26. SIMPHONI HITAM

1942 Kata
Gisna terbangun setelah cahaya memasuki sela-sela jendelanya, ia pun terdiam sejenak mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu. Bahkan semalam ia langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur untuk segera bermimpi. Gisna bergegas mandi terlebih dahulu, keramas di pagi hari sepertinya cukup menyegarkan fikiran yang sudah mulai pusing soal tugas dan tugas. Setelah beberapa menit… Gisna keluar berharap aka nada sesuatu yang bisa ia masak di dapur namun hasilnya nihil. Gisna memutar bolanya malas, mau tak mau ia pasti akan berlari ke Bryan untuk diantarkan membeli sesuap nasi. Sejak kemarin ia tidak bertemu dengan Bryan dan juga mbak Ajeng. Gisna yang terlalu larut malam pulang apa memang keduanya yang sibuk. Tok…tok… Gisna mengetuk pintu kamar Bryan. Biasanya juga ia akan langsung masuk menerobos seperti setiap ia masuk ke kamar Bara, kakak laki-lakinya. Tak terdengar sesuatu dari dalam, Gisna pun masuk begitu saja dan sesuai dugaan Bryan masih terlelap dalam tidurnya. Gisna mematung begitu melihat keadaan kaki sebelah Bryan, ada gip yang dipasang disana. Entah mengapa setiap terjadi sesuatu pada cowok itu, ada rasa perih yang berkecamuk dihati Gisna. Bahkan matanya mulai panas mengeluarkan sebuah eluh, dadanya sesak secara tiba-tiba dan lidahnya pun kelu. Gisna duduk di tepi tempat tidur mengamati wajah damai Bryan yang sedang terlelap, mata elang yang biasanya menyiratkan suasana mencekam kini sedang tertutup dengan deru nafas yang teratur. Baru saja, Gisna akan pergi namun sebuah tangan menahan tangannya untuk beranjak. Gisna hampir saja memekik ketika tangannya di tarik, belum sempat terjadi Bryan sudah membuka matanya menatap teduh Gisna di temani cahaya lampu yang remang-remang. Bryan beranjak duduk dibantu oleh Gisna yang sedikit memopong tubuh Bryan. “ Ngapain lo kesini? Mau mengasihani gue?” ucapan Bryan begitu berbanding terbalik dengan ucapan hatinya yang begitu girang kala Gisna mengkhawatirkannya. “ Kak! Aku…” “ Kenapa? Mau peduli sama gue atas nama jiwa sosial elo itu.” Potong Bryan dengan nada ketus membuat Gisna berkaca-kaca bungkam tak bisa membantah pernyataan Bryan. Gisna tidak tahu mengapa, ia menjadi sosok yang lemah di setiap berada di sekitar Bryan. “ Apa elo memandang rendah hidup gue yang penuh dengan masalah ini?” lanjut Bryan dengan ucapan sarkatisnya. Bryan benar-benar mengutuk fikiran dan hatinya yang tidak sinkron sama sekali. Gisna tak dapat membendung air matanya yang sudah di ujung matanya, dadanya yang ngilu dan lidah yang kelu tak bisa ia terjang untuk sekedar berucap membalas ucapan Bryan. Gisna tidak mengerti setiap ucapan Bryan yang selalu melukai hatinya namun sanggup membuatnya tetap bertahan berada disekitar Bryan. Apa yang salah darinya? Mengapa dia tampak bodoh? Gisna benar-benar merasa lemah dan tak mau Bryan melihatnya seperti itu, Gisna segera beranjak pergi namun lagi dan lagi tangannya di tahan oleh Bryan. Gisna tanpa kata-kata memaksanya untuk melepas genggaman Bryan yang lebih kuat daripada sebelumnya. “ Kak! Please…!” mohon Gisna pada Bryan untuk membiarkan dirinya pergi tak mau berlama-lama berada disekitar Bryan. Namun Bryan masih tetap di posisi yang sama, bersikukuh untuk tetap menahan Gisna akan tak pergi dari sisinya. Tatapan Bryan pada Gisna benar-benar sulit untuk di tafsirkan, Gisna mengalah dan menunduk tak mau membalas tatapan Bryan yang begitu dalam padanya. “ Gue ada di hati elo kan?” Tanya Bryan seraya mengangkat wajah Gisna yang merunduk. Menatap mata Gisna dengan begitu dalam mencoba menyelami ada apa disana? “Heuh?” Gisna terkejut dengan pertanyaan Bryan yang Gisna tidak tahu jawabannya. Bryan mengusap bekas air mata di pipi Gisna yang belum mengering, sejak kapan dia selalu begitu lembut pada Gisna meski ucapannya tetap saja kasar. Bryan cukup menyadari apa saja yang ia lakukan demi cewek di depannya yang kini terdiam. “ Gue paling benci cewek nangis di depan gue, tapi untuk elo gue gak bisa lihat elo nangis di depan gue rasanya d**a gue sesak banget.” Ucap Bryan menggenggam tangan Gisna menatap matanya dengan berbagai makna. berharap Gisna bisa mengerti apa yang coba Bryan ungkapan. “ Tolong jangan permainkan gue !” ucap Gisna dengan tertawa miris, menertawakan kebodohannya yang selalu percaya apa yang dikatakan Bryan. “ Na! apa sikap gue selama ini kayak mempermainkan perasaan elo?” Tanya Bryan yang untuk kedua kalinya mampu membuat Gisna bungkam. Gisna masih saja terdiam, ya Bryan benar sikap mana yang seperti mempermainkan dirinya sepertinya tidak ada. Gisna menatap tangannya yang masih digenggam oleh Bryan. Ada perasaan hangat dan teduh beriringan saat ini begitu menenangkan hatinya. *** Ajeng melihat Bryan yang tengah duduk di ruang tengah, Ajeng segera menghampiri begitu pandangannya jelas. Kaki Bryan patah, sedangkan Bryan memutar bolanya malas jika harus menjawab pertanyaan basa basi. “Bry, elo kenapa?” Tanya Ajeng kemudian melihat beberapa luka memar di sudut wajah cowok itu yang mulai kering. “ Gue gakpapa.” Ucap Bryan terlihat tidak peduli dengan pertanyaan Ajeng. Ajeng sangat begitu menyadari perubahan sikap Bryan padanya, begitu singkat dan jelas setiap Ajeng mengajaknya berbicara. Mungkin hatinya merasa Gisna adalah penghalang hubungan antara dia dan Bryan, namun fikirannya menolak karena tak seharusnya ia membenci Gisna. Bagaimanapun Gisna datang ketika hubungan Bryan dan dirinya sudah berakhir setahun lamanya. Salahkan saja hatinya yang belum mau mengakhiri perasaannya pada Bryan. “Gue ada salah apa sama elo sih Bry. Sampai-sampai elo memperlakukan gue sama Gisna beda?” Tanya Ajeng sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan tentang Gisna kepada Bryan secara langsung. “ Gue sayang sama Gisna.” Ucap Bryan pendek namun sudah mewakilkan segala pertanyaan Ajeng selama ini. Ajeng membisu, dadanya mulai tak bisa bernafas seperti biasanya. Lidahnya bahkan cukup kelu untuk sekedar membalas ucapan Bryan. Matanya mulai panas berkaca-kaca, sampai akhirnya tak bisa di bending. Ajeng segera beranjak pergi meninggalkan Bryan yang justru tampak tak peduli dengan kepergiannya. Bryan memainkan ponselnya menyadari ada sebuah pesan masuk dari nomor Mamahnya, kening Bryan mengeryit membaca pesan di dalamnya. Mamah : Nak, Papah lagi perjalanan ke Jakarta dari kemarin mungkin satu jam lagi sampai. Bryan bimbang dalam hatinya begitu senang mengetahui papahnya akan datang ke Jakarta. Disisi lain, cowok kelahiran semarang itu takut jika terjadi sesuatu pada papahnya. Cepat atau lambat Dendy pasti tahu kedatangan papahnya, persetan dengan itu Bryan masih bisa melindungi papahnya. Bryan men-scroll benda pipih di tangannya, mencari kontak papahnya. Begitu ketemu ia tak segera menghubungi justru terdiam sesaat. Ada rasa ragu untuk menghubungi papahnya terlebih dahulu. Akhirnya, jarinya menyentuh tombol berwarna hijau itu. Tak menunggu lama terdengar sambungan telepon di seberang sana, meski sang pemilik belum juga mengangkatnya. Halo? “…” Bryan tetap diam, mendengar suara papahnya membuat hatinya sedikit terang dari mendung yang berkabut selama ini. Halo? Bryan? “ Papah dimana? Bryan nggak bisa jemput. Bryan kirim alamatnya ya?” Tanya Bryan dengan nada kalem. Iya Jawaban singkat itu mengakhiri panggilan telepon Bryan dengan papahnya, Bryan segera mengirim lokasi kost yang ia tinggali saat ini. Berharap setiba di stasiun, papahnya akan segera menuju kesini. *** Dua cewek dengan helm bogo sedang mengitari kota Jakarta, semester tambah tua membuat keduanya harus mencari buku kesana kemari. Di tambah lagi, jumlah buku yang terbatas sangat susah mendapatkannya. Perjalanan pulang yang biasanya Gisna membeli makan terlebih dahulu, hari ini rutinitas itu ia skip. Fikirannya benar-benar tidak tenang, terfokus pada satu orang yang kini berbaring di kost dengan keadaan kaki yang patah sebelah. “ Gue nggak mampir ya Na!” ucap Refi setelah menghentikan motor matic miliknya di depan gerbang kost Gisna. Gisna mengangguk kemudia tersenyum, Gisna pun masih setia berdiri sampai akhirnya Refi menghilang di balik banyaknya lalu lalang kendaraan yang silih berganti lewat. Mata Gisna memincing kala melihat lelaki separuh baya yang sedang berdiri di depan kost tampak menghubungi seseorang dengan raut gelisah. “ Om, mencari siapa?” Tanya Gisna sopan pada lelaki paruh baya yang sedikit terkejut dengan kehadiran Gisna. “Mencari anak, katanya dia tinggal disini Nak.” Jelas Heru kemudian memasukkan ponselnya, ia pikir lebih baik istirahat terlebih dahulu disini. Badannya benar-benar sakit semua seharian didalam kereta. “Oh, anak om ngekost disini juga. Saya juga disini, barangkali saya kenal. “ ucap Gisna pada Heru yang menyeka keringat di keningnya. Cuaca hari ini cukup terik memang. “Namanya Bryan.” Ucap Heru singkat, ada kesedihan yang terpancar sekilas begitu nama Bryan tersebut dari mulutnya. “Oh, Gisna kenal om. Mari masuk!” ajak Gisna meski dalam pikirannya sedikit terkejut jika bertemu dengan papah Bryan. Heru tersenyum kemudian mengikuti Gisna yang berjalan di depannya. Gisna mempersilahkan Heru untuk duduk terlebih dahulu di ruang tengah. Heru pun tak sungkan segera menyandarkan pinggangnya yang sangat pegal itu. Gisna meletakkan helmnya di meja kemudian segera bergegas menuju kamar Bryan. Tok… tok… Tok.. tok… Beberapa kali ketukan namun yang di dalam tak kunjung menyahut, Gisna sedikit sungkan karena takut disangka membohongi Heru yang kini tersenyum canggung mendapati pintu yang di ketuk tak kunjung terbuka. Gisna menekan knop pintu kamar Bryan, dan benar kamar itu tidak terkunci. Heru sedikit terkejut karena perempuan di depannya ini membuka sendiri kamar yang katanya milik Bryan. Gisna mendongak sedikit karena kamar Bryan sedikit gelap, Gisna menyalakan saklar lampu di sampingnya. Bryan tengah tertidur terlihat dari mata yang menutup damai dan juga nafas yang beraturan. “ Kak Bryan tidur om, om masuk aja nunggu didalam.” Ucap Gisna mempersilahkan Heru yang segera berdiri memandang kedalam dan benar anaknya tengah tertidur. Matanya tertegun bukan pada wajah anak semata wayangnya namun pada salah satu kaki yang terbungkus gip. Heru pun segera tersadar dan masuk ke kamar anaknya, menaruh beberapa barang bawaannya di meja belajar Bryan. “ Gisna ke kamar dulu ya, om!” pamit Gisna sedikit canggung dengan situasi ini. “Oh iya, maaf merepotkanmu nak.” Ucap Heru tersenyum pada Gisna yang kemudian menghilang dibalik pintu yang tertutup. Suasana kembali canggung antara Bryan dan papahnya, tidak pernah tercipta suasana seperti ini cukup lama. Heru pun juga bingung obrolan apa yang akan ia mulai demi mencairkan suasana beku di kamar anak semata wayangnya ini. “ Papah tiba-tiba ke Jakarta ada apa?” Tanya Bryan berusaha membenarkan letak bantal di punggungnya yang semakin merosot saja. “ Dendy itu setiap hari akan menelepon papah, mengatakan semua hal yang kamu lakukan.” Jelas Heru tak mau menutupinya lagi, bagaimana juga jika terus menyembunyikan dari Bryan justru akan membahayakan Bryan sendiri. Bryan sekarang mengerti mengapa Dendy selalu menghadang bahkan mengganggunya disaat dia tidak memulai masalahnya terlebih dahulu. Ternyata untuk membuat papahnya gelisah, Bryan menggeram dengan tangan yang mengepal. Berusaha ia sembunyikan dari papahnya, Heru tahu perubahan sikap Bryan yang menjadi bisu untuk seketika. “ Kata Malik, kamu sudah punya pacar Bry?” Tanya Heru mengalihkan pembicaraan agar Bryan tidak terbawa emosi, Bryan masih di usia yang cukup muda dimana sering mengambil langkah yang dianggapnya benar padahal justru ceroboh. “ Pacar apa sih, Pah. Nggak ada.” Telak Bryan menyangkalnya. Siapa pacar Bryan? Gisna? Cewek itu bahkan belum menyatakan perasaannya pada Bryan. Bryan juga masih bimbang tentang hati Gisna. “Yang tadi bukan ya?” goda Heru melihat perubahan Bryan yang diam membisu. Heru tersenyum melihat Bryan yang kini berwajah semu merah, ternyata anak laki-lakinya sudah besar. Selain itu, Bryan tampak gugup dari nafasnya saja sudah tidak beraturan. Heru tahu jika cewek tadi adalah yang mungkin dimaksud Malik, terlihat bagaimana Bryan memandangnya. “ Papah mau makan apa?” Tanya Bryan mengalihkan pembicaraan. “ Papah mau tidur aja.” Jawab Heru kemudian meletakkan kepalanya dan tak berangsur lama memejamkan matanya. Bryan memandang sendu lelaki paruh baya yang tengah terpejam itu, ada rasa sedih karena papahnya selalu menyembunyikan kesedihannya. Bryan tahu hal apa yang mampu membuat papahnya nekad datang ke Jakarta kembali. “Papah tidur di sini aja. Bryan mau keluar kamar sebentar.” Ucap Bryan meraih tongkat jalannya. “Nak, papah cuman mau kamu berhenti mencari tahu tentang Dendy.” Ucap Heru dengan mata yang terpejam meski dengan mata tertutup Heru tahu persis bagaimana ekspresi anaknya saat ini. “….” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN