19. REALITY

877 Kata
"Lo pada ngapain sih melototin gue!" Gertak Gisna kesal dengan kedua sahabatnya yang diam-diam menatap semua tingkah laku Gisna, padahal cewek itu tidak melakukan hal berbeda. Masih sama seperti biasa ketika mereka sedang berkumpul. "Ngaku lo Na, pacaran kan lo sama si senior itu?" Tanya Ilyas terus menanyakan pertanyaan yang sama, dan sudah beberapa kali Gisna membantahnya. "Ya ampun, Ilyas. Sudah berapa kali gue bilang. Gue gak ada apa-apa sama si Bryan." Ucap Gisna menekan setiap kata yang terucap dari bibir mungilnya, Ia mendengkus sebal. Refi meletakkan ponselnya setelah jarinya lelah men-scroll akun instagramnya melihat ada produk baru apa yang Ia ikuti. "Tapi Na, hubungan kalian itu gak wajar!" Ucapan Refi seolah memihak pada pertanyaan kekasihnya. Gisna tersenyum hambar kemudian membuang muka tak habis fikir dengan alur sahabatnya, entah kenapa emosinya terpancing begitu saja dengan pertanyaan sederhana yang menyangkut Bryan. "Gak wajar darimana? Kita cuman makan bareng, jalan bareng. Wajar dong! Lagian juga dia tetangga kos gue!" Sungut Gisna menanggapi argumen dengan sepasang kekasih di hadapannya. "Tuh kan !" Sentak Ilyas dan Refi bersamaan. Wajah mereka tidak terima jika tak ada hubungan spesial antara keduanya. Gisna terdiam begitu gerombolan Bryan datang dari arah barat tepat dengan orang yang sedang di bicarakannya tadi berjalan paling depan. Dan kini kedua mata mereka bertemu, Bryan memandang Gisna tanpa jeda menyalurkan beribu pertanyaan di benaknya. Refi melihat perubahan Gisna yang tadinya ribut seperti petasan diam seribu bahasa dan menundukkan pandangannya. Refi melihat ke arah pandangan Gisna tadi, dan senyum ambigu terlukis di wajah sahabat karib Gisna itu. Refi yang menangkap mata Bryan yang masih setia mengamati Gisna, menyinggung lengan kekasihnya si Ilyas. Ilyas menunduk mengiyakan ucapan batin Refi, seolah cowok itu bisa membaca fikiran pacarnya. Gisna memandang satu sama lain sepasang kekasih menyebalkan itu, tampak keduanya sedang mencoba komunikasi dengan bahasa isyarat. Gisna memutar bola matanya malas, seolah tahu apa yang sedang mereka bahas. "Gue masih disini kalok lo mau ngomong!" Sindir Gisna sambil memainkan ponselnya dengan wajah dingin. Namun Refi dan Ilyas mengurungkan niatnya untuk segera menyerbu Gisna dengan beberapa tuduhan pada cewek yang berasal dari Bandung itu. Keduanya terdiam melihat seorang cowok sedang berjalan menuju meja mereka, bak seperti patung yang bernafas mengamati Bryan yang menghampiri Gisna. Gisna mendongakkan kepalanya kala sepasang sepatu berhenti di sampingnya, cewek itu tahu jika itu Bryan karena aroma parfum yang begitu maskulin memperkuat keberadaan cowok itu. "Gue boleh gabung?" Tanya Bryan datar menatap kedua sahabat Gisna yang membeku di tempat, seperti maling yang tertangkap basah. Dengan senyumannya Refi mengiyakan dan menggeser minuman Ilyas. Gisna menatap Bryan yang kini duduk di sampingnya justru sibuk memainkan ponselnya. Semakin kesal kala melihat teman-teman Bryan yang tersenyum misterius mengarah padanya. " Mau ikut nggak?" Tanya Bryan menatap Gisna yang kini justru terdiam, mengarahkan tatapan menbunuh pada kedua sahabatnya seakan lupa dengan keberadaan Bryan. "Emang mau kemana?" Tanya Gisna membalas tatapan Bryan yang terlihat begitu teduh, cowok itu tidak menjawab justru menyisihkan rambut Gisna yang menutupi pelipis cewek di depannya itu. Refi dan Ilyas terdiam melihat interaksi merek berdua, keduanya saling melemparkan cubitan mencoba menyalurkan pendapat mereka. Bahwa benar jika Bryan dan Gisna ada hubungan spesial. "Terserah, lagi bosen aja sih." Ucap Bryan terus terang, cowok itu melemparkan pandangan tajam dan menggertakkan giginya kala melihat keributan para sahabatnya yang tak juga berlalu dari sana. Justru mereka sedang memantau semua kejadian sejak Bryan memutuskan untuk pamit dan memilih bergabung dengan Gisna. "Lagi gak pengen, pulang aja deh." Tolak Gisna untuk ajakan Bryan, Refi terdiam menatap Gisna ada hal yang berbeda setiap kedua insan di depannya berbicara. "Gue pulang duluan, Ref! Yas!" Pamit Gisna berdiri hingga berlalu meninggalkan Bryan yang mematung karena tak di hiraukan oleh cewek itu. Bryan hanya tersenyum kemudian menyusul Gisna, Refi dan Ilyas membalas senyuman cowok yang sejak tadi menjadi topik hangat di percakapan sepasang kekasih itu. *** Sebuah mobil menepi di jalanan, kaca mobil tertutup rapat namun terdapat dua penumpang disana, tampak gelap tak terlihat siapa disana. Pembicaraan juga cukup serius antara keduannya. "Tujuan pertamakan hanya memberi gertakan Bryan untuk berhenti mencari tahu?" Tanya seseorang yang duduk di kursi pengemudi membenarkan topi hitamnya menutupi separuh wajahnya. "Iya aku tahu, bermain sedikit dengan mangsa memang apa salahnya?" Tanya seseorang di sampingnya menjawab dengan nada bicara yang ambigu. Lawan bicara itu diam, memikirkan sesuatu hal. Matanya menerobos keluar jendela menatap mobil yang berlalu lalang tak membiarkan jalan itu jeda dengan kendaraan. "Lalu apa lagi? Kamu mau membunuhnya sekalian?" Tanya cowok itu memainkan setir mobilnya.  "Ya tujuan akhir memang itu, karena Bryan satu-satunya penghambatku kali ini." Jawab cowok yang memakai kacamata hitam yang lebih tua darinya. Begitu sebuah motor melintas di hadapannya, cowok itu segera menancap gas mengikutinya. Rupanya mereka sedang menunggu Bryan, untuk melanjutkan aksinya kemarin. Motor Bryan yang tengah melaju kencang dan juga membawa Gisna di belakangnya sepertinya tidak mengetahui keberadaan dua orang jahat yang siap mencelakainya.Mobil itu semakin menambah kecepatan kala motor Bryan dengan cekatan menyalip beberapa mobil di depannya. "Itu cewek yang bernama Gisna?" Tanya cowok yang berada di kursi penumpang, mencoba menyakinkan jika informasi yang dia terima dari anak buahnya benar adanya. "Kamu gak bisa mencelakainya, cewek itu punya peran tersendiri disini. " ucap cowok bertopi memperingatkan temannya untuk tidak gegabah dalam melancarkan aksinya. "Siapa yang peduli? Siapapun yang menghalangi jalanku harus kita singkirkan bukan?" Tanya cowok berkacamat hitam seolah meremehkan masalah itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN