bc

BI-KOST

book_age16+
791
IKUTI
5.4K
BACA
dark
possessive
forced
arrogant
badboy
gangster
drama
sweet
bxg
like
intro-logo
Uraian

Ada pelangi dan mendung di kedua matamu, aku ingin tahu makna dari segalanya. Beritahu aku, ceritakan segalanya...

_Gisnamega Pramesti_

Pelangi dan mendung itu adalah hidupku, terlihat pada orang-orang tertentu. Jika kamu ingin tahu makna dari semua itu, sama saja kau akan jadi bagian dari hidupku.

_Gibryan Prayogi_

chap-preview
Pratinjau gratis
1. WHAT THE FU**
Ada pelangi dan mendung di kedua matamu, aku ingin tahu makna dari segalanya. Beritahu aku, ceritakan segalanya... _Gisnamega Pramesti_ Pelangi dan mendung itu adalah hidupku, terlihat pada orang-orang tertentu. Jika kamu ingin tahu makna dari semua itu, sama saja kau akan jadi bagian dari hidupku. _Gibryan Prayogi_ *** Materi dosen hari ini begitu membosankan, membuat penat seluruh badan. Detik demi detik berakhirnya jam kuliah terasa lama sampai bel berbunyi tanda jam kuliah berakhir tanpa sadar seisi ruangan menghembuskan nafas lega. Penghuni bangku paling depan tengah merenggangkan otot pundaknya yang terasa ada beberapa ton di pundak mungilnya, dua gadis itu tersenyum puas kala mendengar jam kuliah berakhir. Begitu dosen keluar mereka tak kunjung keluar masih berdiam diri di kelas yang perlahan sepi. Gadis yang memakai jaket jeans yang hanya sepinggang itu mengeluarkan ponselnya. "Gisna! Diskon melimpah!" Ucap gadis itu memperlihatkan sesuatu yang istimewa baginya pada temannya yang justru sibuk merangkum materi yang di sampaikan dosennya. "Nggak bakal tergoda gue!" Ucap datar gadis yang bernama Gisna itu pada sahabatnya tanpa memalingkan wajahnya dari buku tebal miliknya. "Gila, sepatunya keren sumpah Na!" Bujuk gadis yang masih bersikeras merayu sahabatnya agar termakan bujukannya. Begitu mendengar kata sepatu Gisna menoleh dengan mata berbinar, dia mengangguk kemudian mendekat pada sahabatnya agar memperlihatkan sepatu keluaran terbaru hari ini. "Oke gue hemat bulan depan!" Ucap Gisna begitu melihat sneakers keluaran terbaru. Gadis bernama Gisnamega Pramesti adalah gadis yang seisi lemari pakaiannya hanya berwarna gelap. Dia tidak suka warna yang di sukai kebanyakan gadis pada umumnya. Bahkan warna pakaian dalamnya juga gelap bahkan satu model dan warna. Apakah ini aib? Oke skip. Berbeda dengan sahabatnya Refina Anggi yang selalu tampil mencolok dengan gaya khasnya. Meski begitu dia tidak terlalu berlebihan dalam segala hal. "Hari ini terakhir masuk kuliah bukan? Besok libur. Gue bakal kangen elo!" Rengek Refi pada Gisna yang membalas wajah sedihnya kemudian mereka saling berpelukan. "Yup, mungkin gue pulang ke Bandung. Biarkan Jakarta merasa kesepian karena gak ada gue." Ucap Gisna percaya diri dengan senyum manisnya. "Sumpah gue mau muntah, bahkan artis ah jangan menteri komnas HAM aja gak tau lo hidup apa nggak!" Cerocos Refi pada sifat Gisna yang selalu percaya diri itu. "Lo pulang ke Bandung dan gue masih di sini, pulang apa nggak rumah tetep sepi." Ucap Refi, ya karena orang tuanya tinggal di Makassar. Refi bukan orang Makassar hanya saja Ayahnya yang anggota polisi harus bertugas di pulau selain kota kelahirannya. Abdi Negara mereka menyebutnya, sudah lama mereka tinggal di sana bahkan kakaknya yang sulung menikah dengan orang Makasar. "Dua hari sebelum masuk kuliah gue janji bakal menginap di kos loe, kita nikmati libur terakhir. Oke!" Ucap Gisna mencoba menghibur sahabatnya. Gisna dan Refi adalah mahasiswa di universitas swasta ternama di Jakarta. Mereka sudah menginjak semester 6, semester menuju stadium akhir. Meski belum memikirkan skripsi namun tugas sudah menumpuk membuatnya tak pernah piknik atau hanya liburan mingguan. "Braakkkk!!!" Suara gebrakan meja membuat Gisna sedikit terkejut namun Ia mengabaikan lagi seperti biasa, suara gebrakan yang berasal dari sudut kantin. Setiap hari pasti suara itu akan terdengar. "Senior itu kapan akan berhenti membully junior-juniornya." Ucap Refi menatap teman seangkatannya yang hanya diam di kerumuni oleh beberapa senior brandal. "Bukan urusan kita oke, bukan juga karena sosial gue kurang tapi gue males ikut campur sama brandal kampus." Ucap Gisna tegas. Bahkan gadis itu tak mau tahu siapa yang melakukan pembullian di zaman modern dan teknologi seperti ini. Meski sangat terkenal di area kampus namun Gisna tak tahu wajah ketua geng itu, nama saja Ia tak ingat meski Refi sering menyebut namanya. "Lo bener deh, Na! Oke yuk cabut!" Ajak Refi setelah memasukkan buku tebalnya di tas miliknya.  Gisna hanya tersenyum kemudian beranjak pergi, lagi pula Ia akan memasuki jam bekerja paruh waktunya. Gisna bukan berasal dari keluarga kaya namun juga tak berasal dari keluarga tak mampu. Gadis itu selalu menerima kiriman uang saku dari ayahnya tepat waktu, namun gadis itu lebih suka membeli sesuatu yang Ia sukai dengan jerih payahnya sendiri. Sedang uang saku miliknya lebih sering ia habiskan untuk keperluan tugas atau untuk simpanan jika ada keperluan mendadak. BRAAKKKK Suara gebrakan meja kembali terdengar begitu Gisna dan Refi meninggalkan kantin, suara berasal dari meja yang sama dan dengan tangan yang sama juga. Gibryan Prayogi, dia mahasiswa semester tua namun tugas dan juga skripsi yang sudah di depan mata tak membuatnya berhenti untuk membully orang atau menghakimi sendiri. Dia adalah King Of The Bullying, mayoritas yang Bryan bulli adalah anak yang berasal dari orang kaya. "Yan, udah nanti dosen dateng!" Ucap Edo yang sudah biasa menemani sahabatnya itu membully anak orang. "Masa bodoh gue!" Ucap Bryan datar menatap kesal cowok di depannya yang sejak tadi hanya diam seribu bahasa menatap Bryan dengan pandangan sulit di artikan. "Ngaku lo! Elo kan yang coret-coret motor gue pakek piloc, anak orang kaya belagu bener lo!" Ucap Bryan terus memojokkan anak di depannya yang hanya diam menatapnya. "Bisu lo!" Umpat Bryan begitu menanggapi respon cowok di hadapannya yang sejak tadi hanya mematung setiap Bryan tanya pertanyaan yang sama. Edo memejamkan mata, Ia pun segera menarik Bryan merangkulnya dengan akrab. Bryan hanya diam dan mengikuti langkah Edo saja, emosinya masih belum stabil. Apalagi mengingat respon juniornya tadi. "Udah kita ke kostnya si Satria aja." Ajak Edo yang membujuk Bryan untuk segera melupakan kejadian tadi. Siapa bilang Bryan hanya mempunyai satu sahabat seperti Edo, meski Ia tidak dari keluarga yang kaya dan juga Ia suka menghakimi seseorang namun Ia masih mempunyai sahabat yang tak pernah meninggalkannya. Bryan memainkan ponselnya, mengotak-ngatiknya dengan jari-jemarinya. Begitu Ia menempelkan benda pipih itu di telinganya nada sambung terdengar tak beberapa lama suara bariton seperti miliknya terdengar. "Sat, elo lagi dimana? Lagi sama Raka?" Tanya Bryan pada seseorang di telepon. "Oke gue sama Edo kesana!" Ucap Bryan memutuskan sambungan tanpa menunggu jawaban dari seberang. *** Beberapa orang berpakaian hitam sedang mengelilingi sosok yang kini mengisap seputung rokok di tangannya. Kepulan asap keluar dari mulut dan lubang hidungnya, kacamata hitam melengkapi suasana yang tampak mencekam di sekitarnya. “Jadi akhirnya, Bryan menyerah ?” Tanya sosok yang tengah duduk di kelilingi anak buahnya itu. “Sepertinya tidak bos.” Jawab salah satu dari mereka yang berdiri. Bukan sikap Bryan yang gampang menyerah, di usianya yang terbilang muda cowok itu sangat keras kepala dan dendam. Selalu main kasar pada apa yang tidak ia sukai. Masalah hidup yang ia alami tidak sesimpel masa mudanya yang harusnya ia habiskan dengan senang-senang dan menikmati masa kuliahya dengan tenang. “Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, dengan orang tua yang jatuh miskin secara mendadak. Dia tak hilang nyali sama sekali.” Ucap sosok yang kini mematikan putung rokoknya. Wajahnya benar-benar mencerminkan raut wajah binatang liar yang haus akan darah dan ingin memangsa semua mangsa yang ada. Dendy Guntoro, salah satu orang kaya yang penghasilannya bisa puluhan juta setiap harinya. Dalam sekali transaksi dia bisa membeli beberapa mobil mewah dengan menjadi agen n*****a yang beberapa kali di penjara tak membuatnya jera,sama sekali. “Apa ada perintah lain bos?” Tanya seseorang di sampingnya yang setia menenteng mantel hitamnya. “Tidak biarkan Bryan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Sebelum kita menghabisinya. ” Ucap Dendy sinis kemudian di akhir ucapan ia tertawa puas bak seorang iblis. *** Sebuah motor matic bewarna putih berhenti di sebuah kos dekat dengan kampus. Ini sudah senja namun kos tampak ramai tidak seperti biasanya. Kos yang menerima khusus putri dengan gerbang hijau mengelilinginya. "Ya udah gue duluan ya Na!" Ucap Refi berpamitan pulang setelah mengantar Gisna ke kosnya. Biasanya Refi akan bersinggah sebentar entah sekedar mengobrol atau makan jajanan yang mereka beli sebelumnya. Namun, hari ini Ibunya menyuruhnya cepat pulang. Gisna memasuki area halaman ada beberapa pemandangan, ada yang sedang berduaan di bawah pohon mangga yang memang di sediakan bangku panjang,ada juga yang sedang mengobrol ria dengan tetangga kamar kos. "Baru pulang Gis!" Sapa Mbak Ratna tetangga kos Gisna yang paling dekat dengan Gisna. "Iya mbak. Capek mau tidur aja." Ucap Gisna dengan senyum segera berpamitan. Gisna merogoh sakunya kemudian membuka kamarnya yang terletak nomor dua dari barisan paling kanan. Setelah masuk Ia lempar tasnya di kasur dan Ia duduk berebahan, nafas lega terdengar dari mulut kecilnya. Dddrrrrttttt... dddrrrrttttt... Getaran di ponsel di tasnya membuat Gisna dengan malas merogoh tasnya dan menemukan benda berlayar yang sedang menyala itu. Sebuah nama tertera di layar touchscreen itu. Fathur is Calling... Matanya memutar malas begitu bibirnya komat-kamit membaca sebuah nama yang mampu menambahkan beban seberat beton di pundaknya,membuat moodnya hancur secara mendadak. Gisna hanya diam membiarkan sambungan itu terus berdering tanpa berniat mengangkatnya atau mengakhirinya. Sampai layar ponselnya mati, panggilan berakhir. Ddrrrttttt... ddrrrrtt... Getaran hanya sebentar membuat layarnya menyala, sebuah pesan masuk dari orang yang meneleponnya tadi. Fathur : sekarang berani ngacuhin gue ya??? "Emang sejak dulu gue gak respon elu deh." Gerutu Gisna dengan wajah yang kucel dan membuang ponselnya sembarang tanpa berniat membalas pesan dari seseorang yang bernama Fathur itu. Gisna memutuskan untuk membersihkan badannya yang sudah lengket dengan keringatnya, baru saja Ia keluar dengan handuk yang Ia gunakan untuk membungkus rambut basahnya suara ketokan pintu membuatnya segera bergegas mendekati pintu kamarnya. Tok...tok... Gisna membuka kamar tampak Mbak Ratna yang sudah tersenyum dengan senyum pepsodent. "Lagi mandi ya Gis? Suruh kumpul tuh sama bu kos di ruang tengah." Ucap Mbak Ratna tak enak hati mengganggu acara mandi Gisna. "Oh iya mbak ntar aku nyusul. " ucap Gisna segera bergegas menyisir rambutnya yang basah. Banyak penghuni kost yang sudah berkumpul di ruangan tengah, karena memang penghuninya hanya kaum hawa mereka berkumpul dengan pakaian ala kadarnya. Berbagai macam spesies ada. Bahkan ada yang wajahnya masih melekat sebuah masker wajah yang belum mengering.  "Jadi gini, Ibu akan pindah ke Kalimantan ikut sodara saya. Jadi terpaksa kos ini harus saya kosongkan." Jelas Ibu Herna selaku pemilik kos. "Hah!" Respon penghuni kos begitu serempak mereka saling pandang dengan mata penuh tanda tanya kenapa begitu mendadak. "Uangnya nanti saya kembalikan sesuai berapa sisa hari untuk satu bulan kalian! Untuk kepindahan saya kasih waktu tiga hari untuk mencari kos yang baru." Jelas Ibu Herna kembali pada penghuni kos yang justru saling berbisik-bisik merundingkan sesuatu. "Kenapa gak kos ini tetep berjalan aja sih Bu?" Tanya Mbak Indri selaku penghuni paling lama kos disini. "Maaf sebelumnya saya harus jual kos ini sama rumah saya untuk melunasi hutang keluarga saya." Jelas Ibu Herna akhirnya mengaku kenapa Ia harus mengosongkan kos secara mendadak.  Semuanya bubar saling mengomel,menggerutu, bahkan ada juga yang bersikap biasa saja menanggapinya. Sedang Gisna seperti mayat hidup berjalan, pandangannya kosong Ia memikirkan tidur dimana? Sedang uangnya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Transferan dari Ayah juga masih lama. "Mati gue!" Umpet Gisna sambil meremas rambut basahnya yang perlahan mengering karena di terpa angin senja. *** Pukul tujuh malam, Gisna sedang nongkrong di depan supermarket beberapa kali Ia melihat jam seakan seperti tak berputar. Ia sedang menunggu Refi, setelah acara perkumpulan di kos tadi Gisna segera menghubungi sahabatnya untuk meminta bantuan. Refi sahabat sejatinya meski baru saja akan memejamkan mata begitu mendengar cerita Gisna Ia segera menghampiri sahabatnya yang sedang di landa penyakit GEGANA. Krukkk...krruukkkk... Gisna meremas pelan perutnya yang tidak di bisa ajak kompromi, di saat genting seperti ini berani-beraninya cacing di perutnya demo untuk meminta jatah makan. Gisna masuk ke supermarket segera Ia menuju lemari pendingin untuk mengambil sekotak s**u rasa stroberi. Segera Ia tancapkan sedotan dan meneguknya pelan, dia bernafas lega. Baru saja Ia melangkah ke kasir, seketika waktu berhenti pada Gisna. Ternyata cewek itu gak bawa uang sepersen pun di sakunya. Keringat dingin bercucuran,malu rasanya namun apalah daya nasi sudah menjadi bubur. Gisna diam menatap sekelilingnya sambil berlagak sedang mencari belanjaannya. Langkahnya berhenti saat Ia melihat seorang cowok sedang mengambil beberapa kaleng bir bintang yang kadar alkoholnya tidak terlalu banyak. Dengan tekad kuat Gisna mendekati cowok yang tampaknya tak menyadari keberadaannya. Namun Ia melirik Gisna membuatnya berhenti melakukan aktivitasnya mengambil kaleng. "Kak minta tolong bayarin s**u kotak ini dong. Gue gak bawa uang nih." Ucap lirih Gisna menunduk tak berani melihat cowok yang sedang menelitinya dari atas sampai bawah. Pandangannya tajam, mata elangnya seakan mengintrogasi Gisna yang justru menciut dengan nyalinya. "Gak bawa duit ngapain beli?" Tanya cowok itu sarkatik membuat Gisna semakin diam. "Terlanjur gue minum kak." Ucap Gisna menunjukkan s**u kotak yang sudah tertancap sedotan di sisi atasnya. Gisna tak gencar menyerah terus mengekor di belakang cowok yang tak ia kenal itu, Gisna tahu cowok itu pasti akan membantunya. Sampai di kasir Gisna berdiri di samping cowok itu berpura-pura seolah mereka adalah sepasang kekasih. Kasirpun menghitung empat kaleng bir bintang yang cowok itu ambil dan beberapa camilan, dan mulai menghitungnya. Gisna mulai menggigit bibir bawahnya cemas, jika cowok ini tak mau membayar s**u kotak strawberi miliknya. Apa yang akan ia lakukan? “Tambah ini mbak!” ucap cowok itu sambal menunjuk s**u kotak di tangan Gisna. Senyum Gisna merekah begitu saja, keringat dingin yang sejak tadi bimbang untuk jatuh saja akhirnya mengucur deras karena lega. Gisna segera keluar menunggu cowok yang masih menunggu kembalian uang dari kasir. “Teri..” Ucapan Gisna terpotong begitu cowok itu mencelos berjalan tanpa menganggap keberadaan Gisna yang sejak tadi sudah menunggunya. Cowok itu segera menyalakan mesin motor ducati miliknya. Kemudian, melesat pergi meninggalkan Gisna yang masih terperangah akan sikap cowok yang ia yakini 100% jutek itu. “Gini ya rasanya di abaikan.” Bisik Gisna mengusap ngilu di dadanya bak anak panah menusuk menembus dadanya sampai belakang. Berlebihan memang, Gisna sedang mencoba mendalami acting. “Bodo amat yang penting s**u kotak gratis.” Ucap Gisna sambal membuang kotak s**u yang sudah kosong tak tersisa isinya. *** TBC

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Noda Masa Lalu

read
208.9K
bc

MY DOCTOR MY WIFE (Indonesia)

read
5.1M
bc

Perfect Honeymoon (Indonesia)

read
29.6M
bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Bukan Cinta Pertama

read
60.9K
bc

Hello Wife

read
1.4M
bc

Imperfect Marriage

read
337.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook