Bab 9 - Pelukan Hangat

1250 Kata
Setelah sambungan telepon dengan Bina terputus, Niko segera beranjak dari duduknya. Ia memang sedang bersama teman-teman tongkrongannya dan barusan salah satu teman wanitanya malah mengatakan sesuatu yang membuat siapa pun salah paham. Ya, Bina pasti mendengar dan mengira Niko sedang berduaan dengan seorang wanita. Padahal di sini cukup ramai dan yang pasti wanita yang memanggilnya sayang tadi bukanlah siapa-siapa Niko. “Sialan, kalian iseng banget.” Padahal tadi Niko sengaja mencari tempat sepi untuk menjawab telepon Bina, tapi ending-nya malah tetap kena iseng teman-temannya. “Gue disuruh sama Bimo, Nik,” balas wanita itu, sambil tertawa tanpa merasa berdosa. “Kalau gitu telepon lagi cewek yang barusan teleponan sama lo, Nik. Biar gue jelasin kalau di sini temen-temen lo iseng banget.” “Ngapain dijelasin? Dia sepupu gue. Lo kira dia pacar baru gue?” “Kirain pacar lo. Padahal baru minta traktiran buat merayakan lo resmi move-on dari Velia.” “Gue udah move-on sejak melihat dia selingkuh. Enggak peduli berapa lama kami menjalin hubungan.” “Eh iya. Lo sampai mabuk parah banget malam itu.” “Lo tahu, Nik? Kita-kita cuma geletakin lo di teras terus cabut. Hahaha,” ucap salah satu temannya lagi. “Gue takut disembur orangtua lo,” sambungnya. Alih-alih menjawab, Niko malah beranjak dari duduknya. “Lo mau ke mana, Nik?” “Gue ngantuk.” “Serius? Jam segini?” “Memang ngantuk harus ada jadwalnya?” “Lo bahkan biasanya begadang sampai pagi demi ngedit juga sanggup. Sekarang baru jam setengah sebelas malam dan lo mau tidur?” “Besok pagi gue mau balik. Biar nggak ngantuk di jalan, gue mau tidur lebih cepet.” “Enggak mau minum dulu?” “Mau, tapi gue malas sama pengarnya. Serius, gue mau pulang besok pagi-pagi.” “Lo pulang karena besok mau ada kerjaan, ya? Baiklah, baiklah. Sana tidur kalau gitu.” Niko kemudian bergegas masuk ke vila dan menuju kamar yang ditempatinya. Beberapa hari yang lalu ia memang ada pekerjaan di luar kota, lebih tepatnya di puncak. Sebuah pemotretan pre-wedding dan itu pun hanya satu hari. Setelah itu, Niko tidak langsung pulang, melainkan datang ke vila ini karena teman-temannya sedang liburan di vila milik keluarga salah satu temannya. Niko punya alasan yang membuatnya lebih memilih bergabung liburan dengan teman-temannya daripada pulang ke rumah. Jujur saja, Niko sedang diliputi perasaan bimbang. Bimbang? Ya, Niko bimbang se-bimbang-bimbangnya. Perasaan yang dikuburnya sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu, api cinta yang ia pikir telah padam ... nyatanya masih menyala. Saat masih remaja, Niko memang menyukai Bina. Ia bahkan tidak pernah merencanakan kalau sepupunya itu akan menjadi cinta pertamanya. Cinta yang tak pernah terungkap dan hanya bisa dipendam hingga akhirnya mereka memutuskan menjaga jarak selama bertahun-tahun. Jika Bina mengatakan alasan mereka menjaga jarak karena malas menjadi bahan ledekan teman-teman bahkan Bina beberapa kali dilabrak oleh para wanita yang menyukai Niko, sedangkan alasan Niko menjauh adalah ... tidak ingin jatuh cinta lebih dalam pada Bina. Ah, Niko tidak tahu saja kalau Bina pun sebenarnya memiliki perasaan yang sama. Mereka sama-sama memendamnya hingga akhirnya memutuskan bersikap selayaknya orang asing sekalipun tinggal di atap yang sama. Setelah bertahun-tahun menjaga jarak, belakangan ini tembok pemisah yang mereka bangun telah runtuh. Mereka sepakat untuk kembali akrab dan bersikap selayaknya saudara. Sungguh, saat memutuskan itu, Niko sama sekali tidak berpikir bahwa perasaan yang sudah lama tenggelam akan mencuat kembali ke permukaan. Terlebih ia beberapa kali menjalin hubungan dengan wanita lain. Dengan Velia saja sampai empat tahun. Itu sebabnya Niko memutuskan menghindar lagi. Niko sampai bertanya-tanya ... apakah dirinya telah salah langkah? Seharusnya tetap asing dan menjaga jarak dengan Bina, sehingga perasaan itu tidak perlu hadir lagi. “Andai lo bukan sepupu gue,” gumam Niko seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk dan nyaman. Memejamkan mata, Niko kembali membayangkan ciumannya dengan Bina di kelab malam. Ciuman yang sebenarnya hanya formalitas demi membuat Velia percaya, tapi tak bisa dimungkiri Niko menikmatinya. Ia bahkan sangat menghayati ciuman mereka waktu itu. Terlebih Bina juga mengulang ciuman sekali lagi saat melihat pacarnya. Sumpah demi apa pun Niko masih terbayang betapa kenyal bibir sepupunya. “Gue pasti gila,” gumam Niko yang kembali membuka matanya. Selain membayangkan ciuman formalitas di kelab, yang lebih membuat Niko tak bisa lupa adalah ciuman di ruang tamu pada malam Velia tertangkap basah selingkuh. Niko memang mabuk parah, tapi ia ingat apa yang dilakukannya pada Bina di ruang tamu. Ya, Niko sangat ingat bahkan ia yang tak bisa mengendalikan diri lantaran mabuk sempat melepaskan bathrobe yang sepupunya itu kenakan. Niko sengaja tidak pernah membahas itu karena pasti akan sangat canggung, terlebih Niko butuh bantuan Bina untuk menjadi pacar pura-puranya. Selain itu, Bina-nya juga tidak pernah menyinggung apa yang terjadi pada malam itu. Makanya Niko memutuskan pura-pura lupa saja. Niko juga tak menyangka kalau meminta bantuan pada Bina agar menjadi pacar pura-puranya membuat hubungan persaudaraan mereka yang semula beku seakan mencair. Kembali akrab dengan Bina seperti dulu sebenarnya sudah lama ada dalam daftar keinginan Niko. Namun, ia tidak pernah berpikir kalau ini malah menjadi titik awal perasaan terpendamnya terhadap Bina muncul lagi. Haruskah Niko lebih tegas dan menjaga jarak lagi? Dengan begitu, mereka akan kembali menjadi asing dan seolah tidak saling mengenal sekalipun tinggal se-rumah. Itukah yang terbaik? *** Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, seharusnya Bina sudah berangkat kerja. Namun, Tiwi yang biasanya sudah tiba menjemputnya sebelum pukul setengah delapan malah tak kunjung datang. Bina sempat tremor selama beberapa menit saat mengetahui Tiwi kecelakaan motor dalam perjalanan. Meskipun Tiwi sudah meneleponnya bahwa keadaan temannya itu tidak terlalu parah, tetap saja Bina cemas. Bina sebenarnya ingin langsung ke IGD sebuah klinik tempat Tiwi dilarikan ke sana, tapi Tiwi bilang kalau mau menjenguknya pulang kerja saja. Lebih baik Bina berangkat kerja dulu karena ini sudah terlambat. Sampai kemudian, Bina setuju menjenguk Tiwi-nya pulang kerja saja bersama rekan kerjanya yang lain karena di grup kantor sudah saling sepakat untuk menjenguk Tiwi bersama-sama sepulang kerja. Cancel aja, Mbak. Ongkos kemurahan. Mana jaraknya jauh. Sial! Ini sudah lebih dari tiga ojol yang meminta cancel alias menolak orderan dari Bina karena dinilai jaraknya tidak sebanding dengan ongkosnya. Bahkan, salah satu ojol malah curhat panjang lebar. Kalau sudah begini, Bina harus bagaimana? Jujur, Bina tidak berani naik ojek yang bukan online karena pernah punya pengalaman buruk. Mau minta antar pacar, tapi Bina tak punya pacar. Apa Bina bolos saja hari ini? Di tengah rasa frustrasi Bina yang sedari tadi berdiri depan gang, tiba-tiba sebuah motor besar dan familier berhenti di hadapannya. Detik berikutnya, Bina refleks menangkap helm yang dilempar ke arahnya. “Pakai helm-nya terus naik. Lo mau berangkat kerja, kan?” tanya Niko. Tanpa menjawab, Bina segera memakai helm-nya lalu naik ke motor Niko. Terlebih sepupunya itu sudah lebih dulu menurunkan pijakan kaki untuk Bina. “Udah?” tanya Niko. “Udah.” “Lo udah telat, kan? Gue ngebut, ya.” “Eh?” Setelah itu, Niko segera melajukan motornya agak ngebut. Tentu saja Bina refleks langsung memegang besi belakang. “Pegangan, Bin.” Niko setengah berteriak. “I-ini udah pegangan.” Niko semakin ngebut dan secara mendadak menginjak rem, membuat dua helm itu saling beradu lantaran Bina terdorong ke depan—otomatis dadanya menempel pada punggung Niko, tangannya pun spontan memegangi pinggang sepupunya itu. “Nah gitu, pegangan nggak apa-apa,” ucap Niko seraya kembali melajukan motornya. Perlahan tapi pasti, pegangan yang semula hanya di pinggang berubah menjadi pelukan seiring Niko semakin mempercepat laju motornya. Ya, Bina memeluk Niko. Serius, pelukan ini bukan sekadar hangat, tapi juga nyaman. Terlalu nyaman.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN