Jam masih menunjukkan pukul enam pagi, biasanya penghuni kamar bernuansa biru itu masih terlelap dengan selimut tebal menutupi tubuh mungilnya. Namun kali ini ia bangun lebih pagi dari biasanya, untuk membereskan sisa barang-barang yang akan ia kemas.
Bu Kos tidak main-main soal mengosongkan kos yang sudah 3 tahun Gisna tempati ini, baru kemarin mereka berkumpul sudah banyak kamar yang kosong. Hanya tinggal beberapa saja.
Gisna menghela nafas, ini terlalu berat baginya namun ia bisa apa? Dengan uang seadanya ia mencari kos yang murah demi bisa menghidupi cacing-cacing di perutnya yang mencuri nutrisi makanannya.
Gisna bergegas mengambil handuk dan antri mandi. Hari ini ia ada jam kuliah dengan dosen Botak, eh Pak Indra maksudnya. Mahasiswa menjulukinya begitu karena dari awal Gisna masuk menjadi mahasiswa baru, dia tak pernah tahu kapan rambut pak Indra tumbuh.
Ponsel Gisna yang ia tinggalkan di kamar menyala menampilkan panggilan masuk, disana tertera nama Refi sahabat menggilanya. Tak mendapat jawaban, Refi mematikan panggilannya dari seberang sana.
Seseorang membuka kamar Gisna, dia celingak celinguk tak ada seseorang karena penghuni masih tidur atau antri mandi. Akhirnya seseorang itu masuk setelah melepas sepatu sneakers miliknya.
"Pantesan nggak di angkat!" Gerutu cewek dengan tampilan rambut di urai dengan bando warna pink menghiasi kepalanya.
Refi duduk menghela nafas melihat kamar kos Gisna, kos saksi mereka mengenal satu sama lain sampai menjadi sahabat yang tak pernah di pisahkan.
"Udah berkemas ternyata!" Gumam Refi kemudian mengotak-ngatik ponselnya.
Knop pintu di buka dari luar menampilkan Gisna yang menggunakan babydoll warna biru navy dengan bintang-bintang kecil menghiasinya.
"Udah dateng!" Ucap Gisna sambil mengeluarkan cengiran karena Ia sibuk berkemas sampai melewatkan jam harusnya Ia bersiap-siap.
"Gak usah sok imut lu, buruan! Ntar si Botak naik pitam." Tukas Refi sambil memasang wajah galak miliknya.
"Eh itu mulut, dia ayahnya si Ilyas gebetan elu b**o!" Ucap Gisna di belakang Refi yang tengah mengganti bajunya.
"Kalok di kampus tetep aja sih si Botak Indra." Gumam Refi kesal mengingat calon mertuanya yang begitu ramah di rumah namun killer ketika di sekitar kampus.
Sampai Gisna tidak percaya akan cerita Refi soal bagaimana ramahnya Pak Indra di rumah, di kampus dosen itu tak pernah menampilkan senyumnya kecuali berpapasan dengan dosen dan staff lainnya.
Dddrrrtttt... dddrrrtttt....
Getaran ponsel Gisna membuat Refi terlonjak kaget karena ponselnya tepat bersinggungan dengan tangan kirinya. Melihat reaksi Refi membuat Gisna terbahak-bahak seraya melanjutkan acara menyisir rambutnya.
"Itu hp kok Ref, bukan tikus!" Ejek Gisna sambil memperhatikan wajah bersungut Refi dari cermin miliknya.
"Kalok bukan hape loe, gue banting serius!" Ucap Refi yang emosinya belum mereda. Melihat itu membuat Gisna semakin terbahak kemudian mengajak Refi bergegas agar si Botak, maksudnya camer Refi itu tidak naik pitam.
***
Bryan dan teman-temannya berjalan menuju kantin dari arah lorong fakultas ekonomi dan bisnis. Bryan salah satu brandalan kampus. Bahkan dosen kewalahan memberi nilai jelek padanya, cowok itu selalu punya acara bagaimana dia tetap bisa lulus mata kuliah di semester miliknya.
Mata Bryan mengitari sekeliling kantin menemukan mangsa yang akan ia minta uang untuk sekedar minuman segar di kantin, mata Bryan memincing kala menemukan cewek yang tidak asing baginya.
“Yan, tuh di depan ada adek junior yang cakeplah buat mangsa elo!” tunjuk Raka mengarahkan dagunya ke sosok yang sedang tertawa bersama sahabatnya. Bryan diam seribu Bahasa, haruskah? Ada gejolak dalam dadanya yang tak bisa ia bantah.
“apa nggak ada yang lain?” Tanya Bryan berusaha tetap dingin memandang rendah juniornya disana.
“tumben bener lu!” cibir Edo yang tadinya main game kesayangannya saja bisa berucap seperti itu melihat respon Bryan yang menolak.
“duduk sana aja, Yan!” ajak Satria mengalihkan pembicaraan. Satria menunjuk pojok kantin yang kosong selain dekat dengan kipas angin, juga tak terlalu terlihat dari luar. Begitu Bryan yang paling depan melintasi beberapa meja di tengah kantin yang sudah berpenghuni, semua mata mengarah padanya. Menjadikan Bryan dan komplotannya pusat perhatian.
"Eh elo! Ngapain lo melototin gue hah! Cari mati lo?" Tanya Gibryan dengan wajah merah padam tanda menahan amarah.
Gebrakan meja berkali terdengar kala yang di teriaki justru segera menghindar tak menanggapi gertakannya. Seperti orang gila memang, ada suatu sisi dalam diri Gibryan yang memicunya berkata kasar.
"Udahlah, Yan. Gak usah lo tegur." Ucap Raka menenangkan sahabatnya yang masih menghela nafas kasar.
BRAAKKK
"Eh, melototin kita-kita ada maksud apa lo?"Ucap Satria menggebrak meja junior di sebelahnya yang justru hanya menunduk diam tak menjawab, mereka tahu siapa Gibryan dan teman-temannya.
"Pengecut!" desis Bryan kemudian meneguk air mineral milik Edo yang justru sibuk dengan game online, cowok ini memang sudah kecanduan game online stadium akhir.
Sampai cewek yang Ia pacari selama dua tahun terakhir memutuskannya kemarin hanya karena kecemburuan pada game online, bukan hanya tapi memang kesalahan Edo disini. Read! Cewek selalu bener guys!
"Yuk cabut!" Ajak Gibryan pada sahabat karibnya, meski berbicara dengan sahabat-sahabatnya namun mata Gibryan menatap dua cewek yang sedang bercengkrama dan tertawa riang di sela obrolannya.
Dunia memang sempit, Bryan mengetahui cewek yang merengek padanya untuk dibayarkan s**u kotak miliknya ternyata kuliah di kampus yang sama juga dengannya. Namun tampaknya, cewek itu tak mengenali Bryan. Bryan beranjak semakin lama memandangi senyum cewek yang sedang bercanda dengan sahabatnya itu menghadirkan getaran aneh di dadanya.
Di kantin paling luar, Refi menceritakan bagaimana Ia mulai tertarik dengan Ilyas. Pertemuan yang sangat konyol memang. Mereka bertemu kala Ilyas salah masuk toilet wanita di sebuah mall.
Ddddrrrttt.... ddrrrtttt...
Ayah : kak barangnya Gisna udah Ayah pindah di kos baru ya.
Refi tersenyum sambil mengetikkan ucapan terimakasih pada Ayahnya. Gisna menaikkan alisnya sebelah melihat wajah Refi yang tampak girang.
"Kenape lo? Si Ilyas ngajak ngedate?" Tanya Gisna asa seolah menertawakan arti wajah Refi.
"Bokap gue udah ngurus kepindahan kos elu. Jadi nanti elo tinggal kesana ya?" Ucap Refi dengan mata berbinar.
Gisna tersipu malu dan tersenyum senang karena ayah Refi bagaikan ayah keduanya di sini, kala Ia jauh dari sanak saudara. Tiba-tiba dia terdiam akan sesuatu.
"Kenapa enggak elo yang nganterin?" Tanya Gisna memicingkan ada kecurigaan, biasanya Refi selalu mengantarkan Gisna kemanapun sampai ke toilet pun.
"Hehehe, gue ada kencan sama Ilyas." Ucap Refi dengan cengiran khasnya tak enak hati mengkhianati sahabatnya. Mengkhianati karena Ia tak menemani Gisna menyandang status jomblo lagi.
"k*****t lo ah!" Ucap Gisna merajuk. Moodnya semakin memburuk kala matanya menangkap Refi melambaikan tangan pada Ilyas yang sudah berjalan ke kantin.
"Hai, Na!" Sapa Ilyas yang di balas dengan lambaian tangan Gisna yang terlihat terpaksa.
"Gue kirim di GPS lokasinya, Na. Bye!" Ucap Refi kemudian beranjak pergi bersama Ilyas. Mereka terlihat serasi.
Brakk… brakk…
Gisna memutar malas matanya, ia jera dan ingin melempar botol mineral kosong pada senior yang setiap hari membuat onar di kantin. Cewek itu tidak mengenal pasti siapa pembuat onar itu, yang ia tahu ia satu fakultas dengannya. Namun, beda tingkatan.
Tak beberapa lama Gisna pun beranjak pergi juga. Karena Ia tak terbiasa dengan situasi sendiri di kampus.
Gisna menunduk menatap jalan yang Ia pijak, sampai tak menyadari ada kaki seseorang yang mengiringi langkahnya. Gisna sempat berniat menghentikan langkahnya namun Ia ingat siapa pemilik sepatu sneaker merah itu.
Dengan tampang malas Gisna berhenti, dan memutar badannya menghadap seseorang yang sedang tersenyum padanya.
"Kenapa telepon gue gak di angkat?" Tanya Fathur, mantan kekasih Gisna semasa SMA namun mereka putus dua tahun yang lalu.
"Sorry gak pegang hp gue." Jawab Gisna seadanya memainkan tanah yang Ia injak.
"Gak telepon balik?" Tanya Fathur memojokkan cewek di depannya berharap cewek itu akan meminta maaf padanya.
"Lupa." Jawab Gisna singkat kemudian berjalan meninggalkan Fathur yang masih mematung.
Fathur mengejar Gisna yang dengan langkah gontai tanpa semangat, cowok itu meraih tangan Gisna untuk berhenti dan kembali menghadapnya.
"Sampai kapan elo hukum gue sih Na?" Tanya Fathur pasrah menghadapi sikap dingin mantan kekasihnya itu.
"Gue gak hukum elo, Fathur. Udahlah gue capek pengen istirahat." Ucap Gisna mengakhiri ucapan cowok yang terdiam memandangi kepergiannya.
Segera Gisna gunakan untuk menghentikan taxi yang melintas dan segera melarikan diri dari Fathur. Ada secuil kenangan yang membuat Gisna tetap mau merespon segala hal tentang Fathur, namun kenangan dua tahun silam sirna karena sebuah pengkhianatan.
***
Gisna mencocokkan kembali alamat yang di kirim Refi kepadanya tadi siang dengan bangunan di depannya. Setelah Ia yakin, Gisna mantap segera menemui Ibu Kos yang sepertinya sedang duduk menatap kolam ikan.
"Sore Bu, maaf saya penyewa kos tadi pagi." Ucap Gisna sungkan pada wanita paruh baya yang tampak tersenyum itu.
Jujur Gisna bingung untuk menjelaskannya namun mau bagaimana lagi prosesnya terlalu rumit. Gisna menggaruk tengkuknya canggung kala Ibu Kos itu masih melanjutkan acara memberi makan ikan di kolam kecilnya.
"Sebentar ya!" Ucap Bu Kos itu ketika melihat Gisna yang tampak bingung.
Wanita paruh baya itu masuk ke rumah meninggalkan Gisna yang sibuk main ponsel di bangku taman bangunan kos tua itu. Tak berapa lama,wanita paruh baya itu kembali dengan menggenggam sebuah kunci yang bergantungan kunci angka 6.
"Ini kunci kamar kos kamu, nama saya Nur Kholis, anak-anak disini biasanya manggil saya Buk Nur. Perlu saya antar?" Tanya Buk Nur menawarkan diri yang langsung di balas dengan gelengan cepat Gisna.
"Tidak perlu, Buk. Saya cari sendiri saja. Kalok begitu saya permisi, terimakasih." Ucap Gisna yang langsung di balas anggukan ramah Buk Nur.
Gisna berjalan menuju lorong kamar kos, deretan pintu yang tertutup dengan angka di atas pintu. Mata Gisna menelisik mencari jodoh kunci yang Ia genggam. Begitu matanya menangkap sebuah angka 6 Ia segera memasukkan kunci miliknya ke lubang pintu itu.
Namun kunci justru tak mau bergerak, hanya diam saja. Gisna terdiam tangannya masih berusaha memutar kunci, mungkin tenaganya terlalu kecil.
"Yang bener aja, masa gak mau ke putar sih!" Ucap Gisna menggerutu tak jelas entah pada siapa.
"Ngapain lo sama pintu kamar gue!"
***