11. KANGEN

1256 Kata
Sebuah mobil dengan plat Jakarta sedang berada di persimpangan perumahan kompleks di Kota Semarang. Pengemudinya menaiki dengan kecepatan rata-rata karena berada di kawasan perumahan yang cukup sepi meski terlihat beberapa mobil terparkir di rumah masing-masing.  Bukan rumah Bryan bukan disini melainkan dia hanya sedang mengulur waktu, mempertimbangkan kembali apakah langkahnya benar akan mengajak Vita pulang. "Sampai kapan deh muter mulu lo?" Omel Vita yang kesal melihat Bryan yang seperti orang tak tahu arah. Vita sudah lelah perjalanan jauh Jakarta-Semarang justru Bryan mengulur waktu dia untuk segera mengistirahatkan badannya. Akhirnya Bryan segera menancap gas dengan segera meluncur ke rumahnya yang sebenarnya. Vita terdiam melihat rumah kuno yang di penuhi taman bunga di halamannya.Mesti kuno tapi terlihat bersih sepertinya pemiliknya begitu merawatnya dengan baik. Bryan berhenti setelah mobilnya terparkir di depan pintu masuk utama rumah itu. Ia kemudian masuk di ikuti dengan Vita di belakangnya, baru beberapa langkah semua mata melirik tajam padanya. Ya memang begini ketika Bryan beberapa kali membawa seorang gadis pulang tentunya dengan berbeda. Apalagi Vita yang anak Jakarta dandanan khas yang terbilang wah, adalah yang di benci keluarga Bryan. Papa Bryan segera masuk kamar begitu muak dengan kelakuan anaknya. " Cewek nakal mana lagi yang kamu bawa pulang?" Tanya Tantenya sarkatis. Vita yang di tuduh mendelik tak terima, bayangan sambutan keluarga Bryan yang hangat justru membuatnya merasa turun harga dirinya. "Tante, kalok ngomong hati-hati ya!" Peringatkan Vita dengan emosi yang meledak. Terbiasa hidup serba dimanja membuat Vita selalu mengeluarkan emosinya sesuka hatinya tak peduli pada siapapun. "Nenek gak izinin dia menginap disini!" Tandas Nenek Bryan yang segera pergi ke dapur. Bryan tersenyum dengan begitu Ia tidak akan ada alasan lama untuk berlama-lama disini. Dia muak dengan masalah keluarga beberapa tahun lalu yang mengubah semua keadaan keluarganya. “Udah Bry, gue balik ke Jakarta aja. Kehadiran gue gak di terima di keluarga ini!” ucapan Vita benar-benar penuh dengan amarah dan emosi yang menjadi satu tak bisa di kendalikan. Vita segera menarik kunci mobil di tangan Bryan dan segera menancap gas untuk segera meninggalkan tempat yang sudah menjatuhkan harga dirinya. Bryan tak mengejarnya hanya menatap mobil itu melesat pergi. "Sampai kapan kamu akan seperti ini?" Tanya Mama Bryan yang masih dengan lembut pada Bryan tak peduli bagaimana sifat Bryan yang berubah setelah masa lalu itu menimpanya.Bryan hanya menggeleng pelan kemudian menunduk mencium kening Mamanya dan segera berpamitan pergi. "Titip salam untuk Papa ya Ma!" Ucap Bryan kemudian melesat pergi meninggalkan rumah Neneknya. “Apa kamu itu nggak capek Bry? Istirahat dulu gih!” tawar Mama Bryan yang masih ingin menatap wajah Bryan yang lama tak berjumpa dengannya. Wajah yang semakin hari mengingatkan seseorang di masa mudanya, siapa lagi jikalau bukan Papa Bryan. “Bryan disini cuman bisa bikin Mama berantem sama yang lain, lagian bisa ketemu Mama sebentar Bryan udah seneng.” Ucap Bryan tersenyum lembut pada Mamanya yang mulai berkaca-kaca. Bryan berpamitan dengan Tante dan Neneknya yang dengan enggan membalas uluran tangan Bryan, bagaimanapun Bryan tetap harus berterimakasih karena sudah menampung kedua orangtua Bryan. Dengan menaiki ojek pangkalan di sekitar rumah neneknya Bryan segera Menuju ke stasiun karena tiketnya akan segera berangkat. Apakah ini sebuah rencana? Tentu saja Bryan sudah tahu respon keluarganya bagaimana ketika cowok itu pulang membawa seorang cewek yang tentunya bukan kekasihnya. Tiket yang Ia beli secara diam-diam tanpa sepengetahuan Vita, Bryan cowok kejam memanfaatkan segala sesuatu. Hati nurani cowok itu entah kemana? Padahal hari ini adalah hari pertama mereka masuk kuliah kembali, para sahabatnya justru sudah kembali ke kampus sedang dirinya. Mata Bryan menatap sekitarnya di stasiun mencari arah kereta menuju Jakarta. Tak sengaja matanya menangkap sosok gadis kecil sedang meneguk s**u kotak rasa stroberi, mengingatkannya pada sosok Gisna. Entah kenapa cewek itu yang ada di fikirannya, Bryan menggeleng mencoba menampik jika cowok itu sedang merindukan cewek tentangga kosnya itu. Sambil menunggu kereta datang, Bryan merogoh sakunya mengambil benda pipih persegi panjang dan segera menekan sebuah kontak untuk Ia hubungi. "Sat... kirimin gue nomor Gisna sekarang!" Ucap Bryan seperti memerintahkan pada bawhahannya tanpa menunggu jawaban Ia segera menutup sambungan telepon. Sempat terfikir untuk kembali ke rumah neneknya bagaimanapun juga Ia tetap merindukan orang tuanya yang kini mengalah untuk kembali ke rumah orang tua mereka. Kenapa cepat sekali balikmu ke Jakarta? Papa kangen, Bry ! Sebuah notifikasi pesan masuk begitu Ia memutuskan sambungan telepon dengan Satria hanya guna meminta nomor ponsel Gisna. Siapa lagi jika bukan Papanya yang hanya diam ketika Bryan berulah,bukan berarti Ia tak peduli Ia tahu apa yang membuat putra semata wayangnya itu begitu? "Bryan, juga kangen sama Papa!" Batin Bryan tanpa membalas pesan singkat Papanya. Ia segera memasukkan ponselnya dan beranjak mendekati kereta yang sudah berhenti di hadapannya. *** Dua mahasiswa perempuan sedang menikmati jus pesenan keduanya dengan suasana kantin cukup heboh, tapi tempat keduanya yang di sudut kantin tak terlalu menjadi pusat perhatian. Gisna dengan raut muka masam hanya mengaduk-ngaduk jus alpokatnya yang sudah tak karuan bentuk dan warnanya yang tercampur dengan s**u cokelat. "Eh Na, itu kan Satria dan temen-temennya. Pacar lo gak ada?" Bisik Refy dengan memicingkan kedua matanya fokus dengan tiga cowok yang sedang sibuk membahas candaan yang unfaedah. "Kak Bryan gak tau deh, di kosan juga gak ketemu gue. Dan lagi dia bukan pacar gue!" Tegas Gisna dengan raut muka bete setiap kali membahas nama Bryan yang ada justru dia yang di ejek Refi. "Iya deh!" Ucap Refi di iringi cengengesan tanpa dosanya. Kemudian meneguk jus jambu miliknya beralih melihat ponselnya berharap ada notifikasi cari Ilyas kekasih hatinya. Entah mereka resmi berpacaran sejak kapan pasalnya Gisna sibuk bertapa di kosan ketika libur semester sedang Refi sibuk dengan keluarganya berlibur di Bogor. Sementara di seberang meja sana, tampak seorang cowok yang tengah gusar di tengah gurauan para sahabatnya. Satria merasa resah sejak tadi matanya tak pernah lepas dari Gisna, bahkan candaan para sahabatnya tak ada satu pun yang mengalihkan perhatiannya. Sampai Raka menyadari Satria yang tetap fokus  dengan ponselnya dan beralih ke cewek di sudut kantin yang mereka tahu adalah tetangga kos Bryan. "Elo kenapa deh Sat?" Tanya Raka menepuk pelan bahu sahabatnya. "Gue gak berani di suruh Bryan minta nomor si Gisna!" Terang Satria gusar menjambak poni yang menutupi dahinya. "Lah si cecurut kangen Gisna!" Tanya Edo dengan tampang kaget ala emak-emak rempong. "Gue bilang apa si Bryan itu udah jatuh cinta sama tuh cewek." Ucap Raka menegaskan bahwa tebakannya benar soal Bryan dan Gisna. Refi yang sejak tadi memandang sekitar hanya bisa mengkode Gisna lewat singgungan lengan sikunya. Begitu mata Satria mengarah pada sahabatnya itu. "Na, Satria kenapa natap sini mulu ya?" Tanya Refi berbisik pelan pada Gisna yang spontan melepas sedotan yang masih menempel di bibirnya. "Bodo ah!" Ucap Gisna tak peduli bayangannya sibuk menerka kemana Bryan pergi. "Lah, dia jalan kesini Na!" Ucap Refi tetap dengan nasa berbisik namun lebih heboh. Sampai keberadaan seorang cowok membuatnya bungkam siapa kalau bukan Satria yang sedang duduk di hadapan keduanya dengan tangan menggaruk kedua pahanya yang tak gatal itu. "Hei, Na!" Sapa Satria berbasa basi bingung mau memulai darimana. "Ada apa kak?" Tanya Gisna sambil menatap sekitar takut ada yang mengenal keduanya. "Boleh minta nomor elo gak? Si Bryan  yang nyuruh." Tanya Satria ragu takut  Gisna tidak akan memberikan nomor ponselnya. " hah! " ucap Gisna ragu antara memberikannya atau bagaimana sedang Refi hanya menatap menunggu reaksi sahabatnya. "Gini aja kak, bilang sama kak Bryan kalok dia suruh minta sendiri." Ucap Gisna menolaknya dengan halus agar teman yang baru Ia kenal beberapa hari tak tersinggung perasaannya. "Iya deh, pengen cepet ketemu Bryan kan!" Goda Satria pada Gisna yang tampak wajahnya memerah dan menunduk malu. "Apa benar aku rindu laki-laki hemat bicara itu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN