22. FEEL MIRROR

1858 Kata
"Gue cemburu!" potong Bryan pada Gisna yang terus berbicara mengeluarkan segala unek-uneknya. Gisna terdiam memandang kosong pada Bryan yang menunduk menghela nafas panjang. Dalam hatinya merasa lega bisa mengungkapkannya akhirnya, mengungkapkan apa yang lama membuatnya bimbang dan penuh dengan keraguan. "Kakak tuh ngaco!" ucap Gisna tak percaya melampiaskannya pada s**u kotak tak berdosa itu. Meneguknya terburu agar segera mencairkan suasana yang hampir sama dengan kala Fathur mengajaknya kembali dari awal. Perbedaannya kini Gisna yang berkeringat dingin dan susah mengatur nafasnya agar tak terlihat gugup. Berbeda dengan kala Fathur, cewek itu terlihat hafal dengan gerak-gerik Fathur yang sudah biasa Ia hadapi. "Kok ngaco sih? Gue serius! Gue benci siapapun yang bisa bikin elo ketawa!" ucap Bryan jujur mengingat bagaimana tawa Gisna begitu lepas ketika bercanda dengan para sahabatnya. "Itu namanya freak kak!" ucap Gisna menegaskan bahwa Bryan telah salah mengartikan rasanya pada cewek yang kini mengalihkan pandangannya. "Nggak! Gue cemburu setiap elo jalan sama Fathur dan gue juga gak suka pas elo ramah sama sahabat-sahabat gue. Gue tahu mungkin elo bakal bilang gue itu gila! Dan gak waras." Bantah Bryan mencoba menjelaskan bahwa Gisnalah yang salah disini. "Gue bener-bener nyesel pas gue melampiaskan emosi gue sama elo yang nggak tahu apa-apa. gue menemukan tempat paling nyaman waktu gue bisa meluk elo di puncak kemarin. Gue marah pada diri gue sendiri waktu lihat mata teduh elo penuh dengan air mata yang sedang elo tahan. Gue gak bisa jauh dari elo, Na ! gue udah bersikeras menolak perasaan ini tapi malah nyiksa gue." Penjelasan panjang lebar Bryan membuat Gisna terpaku di tempat. Dengan perasaan yang tak karuan, Gisna menatap lurus pada mata hitam pekat Bryan yang kini juga menusuk mata Gisna. Jantungnya tak bisa teratur, desiran-desiran aneh mulai terasa di kala mata mereka semakin lama saling bertukar sejuta makna. Lidahnya bahkan kelu, nafasnya menjadi sesak Gisna tidak tahu ini perasaan aneh apa, penyakit apa yang sedang menyerangnya? "YA NGGAKLAH!" ucap Bryan lantang memutuskan kontak mata keduanya. Gisna terkejut melihat perubahan wajah dalam Bryan yang tadi begitu serius dengan serangkaian kata sederhana yang mampu membuatnya merasakan kehadiran kupu-kupu yang berterbangan di perutnya dan juga desiran-desiran yang semakin menggebu di dadanya. "GUE SEORANG GIBRYAN PRAYOGI! JATUH CINTA SAMA CEWEK KAYAK ELO. ITU NGGAK MUNGKIN !" jelas Bryan dengan percaya diri dan wajah yang tanpa salah. Gisna merasakan kupu-kupu yang tadi menghiasi perutnya dan desiran aneh itu lenyap seketika, bergantikan deru nafasnya yang menggebu merasa di permainkan. Lidahnya kelu, tenggorokkannya sakit menahan bibirnya yang terkatup rapat. Gejolak amarah memenuhi hati dan fikirannya, ingin rasanya mencabik-cabik wajah iblis cowok di depannya. "Gue cuman jadiin elo pelampiasan gue, gue cuman pengen lihat gimana reaksi Ajeng. Lo terlalu gampang di tipu ya Gis ternyata !" ucap Bryan meremehkan Gisna yang kini memandangnya dengan mata merah sedang menatapnya nanar. Gisna tersadar dari tatapannya yang sejak tadi lurus dan merekam setiap ucapan Bryan yang terlihat ringan keluar dari bibir cowok itu. Senyum hambar yang bisa Gisna tampilkan di depan cowok yang bermulut pedas ini. Sebelum air matanya luruh di depan cowok tak berperasaan di depannya, Gisna menarik kasar tasnya dan segera berjalan menjauh dengan langkah cepat meninggalkan Bryan yang mematung melihat respon cewek itu. *** Seorang pria paruhbaya sedang menikmati secangkir kopi hitam murni dirumahnya yang terbilang cukup besar dan mewah. Nampaknya ia sedang menunggu seseorang terlihat dari wajahnya yang sedikit cemas dan juga bimbang. Ting… ting… Suara bel dari ruang tamu membuatnya segera turun kelantai dasar, sepertinya tamu yang ia harapkan sudah datang. Begitu sosok itu munculm senyum sumringah ia tampilkan di wajahnya yang mulai menua itu. Padahal, ia tidak tahu jika nanti senyum itu akan masih bertahan atau tidak jika pembicaraannya dimulai. “Ada apa om tumben nyuruh Bryan kesini?” tanya Bryan dengan wajah sopan namun cukup penasaran. Dengan rekan karib ayahnya mengundangnya datang ke rumah, Bryan sudah menerka-nerka kalua ada pesan penting yang akan disampaikan sahabat ayahnya. “ Bryan, Om Malik tahu hubungan kamu dengan papamu mulai renggang sejak masalah perusahaan ayahmu yang jatuh bangkrut.” Ucap Malik memulai berbicara. Bryan terdiam, entah otaknya mendadak tak bisa menangkap sebenarnya kata apa yang akan di ucapkan sahabat ayahnya itu. “ Om Malik sudah tahu mengapa ayahmu bisa tertipu dengan akal bulus Dendy.” Terang Malik langsung pada intinya, lelaki itu tahu pemuda di depannya itu pasti tidak menyukai sesuatu hal berbau tele-tele. “Iyakah? Jadi Bryan bisa membalikkan perusahaan papa lagi?” tanya Bryan matanya berbinar mendengar tutur kata Malik yang ia simak dengan hati-hati satu kata per kata. “Tidak semudah itu, Bri. Banyak yang harus kamu relakan dan kamu lakukan demi bukti resmi perbuatan busuk Dendy. “ ucap Malik mencoba menarik harapan tinggi Bryan yang akan melesat tinggi. “Merelakan sesuatu hal?” tanya Bryan mencoba mencerna perkataan Malik yang terlihat menutupi sesuatu darinya. “Ya, karena sebenarnya papamu sudah menyetujui kesepakatannya dengan Dendy beberapa tahun lalu.” Jelas Malik. Bryan terdiam, fikirannya tak menyangka jika papanya melakukan suatu kesepakatan. Ingatannya mulai menjelajah perjalanan masa lalu, pantas saja papanya melarang Bryan melakukan perlawanan pada Dendy. Ternyata karena sesuatu hal. Sekarang masalahnya terasa lebih rumit dari biasanya, Bryan benar-benar buntu akan hal ini. Sudah banyak orang sekitarnya yang harus ikut berkaitan dengan masalahnya dengan Dendy. Terlebih Bryan mengenal dekat Gisna, lambat laun cewek itu pasti akan menjadi sasaran empuk Dendy Guntoro untuk melawan Bryan nantinya. “Lalu Bryan harus bagaimana om?” tanya Bryan lemas, untuk menyerah saja. Hati dan fikirannya benar-benar menentang, perjuangannya mencari masalah dengan Dendy agar suatu hari ia bisa membongkar kejahatan yang telah dilakukan. “ Bryan kamu awasi saja dan waspada. Om tahu kamu sekarang menjadi incaran para geng dari Dendy. Pesan om jangan gegabah mengambil keputusan. “ nasehat Malik kemudian menepuk pelan pundak Bryan seolah menyalurkan kekuatan padanya. Malik Adi, sahabat papa Bryan ini adalah seorang intel jadi tak heran ia bisa menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki kasus Heru, papa Bryan. sebenarnya disini, Bryan lah yang cukup cerdas. Begitu ia tak bisa mendapatkan informasi dari papanya, ia mendekati orang-orang besar yang dulunya mengetahui kegiatan papanya semasa hidup di Jakarta. Bryan melirik jam arlojinya menunjukkan pukul 10 malam, waktu Gisna pulang dari kerja paruh waktunya. Entah kenapa sejak kejadian pagi tadi, Bryan tidak tenang dan merasakan ngilu di dadanya disetiap mengingat air mata yang jatuh ketika Bryan menyerukan jika ia hanya pelampiasan saja. “ Kalau begitu Bryan pamit om mau jemput temen.” Pamit Bryan menjabat taangan Malik yang tersenyum mendengar ucapan Bryan. “Udah ada pacar Bry?” tanya Malik menggoda Bryan yang justru mengeryit dan sedikit gugup kala Ia secara tidak sengaja sedang membicarakan Gisna. “Apasih om, Bryan pamit om!” pamit Bryan melambaikan tangan dan menghilang begitu saja digelapnya malam. *** "Gisna lo di panggil Pak Adil ke ruangannya." Ucap salah satu rekan kerjanya si Dika. Memang kedai kopu tempatnya Ia bekerja banyak di gunakan untuk para mahasiswa kampus Gisna untuk magang, Gisna saja mengenal Dika dan tahu jika Ia duduk di bangku universitas yang sama sudah bekerja di kedai kopi milik pak Adil saat ini. Gisna hanya mengangguk kemudian memasuki ruangan bercat kuning gading tipis dan tak terlalu mencolok itu, Gisna duduk di hadapan Adil yang tampak sibuk mengetik di keyboard computer jadul miliknya. "Langsung aja ya! Ini gaji sekalian bonus lembur kamu di hari libur." Ucap Adil menyodorkan sebuah amplop. Performance Gisna di tempat kerja tidak bisa di ragukan bagaimana Ia menarik pelanggan hanya dengan menanyakan menu yang di pesan di iringi sebuah senyuman ramah, sayangnya pekerjaan ini akan berakhir. Ayahnya melarang keras kegiatan Gisna yang di luar jam kuliahnya, namun tidak hanya Gisna rupanya Bara, kakaknya juga melakukannya. Ada perasaan pribadi antara manager kedai si Adil pada sosok karyawan si Gisna, namun dengan halus cowok tampan itu mundur karena saat rasa itu tumbuh Gisna masih menjalin hubungan dengan mantannya, Fathur. Sampai sekarang sepertinya Adil tak tahu Gisna sekarang tidak terjalin dengan suatu hubungan atau Adil sudah tidak mempunyai rasa ketertarikan pada bawahannya itu. Begitu menerima gajinya Gisna memutuskan segera berkemas untuk pulang, segarnya air untuk mandi di malam hari sudah memenuhi pikirannya. Apalagi nasi goreng di pertigaan yang dengan kantong mahasiswa akan menemani makan malamnya setelah membersihkan badannya yang sudah lengket dengan keringat dari tubuhnya. Langkahnya berhenti ketika matanya lurus tajam menatap sosok cowok yang duduk di atas motor Ducati-nya sibuk memainkan ponsel tak menyadari keberadaan Gisna beberapa meter di depannya. Gisna memutar bolanya malas saat ini Ia sedang tak ingin bertatap muka dengan Bryan yang tadi siang mengucapkan kata-kata yang mampu membolak-balikkan hatinya. Membuat cewek itu merasa bahagia dan terluka secara bersamaan. Gisna meneruskan langkahnya berbalik dan menjauhi cowok yang masih tidak tahu kedatangannya itu, tak berapa lama suara motor Ducati datang semakin mendekat pada Gisna yang dengan sengaja jalan lebih cepat. Begitu motor itu berhenti di sampingnya dengan serentak langkah Gisna juga berhenti dan melempar tatapan tajam pada sang pengemudi. "Ngapain?" Tanya Gisna ketus jujur saja baginya candaan Bryan sangat tidak lucu dan meninggalkan sesuatu yang menggores dadanya setiap teringat. "Naik!" perintah Bryan yang tidak terlalu jelas karena tertutup helm full face-nya. "Nggak, jelasin dulu! Kita mau kemana? Kakak mau ngapain? Dalam rangka apa nyamperin ke tempat kerja aku segala!" Tanya Gisna bertubi-tubi meluapkan sedikit demi sedikit emosi yang terselip. Bryan memutar bola matanya malas, dengan segera menarik tangan mungil Gisna yang spontan membuat cewek itu terkejut terlihat dari matanya yang mendelik. Bryan menatap diam cewek di depannya yang masih melemparkan tatapan tajam padanya. "Buruan naik! Ngoceh mulu bukan elo banget!" ucap Bryan menutup kaca helmnya dan menarik gas motor pelan-pelan. Senyum cowok itu tak bisa Ia kendalikan dengan sendiri terukir di bibir tipisnya ketika sebuah tangan bertumpu pada pundak kirinya di tambah sedikit pergerakan di motor bagian belakang miliknya. Sedang Gisna selalu kalah, mati kutu setiap Bryan bicara dengan jarak yang cukup dekat dan mata tanpa berkedip menatap padanya. Motor Ducati itu melaju dengan kecepatan sedang menelusuri kota yang di iringi gemerlap lampu ibukota, Gisna terdiam di balik punggung Bryan. Cewek itu menyadari Ia tak pulang ke kosnya, motor itu akhirnya berhenti di Café yang pernah untuk pertama kalinya Ia jalan dengan cowok di depannya yang sejak tadi membisu selama perjalanan. Gisna turun pelan-pelan sambil merapikan rambutnya yang sudah berantakan karena ulah angin malam yang seenaknya menabraknya. Bryan berjalan terlebih dahulu, tanpa mengucapkan sepatah kata untuk mengajak Gisna masuk. Melihat tingkah cowok itu, Gisna menyebikkan bibirnya seolah justru cowok itu yang sedang marah. Gisna mengikuti Bryan yang naik ke atap Café tempat favorit cowok itu sepertinya, duduk di tepi melihat indahnya pemandangan kota yang hanya terlihat lampu-lampu dan lampu kendaraan yang menelusuri jalan raya kota. Gisna masih diam, Ia juga tak mau untuk memulai pembicaraan. Gisna memandang suasana kota yang terlihat sama setiap malam dan memilih mengacuhkan sosok di depannya. Sampai sebuah Flash ponsel membuatnya menoleh seketika, Bryan sudah mengambil gambarnya dan tanpa pikir panjang mengunggahnya di i********: miliknya. "Hapus nggak !" ancam Gisna kesal, amarahnya belum hilang di tambah kelakuan Bryan yang selalu seenaknya. "Udah makan gih! Gue tahu lo kelaparan." Ucap Bryan sinis sambil menyodorkan sepiring pasta, menu special di Café ini. Gisna diam memandang pasta yang sudah melambai-lambaikan tangan padanya, namun akalnya tak juga bergerak melahapnya. Cewek itu masih termenung sebenarnya sekarang dia itu sedang apa? bahagia apakah benar? Lalu goresan luka tadi pagi kemana? TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN