Lepasnya Keperjakaan (21+)

1387 Kata
“Kau ingin menghabiskan waktu denganku, Sayang?” Klara bertanya dengan suara rendahnya yang menggoda. Sungguh ia menyukai saat seorang lelaki menginginkannya lebih dari ia menginginkan lelaki itu. Ia menyukai sanjungan. “Aku tidak terbiasa dengan ini.” Kening Klara mengerut. Bukan jawaban itu yang ingin ia dengar. Membuatnya geram dan meremas semakin kuat benda yang terasa tegang itu. “Ah!” desah Joe. Ia kemudian mencengkeram tangan Klara. Menghentikan aksinya. “Beri aku waktu,” pintanya. Dengan wajah tak senang Klara pun menjauhkan tubuhnya dari Joe. Meski tubuhnya telah dikuasai libido, ia tidak bisa memaksa seseorang untuk bercinta dengannya. “Baiklah. Aku beri kamu waktu. Dan jangan menyesal,” ketusnya. Sejenak Joe menghening. Ia menarik napas panjang-panjang mengembalikan kejernihan otaknya. Tidak. Ia telah dikuasai berahi. Ia tidak bisa berpikir jernih. “Siapa namamu?” tanya Joe. “Apa urusannya?” “Setidaknya aku harus tahu namamu.” “Klara.” Lelaki itu kembali terdiam. Hingga mereka tiba di lantai paling atas dengan tubuh masing-masing yang masih dikuasai libido. “Waktumu tidak banyak. Putuskan sekarang. Kau bisa ikut bersamaku ke penthouse, atau pulang dan melepaskan kesempatan ini,” ucap Klara. Pintu lift terbuka. Joe masih bergelut dengan pikirannya yang sudah tak logis. Ia menginginkan lebih dari yang wanita itu tahu. Ia tidak bisa memungkiri keinginannya untuk ‘menyergap’ seorang wanita yang dengan lihainya membelai barang miliknya yang sangat berharga itu. Tetapi ia masih merasa aneh jika bercinta dengan seorang wanita yang baru pertama kali ini ia temui. Mengingat Joe adalah lelaki yang masih asing dengan wanita, apalagi untuk melakukan cinta satu malam. Setalah beberapa saat pikirannya bergulat. Joe telah mengambil keputusan. Ia tidak tahu apa keputusannya nanti membawa masalah. Yang pasti, ‘barang’nya yang sudah terlanjur mengeras ini tidak bisa diajak berkompromi. Klara hendak keluar meninggalkan Joe yang sedang melamun itu di dalam lift seorang diri. Ia tak bisa menunggu lebih lama lagi. Namun saat baru melangkah, Joe segera menahan tangannya. “Aku ... aku akan ikut bersamamu. Malam ini saja.” Jawaban yang diinginkan Klara! Klara seketika tersenyum miring. Melihat senyumnya, Joe spontan menarik tangan Klara, membawanya dalam dekapan. Ia mengendus aroma yang begitu wangi dari tubuh Klara, menciuminya dengan rakus. Sambil berciuman dengan mesra, Joe dan Klara melangkah keluar dari lift. Melewati lorong dengan penerangan cahaya temaram yang remang-remang itu sambil terus berciuman. Sesekali Joe menghimpit tubuh Klara di dinding lorong, menciuminya dengan ganas hingga suara desahan nikmat memenuhi seisi lorong. “Aku suka aroma tubuhmu, Klara,” bisik Joe yang semakin membuat Klara terangsang. “Puaskan aku, Joe. Buatlah aku seolah berada di surga.” Klara membalas dengan gumaman pelan. Seketika itu Joe berhenti menciumi telinga dan leher Klara. Ia berhenti sejenak. Menatap wajah Klara di bawah pencahayaan lampu temaram yang redup di sepanjang lorong. Joe, dengan kedua matanya yang jernih dan lembut, menatap kegelisahan yang dalam di bola mata Klara. Lelaki itu seperti melihat sebuah kehancuran di antara cantiknya wajah Klara. Jari tangan Joe mengusap pelan bibir Klara yang lipstiknya berantakan karena ciuman mereka. Ia membelai wajah tegas, yang seperti menyembunyikan banyak kesedihan, pada wajah jelita yang ditatapnya. “Kehancuran apa yang berusaha kamu sembunyikan di wajah anggunmu ini, Klara?” desus lirih Joe melihat kedua bola mata Klara yang bergetar. Wanita itu terlihat begitu rapuh di hadapan Joe kali ini. Ya, kali ini. “Jangan khawatir. Aku akan membuatmu seolah sedang berada di surga.” Setelah itu Joe kembali menyambar bibir Klara dan menciuminya mesra. Kedua tangannya yang kekar itu mengangkat tubuh Klara. Joe menggendongnya memasuki griya tawang yang pintunya terbuka otomatis saat Klara mendekatkan kartu aksesnya di sensor pintu masuk. Mereka berdua masuk ke dalam kamar penthouse untuk menyelesaikan apa yang telah mereka mulai bersama. Cinta satu malam. Mereka berdua bercinta di penthouse tanpa pamrih. * Suara kembang api malam tahun baru mengisi keheningan langit malam. Tubuh Klara masih terasa hangat usai kegiatan bercintanya dengan Joe. Ia memiringkan tubuh ke kiri. Menatap gebyar kembang api melalui jendela di sisi timur apartemennya. melihat kemegahan yang terpancar begitu nyata di depan matanya. “Aku belum pernah melihat kembang api seindah itu.” Suara Klara mendesus pelan. Ia rasakan tangan kekar melingkar di perutnya. Tubuh mereka masih sama-sama telanjang. Hangat dari berhai yang tidak benar-benar padam itu bercampur dengan dinginnya AC yang mengeringkan tubuh mereka dari keringat. “Yang bitu itu namanya chrysanthemum, yang cahayanya putih dengan bercak merah itu dandelion, dan yang merah muda telungkup itu palm. Semua kembang api itu impor dari perusahaan manufaktur terbesar di China. Dijual terbatas di seluruh dunia.” Di belakang kepalanya, Joe menyahut sambil menyaksikan kembang api lewat jendela apartemen yang selebar dinding. Desah napasnya yang hangat menyentuh kulit leher Klara. Sesuatu di tubuhnya bergetar kecil oleh terpaan napas itu. “Kamu tahu banyak soal kembang api.” “Tidak. Aku hanya suka membaca majalah. Dan karena aku yang memesan semua kembang api itu untuk pesta tahun baru itu. Kamu tahu Bamantara Grup? Mereka yang mengadakan pesta tahun baru itu di Bamantara Land.” Joe bercerita singkat. Pandangannya masih terpaku pada kembang api yang meledak di udara dengan berbagai bentuk dan warna. Yang mana pesta kembang api itu berada di jarak satu kolimeter dari gedung apartemen JK Holdings. “Kamu bekerja untuk Bamantara Grup?” tanya Klara. Bamantara Grup adalah perusahaan konstruksi dan estate yang menjadi saingan berat JK Holdings. Sampai tertatih-tatih Klara tidak akan bisa mengalahkan perusahaan yang menguasai hampir semua properti kota itu. “Tidak. Aku hanya sedang menyelesaikan tesisku di sana. Dan mendapat tugas kecil dengan bayaran besar; mengimpor kembang api untuk pesta tahun baru,” jelas Joe singkat. “Kamu punya banyak pekerjaan.” Joe terkekeh-kekeh. “Justru, tidak. Aku tidak punya pekerjaan. Aku sedang menyelesaikan tesisku dan karena itu aku harus segera mencari pekerjaan.” Perlahan, Klara membalik tubuhnya. Ia berhadap-hadapan dengan Joe. “Ada perusahaan yang kamu incar?” tanyanya penuh harap. Ia membelai wajah Joe, menatapnya lekat-lekat. “Bamantara Grup ... mungkin.” “Damn.” Wanita itu spontan mengumpat. Membuat Joe mengerutkan kening. “Kenapa? Kamu tidak senang dengan Bamantara Grup?” Jelas Klara tidak senang karena itu adalah saingan beratnya. Sambil membaringkan tubuh Klara mendesus pelan. “Tidak apa-apa. Lagian, bekerja dengan pria sepertimu itu berbahaya.” Kerutan di kening Joe semakin dalam. “Kenapa? Kamu tidak suka denganku?” Klara langsung melemparkan tatapannya untuk Joe. “Kamu berbahaya, Joe.” “Maksudnya?” Sekali lagi Klara melengos. “Kamu tau? Aku tidak pernah bericara sebanyak ini dengan pria setelah bercinta. Aku selalu meninggalkan mereka saat mereka masih tidur kelelahan. Atau aku yang mereka tinggalkan saat ketiduran. Aku tidak bicara banyak dengan orang asing. Terutama mereka yang sudah aku tiduri.” “Kenapa?” “Aku tidak ingin meninggalkan kesan. Aku ingin semuanya selesai setelah bercinta. Tidak boleh meninggalkan jejak, emosi, atau apa pun.” Kamar itu hening seketika. Joe memandangi tubuh Klara dengan tatapan kosongnya. “Kamu wanita kejam, rupanya.” Klara terdiam. Tak menyanggah. Hingga beberapa saat kemudian ia mendengar desahan napas panjang dari Joe yang membaringkan tubuhnya dengan kecewa. Pria itu menatap kosong langit-langit. Menatap kehampaan pada lampu hias yang membentuk lengkung air. Setelah itu Klara terbangun. Menatap tubuh Joe lama. Lantas menindihnya. “Jangan bilang kamu masih perjaka sebelum bercinta denganku,” tanya Klara curiga, penuh rasa was-was. Joe terdiam lama. Menatap kedua mata Klara dengan kesenduannya. “... Oh, tidak. Kamu sungguhan masih perjaka?” Klara mendesus keheranan. Merasa malu, Joe segera melompat turun dari ranjang. Mencari pakaiannya yang tersebar di atas lantai. Dari celana dalam, celana, sampai kaus yang tadi ia kenakan. Sementara Klara yang masih keheranan itu hanya menatap Joe dengan senyum anehnya. Ia tidak percaya ada laki-laki yang masih menyimpan keperjakaannya di usia ke dua puluh sekian. Dan lelaki itu ada di hadapannya saat ini. Betapa menggemaskannya fakta itu untuk Klara yang bahkan tidak ingat kapan pertama kali ia berhubungan seks. Ia menatap punggung lelaki itu dengan kedua matanya yang kembali memancarkan gairah. “Mau pulang sekarang?” tanya Klara. “Katanya kau tidak ingin lama-lama denganku.” Joe menimpali dengan suara dingin. “Bisa kita bermain beberapa ronde lagi?” Klara kembali menggunakan suara seksinya untuk mempengaruhi Joe. Membuat Joe yang telah memakai celana dalam itu perlahan-lahan berbalik menatap Klara. Melihat wanita yang masih telanjang itu menyilangkan kaki di depan matanya. “Aku akan memberikan malam terindah untuk kamu ingat sepanjang hidup, Joe.” *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN