesel. Sesel berdiri dari duduknya dan menatap tajam terhadap Reno. Seluruh siswa yang sudah tiba dikelas memandangi mereka yang sedang perang mulut.
"Gue ga ada urusan sama lu" Ucapnya sambil mencondongkan tubuhnya.
"Lu
"Udah ren, sabar ren" Albert berusaha menahan Reno yang sudah dipenuhi emosi.
"Kenapa? Lu juga naksir sama Dewi?" Teriak Sesel membuat semua mata semakin memandang aneh terhadap mereka.
"jaga ya mulut lu" Ucap Reno sambil mengcungkan jari telunjuknya.
"santai aja dong" Ucap sesel sewot.
"percuma ngomong sama lu" Ucap Reno yang tau hanya akan sia-sia jika harus berdebat dengan perempuan didepannya itu. Akhirnya dia duduk dan memilih diam.
"ulala" Terdengar bisik-bisik gadis yang ada dikelas Dewi.
"hi kak Dimas" Ucap mereka bergantian sambil menatap langkah Dimas berjalan menuju meja Dewi. Dewi langsung berdiri dan menyaksikan Dimas menghampirinya dengan wajah kawatir yang tak bisa disembunyikan.
"cie-cie" teriak beberapa diantara mereka dan berdehem tak jelas namun tak dihiraukan oleh Dimas.
"Kamu ga pa-pa?" Ucapnya begitu bertatap muka dengan Dewi. Dewi sedikit heran dan menggeleng dengan cepat.
"apa dia kesini?, Dia ngomong sesuatu?" Ucap Dimas tak mudah percaya begitu saja.
"dia siapa?" Tanya Dewi semakin tak mengerti. Dimas melihat sekelilingnya seakan tak ingin orang lain mendengar pembicaraan mereka.
"lupain aja, aku akan duduk disini sampai pelajaran dimulai" Ucapnya kemudian menduduki bangku Bella yang masih kosong.
"kak?" Ucap Dewi semakin heran.
"ya ampun manis banget" Bisikan beberapa gadis disana sempat terdengar oleh Dimas.
"kakak ngapain disini?" Tanya Dewi setengah berbisik.
"ga ada larangan kan kalau aku ga boleh kesini" Ucap Dimas.
"ya tapi ga enak diliatin sama temen-temen kak" Ucap Dewi merasa sedikit risih.
"cuek aja, Jawab Dimas santai.
"kalau kak Dimas satu kelas sama kita pasti betah deh" Ucap salah satu teman dikelas Dewi.
"ia ni, pasti bakal rajin berangkat sekolah" Timpal gadis lainnya.
"please deh lo ga usah lebay" Ucap Alexa membuat Dimas tersenyum tipis. bukan hanya dimas, beberapa siswa yang lain juga ikut tertawa mendengar Alexa.
"But kak Dimas, kalu lu mau dateng kesini jangan sendirian" Ucap Lexa berharap.
"maksudnya ucap Dimas.
"ajakin kak Albert" ucapnya dengan gaya centil.
"huuuuuu" teriak siswa yang lain serentak.
"kak, sebentar lagi mau bel. kakak balik kekelas kakak ja" Bisik Dewi berusaha bersikap biasa.
"masih ada 5 menit," Ucap Dimas santai.
"tapi kak,
"tapi apa?" Ucap Dimas sambil meraih jemari tangan kanan Dewi. Wajahnya merona seketika.
"kok ga dijawab?" ucap Dimas masih berbisik. Dewi berusaha melepaskan jemarinya dari genggaman Dimas. Jantungnya berdetak sangat tidak bersahabat saat itu. Detaknya semakin kencang dan semakin tak terkendali.
"lepasin kak, ga enak dilihat orang" Ucap Dewi dan Dimas melirik sekitarnya untuk beberapa saat. Akhirnya dia perlahan-lahan melepaskannya. Namun rasa senangnya tak bisa dia pungkiri melihat wajah dewi merona membuatnya seakan terbang diangkasa.
"mending sekarang kakak balik kekelas deh" Ucap Dewi mengulang permintannya.
"ok, tapi kamu harus nurutin satu kemauan aku" Ucap Dimas memberi syarat. Sepertinya ini trik yang dia dapatkan dari Dino kakaknya.
"permintaan apa?" tanya Dewi sambil meliriknya.
"kamu harus mau" Ucap Dimas cepat.
"mau apa?" Dewi tak bisa menebak apapun yang kemungkinan akan diucapkan oleh Dimas. Dimas menatapnya dan tak bisa berkedip saat mereka harus beradu pandang dalam beberapa detik.
"mau nemenin aku makan siang" Jawabnya perlahan-lahan. Dewi berekspresi heran sambil menyipitkan matanya.
"ok" jawabnya setuju. Dimas pun beranjak dan bersamaan dengan itu suara bel pun berbunyi.
"see you ucap Dimas, Dewi hanya bisa mengangguk.
"Dimas?" Sapa ibu guru cantik yang masih terlihat muda itu saat berpapasan didepan pintu.
"kenapa kamu ada disini?" tanyanya penuh selidik.
"habis ngapelin Dewi bu" Jawab Lexa membuat satu kelas tertawa. Dewi hanya bisa menahan malu dibalik pipinya yang kembali merona.
"Dimas?" Guru cantik itu kembali memanggil dengan nada bertanya.
"ini saya mau kembali kekelas bu" Jawabnya kikuk. Akhirnya Ibu guru yang dipanggil Karin itu memberikan jalan. Dimas langsung mengambil langkah seribu untuk menuju kelasnya. Tapi terlambat, Wali kelasnya sudah lebih dulu tiba didalam kelas.
"tok tok tok" Perlahan-lahan dia mengetuk pintu yang masih terbuka itu membuat seisi ruangan menoleh kearahnya.
"Darimana kamu?" Tanya gurunya setelah melirik jam tangannya.
"itu bu, Dari toilet" jawabnya berbohong. Gurunya itu menatapnya beberapa detik kemudian memberi kode untuk duduk dengan menganggukkan kepalanya. Dia sempat berjalan sambil menatap tajam terhadap Sesel. Semua orang tentunya bisa menyadari sikap Dimas kali ini.
"Lu darimana?" bisik Reno saat Dimas sudah duduk disebelahnya. Dimas hanya menoleh sesaat dan mengabaikannya. Dia kemudian mengambil tas nya dan mengeluarkan buku pelajarannya. Dimas tak bisa fokus pada pelajarannya kali ini. Sebuah rasa bersalah menciptakan sakit dihati Dimas. Dewi tidak akan berada dalam sasaran Sesel jika saja Dimas tidak menaruh hati pada gadis tak berdosa itu. Namun sebagai seorang lelaki Dimas punya prinsip kuat. Baginya Tidak ada kata mundur saat dia sudah membuat komitmen terhadap sesuatu. Pelajaran hari ini baginya tidak seperti biasanya. Entah kenapa hari ini waktu terasa berputar sangat lambat.
******
Dimas sudah menunggu didepan kelas Dewi saat Dewi masih sibuk merapikan peralatan belajarnya. Tak jauh dari sana Sesel tampak menahan langkah kakinya melihat Dimas berdiri layaknya siaga. Dia mundur dua langkah dan mencari sudut untuk menutupi keberadaannya.
"sial, Ngapain sih dia Disana?" Sungutnya sambil mengepalkan kedua tinju tangannya.
"liat aja, Lu sendiri yang kan memohon kegue Dimas, Seperti dulu" Gumannya terlihat jengkel. Dia segera meninggalkan tempat itu dan berjalan cepat menuju parkiran.
"kak Dimas?" Dewi tersenyum lebar melihat Dimas sudah menunggunya disana.
"ayo" Ucap Dimas semangat. Dewi hanya mengangguk dan berjalan berdampingan dengan Dimas.
"kenapa harus nunggu disini?" Tanya Dewi.
"kenapa harus diparkiran?" Ucap Dimas tak menjawab. Dewi hanya tersenyum semakin lebar.
"kita makan dimana ya?" Sebuah pertanyaan yang tampaknya diucapkan Dimas untuk dirinya sendiri.
"kita makan dekat rumah sakit aja ya kak, sekalian jengukin Bella" pinta Dewi.
"boleh tu" Jawab Dimas.
"kamu uda pernah makan diwarung pinggir jalan belum?" Tanya Dimas membuat Dewi sedikit kaget. Dimas menatapnya sesaat dan Dewi hanya menggeleng.
"tertarik?" Sebuah penawan yang baru Dewi dapatkan seumur hidupnya.
"sure" Jawab Dewi meskipun masih terlihat ragu-ragu
*****
Dimas memarkirkan motornya tepat disebuah warung makan terbuka dipinggir jalan yang terlihat sangat sederhana..
"Silahkan mas, mba" Seorang pelayan dan satu-satunya pelayan disana datang dengan Menu ditangannya. Dewi sempat melihat sekelilingnya yang sangat asing baginya. Tempat itu terlihat tidak higienis dengan meja dan kursi seadanya. bahkan buku menu yang baru saja diterima Dimas itu terlihat kusam dengan sudut-sudut yang sudah kotor dan lapisan plastik yang terlihat jelas sudah sobek. Dewi sempat menelan ludah saat melihat dibawah meja tak jauh dari mereka ada beberapa sampah tissu bekas yang dibiarkan begitu saja. Dia duduk dengan sedikit ragu namun masih berusaha menutupinya.
"kamu mau makan apa?" Tanya Dimas terlihat sangat tau dengan tempat itu. Dimas bahkan terlihat sangat santai saat memilih menu makananya.
"Terserah kak Dimas aja" Jawabnya pasrah.
"ok, kamu harus coba menu yang aku pilih" jawab Dimas sambil menulis disebuah kertas kosong.
"ini menu andalan ditempat ini" Tambah Dimas lalu memberi kode untuk memanggil pelayan.
"Tongseng kambing 2 porsi, Jus Jeruk 2 gelas ya" pelayan itu membacakan pesanan Dimas yang sudah tertulis disana.
"ha?" Dewi sempat mengaga saat mendengar tongseng kambing.
"kenapa? kamu ga suka ya?" tanya Dimas.
"Suka kok kak, tenang aja" Jawab Dewi. Dia kemudian teringat pengalam masa kecilnya yang selalu berebut tongseng dengan Bella. Dia kemudian tersenyum mengingat kenangan itu.
"hello," Dimas memetik jarinya tepat didepan wajah Dewi yang melamun.
"eh" Dewi sedikit kaget dan tertawa kecil melihat Dimas menatapnya.
"kamu ngelamunin apa?" Tanya Dimas memperhatikan tawa riang diwajah Dewi.
"dulu Dewi sering rebutan makanan sama Bella" jawabnya. Obrolan mereka terlihat panjang dan nyambung. Mereka berkali-kali saling tertawa dan saling berbagi kisah membuat mereka semakin akrab dan mengenal satu sama lain dengan cepa, hingga makanan itu habis tanpa terasa.
******
"hi... "Dewi terlihat bersemangat saat melihat Bella sedang duduk menikmati makan siangnya. Seseorang yang sedang duduk disisinya terlihat setia menyuapi Bella makan. Dimas memperhatikan sosok yang tak asing itu dan sedikit tidak percaya.
"hi wi" Ucap Yudha setelah menoleh.
"Kak yudha disini?" Ucap Dewi sedikit heran.
"ia wi, aku denger dari anak-anak kalau Bella lagi sakit, Jadi aku mutusin untuk jengukin Bella. Kebetulan tadi Bella belum makan jadi aku bantu" Ucapnya menjelaskan panjang lebar. Dimas berpikir sejenak dan menyadari kalau dia salah paham terhadap kedekatan Dewi dengan Yudha beberapa waktu lalu.
"bik Inah mana?" Tanya Dewi membuyarkan renungan Dimas.
"bibik lagi makan siang dikantin. kasian dia disini terus" ucap Bella.
"om Bas?" Tanya Dewi berharap Baskoro tidak mengacuhkan Bella saat kondisi seperti ini.
"Tadi pagi papa kesini, tapi harus kekantor karna ada meeting" Jawabnya jujur.
"ooo" Ucap Dewi sambil mengangguk.
"wi, aku tinggal ya. aku mau bantuin Reno nyiapin acara ulang tahunnya" Ucap Dimas pamit.
"ia kak, makasih ya" Ucap Dewi membalas senyumnya.
"ia, Gue pamit ya Bel, Cepat Sembuh ya" Ucap Dimas.
"ia kak. hati-hati ya kak" Ucap Bella terdengar lebih baik dari kemarin. Dimas mengangguk dan berlalu. Dewi memilih untuk duduk disofa yang tersedia diruangan Bella karna tidak ingin mengganggu Yudha dengan Bella. Dewi yang tau persis kalau Yudha mnenaruh hati terhadap sahabatnya itu terlihat pantas untuk Bella. Tidak hanya tampan dan baik, Lelaki itu juga sangat pintar dalam belajar, selain itu dia suka membantu orang lain. Seperti petugas perpustakaan contohnya. Albert yang melihat perlakuan Yudha terhadap Bella akhirnya mengurungkan niatnya untuk masuk. Diam-diam dia hanya bisa melihat dari kaca kecil yang ada dipintu itu.
"Semoga cepat sembuh bel" Ucapnya lalu pergi meningggalkan tempat itu.
"o ia Bel, tadi ada yang nitipin surat buat kamu" Ucap Yudha sambil mengeluarkan sebuah kertas yang terlipat rapi dari sakunya. Bella mengambilnya dan memperhatikannya sejenak.
"Dari siapa kak?" Tanya Bella sedikit heran. Jika itu temannya harusnya dia bisa mengirimkan pesan singat lewat ponsel bukan, kenapa harus mengirim surat?
"Dia ga sebut namanya, Tadi kebetulan kita ketemu didepan rumah sakit dan dia buru-buru pergi gitu" Jawab Yudha. Bella dan dewi saling bertukar pandang beberapa saat sebelum Bella meletakkan surat itu diatas disebelahnya. Setelah memberikan Bella obat yang sudah disediakan oleh perawat yang mengantarkan makan siang Bella, Yudha pun pamit pulang.
Dear Bella
"Semoga cepat sembuh ya, Tetap semangat! Saya sangat berharap bisa melihat Dewi dipesta ulang tahun Reno malam ini" Saya akan menunggunya didepan rumah jam 7 nanti.
Begitulah surat singkat itu tanpa nama pengirim. "ini pasti dari kak Dimas" batin Bella sambil melirik Dewi yang asik dengan majalah ditangannya. Bella pun mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat kepada Dania, Mamanya Dewi.
"Selamat siang tante, Bella liat Dewi kurang enak badan. Sebaiknya Tante jemput Dewi untuk pulang. Bella ga mau kalau Dewi harus ikut sakit seperti Bella" Mengirim"
"Pa, liat deh. Bella kirim pesan ke mama: Ucap Dania menunjukkan pesan Bella.
"Pasti Dewi kecapean deh pa nginep dirumah sakit semaleman nemenin Bella" Ucapnya kawatir.
"kalau gitu telpon aja ma, suruh pulang" Jawab suaminya.
"pasti Dewi menolak pa, Bella ga mungkin suruh kita jemput kalau Dewi mau disuruh pulang" Jawabnya.
"yaudah, mama siap-siap sekarang kita jemput dia pulang" Jawab suaminya.
"tapi gimana kalau dia nolak?" Mamanya semakin kawatir. apalagi Dewi itu putri tunggalnya.
"nanti biar papa yang ngomong. mama santai aja" Jawabnya dan Dania pun setuju.
Sesampainya dirumah sakit Mama dan papanya terlihat membujuk Dewi untuk pulang dan Istrirahat. Namun Dewi tampak menolak dengan alasan tak ingin meninggalkan Bella. Namun setelah papanya meyakinkanya akhirnya dia setuju untuk pulang.
"Dewi sama papa duluan aja kemobil, mama mau ngomong sebentar sana Bella" Ucap Dania dan mereka pun pergi.
"Kamu bilang Dewi kelihatan kurang fit, tapi tante liat baik-baik aja" Tanya Dania.
"maaf tante, Bella bohong. Sebenarnya malam ini ulang tahun kak Reno, Dan dia itu sahabatnya kak Dimas. Bella berpikir kalau kak Dimas pasti akan sangat senang kalau Dewi bisa hadir" Jawabnya jujur. Dania hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar penuturan dari Bella.
"yasudah kalau begitu, Berarti tugas tante selanjutnya meyakinkan Dewi untuk ikut kepesta Ulang tahun Reno? Tanya Dania ikut semangat. Bella hanya mengangguk diiringi senyuman bahagia.
"ok siap" Ucap Dania mengangkat kedua jempolnya terhadap Bella.
"yasudah, sekarang kamu istirahat ya. biar cepat sembuh" Ucap Dania sambil mengecup kening Bella. Bella kembali mengangguk hampir menitikkan air mata.
"makasih ya tante" Ucapnya untuk semua yang sudah dilakukan dan diberikan Dania terhadapnya.
"sama-sama sayang" Jawab Dania sambil mengelus kepala Bella.
"Trus yang nemenin Bella siapa ma?" rengek Dewi tak tega meninggalkan sahabatnya itu.
"bik inah" jawab mamanya santai.
"yah mama," rengeknya dengan wajah cemberut.
"kamu juga harus istirahat sayang, nanti kalau kamu ikut sakit bagaimana?" Tambah papanya tak mengerti apa yang direncanakan Bella dan Dania.
"tu, dengerin papa kamu" Jawab mamanya merasa menang. Dewipun akhirnya memilih diam dan menurut. Sesampainya dirumah dia langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur dan ketiduran begitu saja.
"sayang, bangun" Dewi mendengar mamanya membangunkannya berkali-kali.
"barusan ada kurir yang anterin ini", Ucapnya menunjukkan sebuah kotak kepada Dewi
"ini apa ma? tanyanya disusul uapan yang cukup lebar.
"katanya itu kostum yang dipakai diacara ulang tahun Reno" Ucap mamanya. Dewi membukanya dan memperhatikan kostum itu terlihat aneh. Itu terlihat seperti kostum helloween. bukan untuk acara ulang tahun. "Pasti dari kak Dimas" Gumannya sambil tersenyum.
"Dia pasti sibuk bantuin kak Reno, makanya nganterin lewat kurir" Gumannya semangat. Dania hanya bisa tersenyum melihat tingkah Dewi. Dia pun bersiap-siap dan mengenakan kostum yang dia dapatkan itu.
"berhenti disini pak" Ucapnya saat melihat alamat itu sudah sesuai dengan yang tertulis diundangan. Dewipun turun dengan semangat dan melihat beberapa pelayan sibuk menata beberapa hiasan yang ada diluar. Mereka semua menatap kearah Dewi dengan pandangan aneh. Namun Dewi berusaha percaya diri dan melangkah dengan pasti. Bunyi hentakan sepatu milik Dewi pun terdengar jelas karna kondisi saat itu Hening. Dewi belum melihat seorangpun didalam rumah itu saat. Tiba-tiba seseorang datang dari belakang dan menutup matanya.
"kamu siapa?" Ucapnya berusaha melepasakan diri.
"ssst, jangan takut, aku punya kejutan" Ucap seorang pria sangat dekat ditelinga Dewi.
"kenapa harus tutup mata?" jawabnya tak begitu yakin.
"Dimas memintaku untuk melakukannya" Pria itu kembali berbisik. Dewi pun akhirnya berhenti meronta dan menurut. Dengan jantungnya berdebar tidak bormal karna rasa takut namun perlahan-lahan kakinya menuruti langkah yang dituntun oleh pria itu.