13. MAAF

1429 Kata
Gerimis rintik-rintik terdengar di telinga seseorang yang masih bergelut dengan selimutnya, dinginnya angin yang dibawa bersama turunnya air hujan menembus kulitnya. Segera Ia rapatkan selimut tebal berwarna biru muda itu dengan mata yang masih terpejam. Jangan salahkan hujan salahkan cowok itu yang tidur di ruang tamu beralaskan sofa yang lumayan kecil dan dengan sehelai selimut yang tentunya bukan milik cowok itu sendiri. Perlahan Ia membuka mata ini masih pagi jam dinding di ruang itu menunjukkan pukul delapan pagi, dan memang cuacanya sedang mendung. "Gue tidur semalam di sini, untung itu cewek kasih gue selimut." Gumam Bryan entah pada siapa. Cowok itu memilih terjaga dari tidurnya dan terdiam menikmati derai air hujan yang hanya gerimis namun cukup lebat. "Bryan!" Panggilan seorang cewek di depan pintu membuat Bryan menoleh dengan muka datar, sempat Ia berfikir jika itu adalah Gisna namun pendengarannya salah. "Oh, mbak Ajeng gak kuliah?" Tanya Bryan pada cewek yang perlahan menghampirinya. Dengan sigap dia mendudukkan tubuhnya memberikan tempat duduk untuk cewek itu. "Gak! " jawab Ajeng singkat kemudian memandang selimut yang membungkus kaki Bryan, seingatnya itu bukan selimut Bryan melainkan selimut Gisna. Bagaimana bisa? Sedekat apa mereka? "Bryan, gue mau ngomong sesuatu!" Ucap Ajeng diam menimbang-nimbang akankah Ia menanyakan sesuatu sekarang. Bryan terdiam tak menanyakan balik, Ia hanya menunggu cewek di depannya segera berbicara. Sebenarnya Bryan tahu apa yang akan di katakan Ajeng. "Emang kita gak bisa kayak dulu lagi ya?" tanya Ajeng pelan-pelan menunduk tak berani menatap cowok yang Ia yakini mungkin sedang memandangnya tajam. Bryan menghala nafas panjang, dia bosan dengan pertanyaan yang sama setiap mereka punya kesempatan di suasana yang sama. Bryan muak namun juga lelah menghindar terus menerus mungkin ini saatnya Ia menjelaskan semuanya, nyatanya otaknya memilih diam habis kata-kata untuk menjelaskan pada cewek di sampingnya yang berstatus mantan kekasihnya sekaligus seniornya di kampus. "Apa gak ada hal lain?" Tanya Bryan dengan lirih namun menusuk seolah Ia sedang menahan emosinya. Entah kenapa setiap Ia mengingat masa lalunya dengan Ajeng, rasanya otak dan fikirannya tak bisa bersahabat. Selalu menyeruak dengan emosi yang tertahankan. "Aku cemburu setiap kamu dekat dengan Gisna, kenapa bisa kamu sedekat itu sehangat itu dengan cewek yang baru kamu kenal!" Protes Ajeng kehabisan kata-kata hingga perasaan yang Ia pendam membuatnya harus mau tak mau menyebut nama cewek yang tiba-tiba hadir di hidup Bryan membuat warna tersendiri di hidup cowok itu. "Gak ada hubungannya dengan Gisna, pliss mbak !" Ucap Bryan tertahan, seolah Ia tak mungkin meluapkan emosinya pada seorang cewek, Bryan bukan laki-laki pengecut. "Tetap ada, di mata kamu sudah jelas ada Gisna! Kalok kamu nggak bisa sama aku, kenapa Gisna bisa?" Ucap Ajeng mulai meninggi tak terima dengan sikap Bryan yang seolah tak ada pengaruh Gisna dalam hidupnya. “jangan kekanak-kanakan! Lagian Gisna cuman kayak cewek biasa!” tandas Bryan tersulut api kemarahan, dia benar-benar tidak suka dengan seseorang yang selalu memaksanya terkecuali Gisna, cewek yang mampu membuat Bryan menuruti semua kemauannya. Bryan sudah tak kuasa menahan emosinya Ia segera beranjak pergi meninggalkan Ajeng yang justru mulai menitikkan air matanya. Bryan bukan dirinya sekali lagi. Bryan berjalan ke halaman rumah baru saja langkahnya menapak halaman dan mendapati mata memerah milik tubuh yang kini membeku di tempat kala mata Bryan menatapnya tajam. Terlihat genangan air mata di pelupuk mata cewek itu membuat pandangannya kabur, Ia menahan nafasnya lidahnya kelu menatap Bryan yang hanya diam padanya. Perlahan tubuhnya gemetar Ia tak tahu harus berbuat apa. ketika kesadarannya tersadar Ia melangkah pergi, namun tak bisa kala Bryan dengan singgap menahan lengannya dan menyeretnya untuk ikut dengan cowok itu. Genggaman yang cukup kuat membuatnya meringis kesakitan sampai air mata yang Ia tahan luruh begitu saja di iringi nafas yang akhirnya Ia hembuskan. "Lepasin kak !" Ucap Gisna parau di iringi nafasnya yang belum teratur. Sedang Bryan melepaskannya dan menaiki motor ninja hitamnya. Bryan menatap tajam pada Gisna dari sorot matanya meminta Gisna untuk naik juga, namun cewek itu menggeleng pelan yang langsung mendapat cekalan kembali di lengannya cukup kuat. "Gue bilang naik!" Bentak Bryan dengan nada tinggi sambil memakaikan helm pada cewek yang kini menggigit bibirnya menahan tangis akan sakitnya cekalan Bryan padanya. Akhirnya Gisna naik di bagian ujung belakang tak berangsur lama kala Bryan menarik gas dengan kencang membuat Gisna perlahan memeluk pinggang cowok di depannya yang sedang menyetir bersama gejolak emosi yang entah pada siapa akan Ia tumpahkan. Namun, pelukan Gisna mampu meredakan amarahnya begitu saja. Seperti Bryan telah menemukan obat setiap emosi tak terkendalikan itu muncul. Bryan secara spontan melajukan motor hitamnya ke Bogor yang bisa Ia tempuh beberapa jam dari daerah Ibukota Jakarta. Gisna hanya menurut mengendurkan pegangannya di pinggang Bryan kala cowok itu menstabilkan kecepatan motornya. Hingga sampailah Ia di gerbang masuk sebuah desa yang mempunyai lahan kebun teh cukup luas dengan cuaca yang cukup membuat badan menggigil. Bryan berhenti di sebuah warung yang tampaknya memang tempat persinggahan pengunjung kebun teh. Gisna ikut duduk di sebelah Bryan yang sedang memesan dua gelas jeruk hangat. Entah pikirannya kalut sampai Ia tanpa sadar kini sedang berada dengan Gisna yang kini menghembuskan nafas dingin, tanpa sebuah jaket atau pakaian tebal Ia sudah disini. Bryan yang melihatnya melepaskan kemejanya dan melampirkannya di bahu mungil Gisna menutup rambut cewek itu yang terurai di punggung dan lehernya. Meski tak sehangat jaket dan tak setebal sweater setidaknya bisa memberikan kehangatan di tubuh mungil Gisna. Gisna memandang Bryan yang justru beralih ke ponselnya, Gisna hanya tersenyum masam. Cewek itu masih takut dengan cowok yang duduk di sampingnya. Bryan tampak serius membaca satupersatu chat yang masuk dari beberapa sahabatnya. Raka: lu dimana? Masuk kuliah juga kaga. Satria : di cariin sama Dosen wali lo! Edo : kos lo kosong Yan? Ucapan-ucapan kedua orang yang Ia dengar tadi pagi membuatnya teringat akan sikap Bryan yang benar-benar di penuhi emosi bukan seperti Bryan yang galak namun selalu lembut padanya. "Kak!gue..." "Ini kang jeruk hangatnya." Ucap seorang ibuk-ibuk penjual warung tersebut memotong ucapan Gisna yang lirih. Bryan yang sudah menoleh tak jadi mendengarnya, Ia lebih memilih menerima gelas jeruk hangat yang Ia pilih. Menyodorkan pada Gisna tanpa kata-kata. Gisna yang sudah tak tahan dengan dingin yang sejak tadi menyerangnya, segera meneguk seperempat isi gelas itu. Tak sedingin tadi karena kemeja Bryan yang besar menghadirkan kehangatan tersendiri untuknya. Gisna memilih memandang sekitarnya kala Bryan memandangnya cukup dekat, seolah menagih apa yang akan di katakan gadis di sampingnya. Bryan yang kesal karena sengaja di abaikan, menarik lengan Gisna yang langsung Ia lepaskan kala cewek itu meringis kesakitan. Tanpa pikir panjang cowok itu menarik lengan Gisna menggulung kaos panjang cewek itu melihat lengan mungilnya. Tidak memar namun memerah seperti ada bekas tancapan kuku Bryan. Bryan mengelusnya lembut secara perlahan secara memutar, Gisna yang menjadi tak karuan perasaanya segera menarik pelan tangannya dan memakai kemeja Bryan. *** Sudah beberapa jam mereka hanya berdiri di bukit tertinggi di kebun itu tanpa ada perbincangan di antara keduanya, Gisna sibuk memutar tubuhnya memotret setiap pemandangan yang ada. Bahkan Ia lupa pada cowok yang membawanya karena emosinya yang meledak. Sedang Bryan menatap Gisna yang tampaknya nyaman di tempat ini, begitu berseri senyumnya menanggapi keindahan sekitarnya. Penyesalan menohok di sudut hati cowok itu, tak seharusnya Ia luapkan segala emosinya pada Gisna yang tak tahu apa-apa. Bahkan emosinya sampai membuatnya menyakiti cewek polos di hadapannya ini. Bryan menarik kedua tangan Gisna, menggenggam keduanya dalam satu tangkupan tangannya. Gisna diam memperhatikan tingkah laku Bryan. Setiap hari bertambah dan bertambah kelembutan yang Gisna terima. Bryan menggosok tangan Gisna, menyalurkan kehangatan agar cewek itu tidak menggigil. "Na! Ayo pulang!" Ajak Bryan masih setia meniup kedua tangan Gisna. Kemudian menarik  tangan Gisna pelan takut menyakiti cewek di sampingnya yang spontan memudarkan senyum manisnya. "Kakak foto bareng dulu yuk!" Ajak Gisna begitu terlihat seperti anak kecil dimata Bryan. Bryan tak mengiyakan namun segera memposisikan dirinya di samping Gisna. Gisna segera mengambil gambar namun membeku di tempat kala Bryan mengecup keningnya sampingnya yang tertutup rambutnya yang terurai. Gisna diam dengan posisi sekarang apakah Bryan sedang memeluknya sekarang? Ya Bryan memeluknya dalam diam kala dekapan hangat hadir di punggung Gisna. Cewek itu hanya diam tak menolaknya atau membalas pelukan cowok itu. Yang Ia tahu suasana hati cowok itu sedang keruh. Sedang Bryan yang tak mendapat penolakan dari Gisna, mencoba mencari kebenaran akankah hatinya yang lama membeku benar-benar terbuka untuk cewek dalam dekapannya ini. "Maaf!" Ucapan Bryan melepaskan dekapannya. Melihat wajah bingung Gisna yang masih menatapnya kosong langsung tersadar begitu kedua tangan Bryan mengampit kedua pipinya membuat wajahnya terlihat manyun. “Gue bener-bener nggak bisa nafas kalok elo terluka.” Ucap Bryan mengusap pelan pipi Gisna dengan kedua tangannya yang masih setia cowok itu tangkupkan. Gisna juga tak bisa bernafas mendengar pengakuan Bryan,benar-benar sedang menghadapi Bryan yang sangat asing baginya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN