Gaun berwarna biru satin itu berkilauan di bawah cahaya lampu griya tawang sebuah apartemen megah milik JK Holdings. Klara, seorang wanita dua puluh sembilan tahun yang menajdi CEO dari perusahaan itu sedang memoles wajahnya di depan cermin. Mengenakan lipstik berwarna maroon pada bibirnya yang tebal. Mempersiapkan dirinya untuk pesta tahun baru yang ia adakan di gedung apartemen ini.
Suara ketikan pintu terdengar. Ia tahu siapa yang datang.
“Keluargamu sedang mengadakan pesta tahun baru di Singapura dengan mitra besar JK Grup. Apa kamu serius ingin mengadakan pesta sendiri di gedung ini?”
Belum apa-apa lelaki itu sudah mengomel. Namanya adalah Dean. Sampai hari ini ia masih menjadi asisten pribadi Klara. Sungguh. Kata ‘asisten’ terlalu remeh untuk menjelaskan siapa lelaki itu sebenarnya. Ia lebih seperti kakak sekaligus mentor untuk Klara. Satu-satunya orang kepercayaan Klara sejak dirinya ditunjuk menjadi CEO JK Holdings di usia yang relatif muda.
“Toh mereka tidak menginginkan keberadaanku. Jadi untuk apa aku repot-repot datang ke sana? Di sini aku bisa mengadakan pesta yang lebih menyenangkan,” sahut Klara begitu selesai memoles wajahnya yang seindah mutiara hitam. Ia berkilau di bawah cahaya remang griya tawang yang menjadi tempat tinggal keduanya. “How do I look?” lanjutnya bertanya sambil memperlihatkan lekukan tubuhnya dalam balutan gaun biru navy yang ia kenakan.
“Gorgeous, as always.”
Bibir wanita itu tersimpul. Ia mendekati Dean. Menatap kedua mata legas pria empat puluh tahun yang sudah empat tahun ini menemaninya.
Ia memang membenci Dean yang suka mengomel padanya. Namun ia akan merindukan lelaki itu. Dean adalah satu-satunya pria yang pertahanannya tak runtuh oleh pesona dan kecantikan Klara. Satu-satunya pria yang tak bisa Klara luluhkan.
“Malam ini kamu bisa temani aku, Dean?” tanya Klara penuh goda. Ia meletakkan tangannya di pundak Dean. Membuat kedua mata Dean memicing tajam, seakan sedang menahan dirinya untuk tak luruh. Tangan di bahu Dean itu pun semakin turun membelai perut. Turun lagi menuju pusar. Saat Klara akan menyentuh anggota tubuh Dean yang bisa melunak dan mengeras itu, tangan Klara segera dicengkeram oleh Dean.
“Jangan lakukan ini pada siapa pun. Kau bisa kena tuduhan pelecan seksual. Kau tau betapa besarnya masalah itu?”
Sekal lagi, pria itu mengomeli. Membuat Klara menghela napas sebelum menghentakkan tangannya dari cengkeraman Dean.
“Aku tidak pernah lakukan ini pada siapa pun selain kamu, Dean.” Klara memutar matanya ke arah lain. Dengan angkuh ia menyombongkan sesuatu. “Lagian, biasanya mereka duluan yang mengerling ke arahku dengan tatapan penuh nafsu.”
Dean menarik napas panjang-panjang menatap Klara. Jujur. Sampai detik ini Klara tidak tahu apakah Dean memang tidak memiliki nafsu, atau lelaki itu hanya tidak bernafsu kepadanya. Bagaimana bisa?!
“Kapan terakhir kali kamu berhubungan seks, Dean?” lanjur Klara bertanya.
“Aku tidak menjawab pertanyaan yang tidak berhubungan dengan pekerjaanku.”
Sambil membalik tubuhnya untuk mengambil tas di atas meja rias, Klara mengeluh. “Kamu terlalu kaku padaku. Apa kamu juga seperti ini pada semua wanita?”
“Ini caraku menjaga profesionalitas, Nyonya Klara.”
“Aku tidak perlu kamu panggil Nyonya.”
“Baik, Bu Klara.”
“Jangan panggil aku bu! Aku tidak suka diperlakukan seperti ibu-ibu. Tidak suka diperlakukan seperti orang tua. Aku ini masih muda. Aku tidak berbeda dari wanita muda pada umumnya yang menyukai pesta dan menggilai seks!” Klara memarahi asistennya. Sungguh ia tak suka diperlakukan seperti nyonya, terlebih oleh Dean yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
“Sayangnya karena kegilaanmu pada pesta dan seks, masalah seperti ini muncul lagi.” Dean menyahut sambil melemparkan Ipad ke arah Klara.
Klara langsung menangkan Ipad itu. Melihat sebuah artikel yang membahas tentang skandal perselingkuhan aktor berinisial M dengan CEO wanita dari salah satu anak perusahaan JK Grup.
“Lagi?” pekiknya.
“’La ... gi?’ Aku sudah bilang padamu untuk hati-hati saat tidur dengan laki-laki dari pestamu, Klara. Berapa kali aku harus membereskan masalah semacam ini? Ini hadiah untuk pekerjaan terakhirku sebagai asistenmu?” Dean kembali mengomel. Membuat Klara langsung melongi menatapnya.
“Kenapa ngomel-ngomel terus? Aku tidak ingat aku pernah tidur sama laki-laki ini. Aku mabuk berat waktu itu. Aku tidak ingat siapa dia,” balas Klara sambil melihat siapa aktor M yang dimaksud. “Siapa aktor M ini? Michele? Morgan? Atau ... Mamang?” Klara mengerutkan wajahnya mengingat-ingat semua nama pria berinisial M yang ia tahu.
“Mark Levis. Istrinya baru melahirkan anak pertama mereka. Mereka dikenal sebagai pasangan ideal dan dipuja-puja semua orang.”
Sambil melemparkan Ipad itu ke atas kasur, Klara berkata, “Bukan salahku kalau ternyata lakiknya selingkuh.”
Terdengar tarikan napas panjang Dean. “Aku sudah menyelesaikan masalah ini dengan baik. Artikel itu sudah dihapus sebelum menimbulkan kehebohan. Tapi, ini berpotensi menjadi masalah besar, Klara. Tolong, lebih hati-hatilah mengajak pria-pria untuk tidur denganmu.”
Klara sudah menenteng tasnya dan bersiap-siap untuk pergi. Matanya berputar mencerna kata-kata Dean.
“’Pria-pria’? Maksudmu ... treesome? Ide bagus!” cetusnya sebelum berjalan meninggalkan Dean. Terdengar helaan napas panjang dari tubuh Dean yang membuat Klara terkikik saat meninggalkannya seorang diri di griya tawang.
Klara keluar dari penthouse. Masuk ke dalam lift yang akan membawanya turun menuju lantai enam belas. Di sanalah pestanya dengan semua karyawan lelaki JK Holdings dilaksanakan.
Lift yang membawa Klara turun berhenti di lantai enam puluh. Seseorang masuk ke dalam lift. Pria muda yang usiaanya sekitar dua lima. Ia masuk dengan napas terengah-engah, dengan membawa tas berisi peralatan teknis. Tubuhnya berperawakan tinggi gagah. Memakai kaus oblong yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang ketat dan kecoklatan karena sinar matahari. Penampilannya seperti pria pekerja kasar, tapi wajah tampan itu terlihat seperti seorang mahasiswa yang lugu.
Pintu lift kembali tertutup.
“Ada masalah apa di lantai enam puluh?” Klara bertanya sambil melirik ke arah pria di sebelahnya yang masih terengah-engah itu. Sial. Desahan napasnya membangkitkan sesuatu di tubuh Klara. Klara menggigit bibir merasakan libidonya yang mulai naik.
“Oh, ada masalah konsleting listrik di salah satu unit.” Pria itu menjawab dengan sopan.
“Aku mengenal semua teknisi di gedung apartemen ini. Dan kamu terlihat asing.”
“Soal itu ....” Pria itu terlihat ragu-ragu. Membawa kecurigaan di kepala Klara. “Sebenarnya aku menggantikan pekerjaan temanku. Dia teknisi di gedung ini. Dan dia sedang repot mengerjakan sesuatu. Aku hanya menggantikannya untuk hari ini. Tidak usah khawatir. Masalah listrik di unit itu sudah aku atasi dengan baik.”
Kepala Klara mengangguk pelan. “Baiklah. Aku percaya. Siapa namamu?”
“Ya?” Pria itu menoleh.
Sial. Wajah bingungnya membuat Klara semakin bergejolak. Dalam kepala ia sedang sibuk meredam libidonya yang semakin tinggi.
“Aku perlu tahu namamu supaya kalau ada masalah di unit itu aku bisa memintamu bertanggung jawab. Kamu menerobos masuk ke gedung ini dan membenarkan masalah listrik tanpa sertifikat izin dari perusahaan. Kalau ada apa-apa, kamu harus bertanggung jawab, kan?” jelas Klara.
“Ahh.” Pria itu mengangguk. Tidak ada kekhawatiran di wajahnya. “Namaku Joe. Aku teman sekelas Dimas, teknisi yang harusnya menyelesaikan masalah ini. Aku tinggal di komplek perumahan Wijaya Kusuma, kalau sewaktu-waktu aku dicari. Tapi aku bisa jamin tidak akan ada masalah dari perbaikan yang aku lakukan. Aku sudah melakukan pekerjaan ini sejak usia belasan tahun. Meski aku lulusan bisnis, aku bisa menangani masalah konsleting listrik dengan baik. Aku juga punya sertifikat pelatihan kalau kamu mau lihat.”
“Tidak. Cukup.” Klara segera menyerobot.
“Kamu pengelola gedung?” tanya Joe pada wanita yang berdiri di sebelahnya.
“Sejenisnya.” Klara tak bisa melakukan kontak mata dengan lelaki itu. Khawatir ia tak bisa menahan diri. Tapi, ia sudah kalah. Dindingnya sudah diringkus. “Kalau kamu senggang, kamu boleh ikut pesta tahun baru di lantai dua puluh.”
Klara menolehkan tubuhnya, melihat Joe yang mengangkat kedua alisnya yang lebat.
“Ya. Pesta tahun baru,” jawab Klara. Kulit lehernya seperti tertiup angin dingin saat ia menatap lelaki itu semakin lekat. Suhu tubuhnya menaik seiring langkahnya yang mendekati tubuh Joe. “Atau ... kamu bisa habiskan waktu bersamaku di penthouse.”
Semburat kegugupan menutupi wajah Joe. Ia sibuk bergelagak saat Klara mendekat semakin lekat.
“A-aku tidak tahu maksudmu,” desus Joe tergagap-gagap.
“Kamu suka olahraga apa, Joe? Kardio atau angkat beban?” Klara bertanya degan suara rendahnya. Ia melihat otot-otot yang mengeras di lengan Joe. Melihat keperkasaan pada tubuh yang berdiri gagah di hadapannya.
“Hm ... kardio?”
Senyum Klara melekuk istimewa. “Sama. Aku juga suka kardio. Seks-kardio.”
Wanita itu mengentuh lengan Joe. Membuat Joe yang terlampau gugup itu menjatuhkan tas perkakas yang dibawanya. Dan tanpa sengaja mengenai kaki Klara.
“Aww!” Wanita itu memekik sambil menjatuhkan pandangannya melihat tas Joe di atas sepatu heels yang ia kenakan.
“Aduh, maaf. Maaf, aku tidak sengaja.”
Joe segera menyingkirkan tas itu dari kaki Klara. Memeriksa kelecetan di sepatu dan kaki Klara. Punggung kaki wanita itu lecet oleh ujung obeng yang Joe bawah.
“... Astaga. Maafkan aku.”
Pria itu berjongkok di depan kaki Klara. Mengambil segelai sapu tangan dari saku celananya. Menyeka darah yang ada di kaki Klara.
“Tidak. Tdiak apa-apa.” Klara bergumam sambil mengernyit merasakan perih pada punggung kakinya.
“Kakimu lecet. Lepas dulu sepatumu. Aku akan mengobatinya,” ucap Joe khawatir. Ia beranjak berdiri sambil memperlihatkan wajah bersalahnya pada Klara.
Klara yang tak sanggup lagi menahan gejolak setelah Joe menyentuh kakinya, menarik wajah pria itu lantas ia kecup. Ia mencium bibir lelaki itu selama beberapa detik sebelum akhirnya ciuman mereka terlepas.
“Kenapa? Kamu tidak suka?” tanya Klara kepada Joe yang tampak tidak terbiasa dengan ciuman dadakan semacam ini. Wajah canggung Joe itu mengatakan segalanya.
“Bukan. Maksudku—hmp!”
Wanita itu menyambar Joe dengan ciuman bibirnya. Joe tidak bisa mengelak bahwa dirinya menyukai ciuman dari wanita yang bahkan tidak ia ketahui namanya ini.
Pintu lift terbuka di lantai dua puluh. Namun secara cekatan Klara menekan lagi tombol tutup dan membawa mereka kembali naik ke lantai paling atas gedung ini: griya tawang. Sedangkan ciuman itu belum terelakkan. Bibir mereka saling melumat dengan ganas sementara tubuh itu telah dikuasai oleh berahi. Klara melepaskan ciumannya sesaat setelah lift kembali membawa merkea naik. Tangannya berkelana di bawah kaus oblong yang Joe pakai. Meraba-raba perut lelaki itu. Merasakan gumpalan otot yang membentuk bulatan di perut Joe. Lalu tangan yang jahil itu turun pada sesuatu yang telah menegang di balik celana Joe.
“Ingin menghabiskan waktu denganku, Sayang?”
*