Ben yang saat itu langsung saja mencoba untuk tenang dan mencoba untuk fokus karena tak ingin kembali membuat dosen dikelasnya marah bahkan sampai kembali melemparnya dengan pulpen karena Ben yang sangat kehilangan fokusnya langsung saja bisa melupakan mengenai dirinya yang sekarang sebenarnya sedang memikirkan Seena, mengenai dirinya yang akan meminta maaf kepada Seena karena merasa sangat bersalah dengan apa yang diucapkannya kemarin sore. Selain dirinya yang mencoba untuk fokus karena sekarang memang bukan saatnya untuk kembali memikirkan mengenai Seena Ben pun langsung saja mencoba untuk fokus ke mata kuliah yang sedang dirinya hadapi sekarang, selain itu Ben juga jadi sangat mencoba untuk sangat fokus karena dirinya yang saat ini jadi disuruh oleh dosen untuk melakukan sebuah presentasi di depan kelas.
Tanpa menolak suruhan dari dosen tentu saja dengan pikirannya yang sebenarnya masih sedikit bingung dengan presentasi apa yang harus Ben katakan karena Ben yang malah melamun tadi langsung saja mencoba untuk memahami materi yang sedang dirinya pelajari, dan tentu saja memahami materi yang harus dirinya presentasikan hari itu. Dengan kepintaran Ben saat itu tanpa lama Ben melakukan pengkajian dan fokus terhadap materi presentasi hari itu Ben pun pada akhirnya bisa memahami presentasi apa yang harus dilakukan oleh Ben saat itu, dan Ben pun pada akhirnya perlahan bisa melakukan presentasi hingga selesai, dan membuat dosennya jadi tidak kesal lagi kepada Ben karena kepintaran Ben yang saat itu dengan baik bisa mempresentasikan materi mata kuliah yang sedang dirinya pelajari saat itu.
"Baiklah sekian untuk presentasi saya hari ini, mohon maaf jika ada salah kata yang saya ucapkan terima kasih," ujar Ben menutup presentasinya saat itu dengan disuruh oleh dosennya tentu saja.
"Apa ini hanya perasaanku? atau memang benar adas sesuatu yang aneh?" tanya Ben dalam hati. "Perasaan dari awal kuliah aku ketika aku sedang menghadiri mata kuliah ini, Seena selalu ada di kelas yang sama denganku karena memang mata kuliah ku ini sama dengannya. Tapi kenapa dia sekarang tidak hadir di mata kuliah ini?" tanya kembali Ben dalam hatinya.
Ben yang saat itu merasa bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Seena jadi memikirkan apa yang sebenarnya membuat Seena jadi tak ada di kelas yang sama dengan Ben saat ini.
"Dan jika aku perhatikan lagi selain Seena, Sin juga gak ada di kelas ini. Semuanya terjadi begitu sangat tepat disaat yang bersamaan ketika Seena tak ada Sin pun kebetulan tak hadir di kelas, hanya ada 2 orang anak buahnya. Apa mereka berdua ada sangkut pautnya?" tanya Ben kembali, dengan perasaannya yang bertambah merasa tak enak saat itu.
Hingga yang dilakukan Ben saat itu adalah langsung saja pergi mencoba untuk menemukan dimana Seena sekarang, bertanya kepada teman-teman Ben yang bisa saja bertemu dengan Seena atau tahu kemana, dan kenapa Seena hari itu. Tapi sayang ketika Ben sudah bertanya kepada beberapa orang temannya dan bahkan teman yang cukup dengan Seena, mereka tak ada satu orangpun yang tahu kemana Seena, dan justru mereka malah ada yang balik bertanya apakah Seena benar-benar tak hadir di mata kuliahnya barusan.
Karena pertanyaan itu Ben pun malah bertambah pusing karena bukannya mendapat jawaban, tapi Ben malah mendapatkan pertanahan balik dari temannya hingga ketika Ben berpikir untuk langsung saja kembali bertanya kepada teman Seena, dimana Seena berada Ben melihat salah seorang teman Seena yang saat itu memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Seena, hingga Ben pun langsung saja menghampirinya meskipun dia adalah Shen adik dari Sin.
"Shen maaf aku ingin bertanya apa kau melihat Seena?" tanya Ben cemas.
"Kenapa kau menanyakannya? bukannya hari ini biasanya kalian berasa di satu kelas yang sama? aku kira Seena bicara padamu sebelum dirinya pergi menghampiri dan nongkrong dengan kakakku," jawab Shen.
"Apa dengan kakakmu? apa kau yakin?" tanya Ben.
"Tentu saja aku yakin karena aku melihat Seena dari tadi ada di bagian depan kampus ini bersama dengan kakakku, di tempat makan? ketika aku baru datang barusan aku sudah melihatnya karena terlihat jelas. Ada apa Ben?" tanya Shen.
"Tidak, tidak ada apa-apa Shen, aku hanya sepertinya sedikit mencemaskan Seena karena dirinya yang sekarang ada hadir dikelas yang seharusnya menjadi tempat kami belajar bersama dengan mata kuliah yang sama tadi. Aku hanya ingin tahu saja kemana dia, karena tadi dia tak hadir dikelas Shen, tapi karena sekarang semuanya sudah jelas Seena sedang ada bersama dengan kakakmu tentu saja aku tak usah mencemaskan nya lagi. Baiklah Shen terima kasih, jika seperti itu sepertinya sekarang lebih baik aku pergi ke kantin saja dulu sambil menunggu dosen kedua yang menjadi pengajar mata kuliah ku ada. Sampai jumpa Shen.
"Tunggu Ben! apa kau bilang akan ke kantin tadi? apa kau tak ingin mengajakku Ben? aku juga menunggu dosen yang akan mengajar di kelasku saat ini, tapi entahlah mungkin dia terlambat datang karena seharusnya sekarang dia sudah ada disini. Apa kau tak mau mengajakku ke kantin untuk makan bersama atau mungkin beristirahat bersama?" tanya Ben.
" Oh seperti itukah? aku tak tahu jika dosenmu sedang terlambat datang jadi aku tak menawarimu pergi bersamamu ke kantin Shen, tapi karena kau bilang jika kau sedang menunggu Dosenmu sekarang tentu saj akan boleh ikut bersamaku ke kantin jika kau inginkan Shen," jawab Ben.
"Oh ya sepertinya kau benar. Tapi baiklah Ben, sekarang sepertinya karena aku bosan harus menunggu aku mungkin lebih baik ikut saja denganmu ke kantin, sekalian menunggu dosenku yang akan mengajar sampai dia datang. Ayo Ben," ujar Shen, mengajak Ben pergi.
Dan saat itu tentu saja Ben langsung pergi kembali ke kantin untuk mengistirahatkan dirinya sambil berpikir apa yang sebenarnya terjadi, kemarin Seena bilang jika dirinya tak suka kepada Sin, tapi sekarang Shen bilang Seena sedang ada di tempat mereka nongkrong di depan ( sebrang ) kampus. Aku yakin jika Shen tak berbohong karena tak ada untungnya berbohong, dan sekarang sepertinya aku mungkin lebih baik pergi saja dulu ke kantin, aku tak enak jika sampai Shen berpikir hak buruk kepadaku, mengenai kecemasanku kepada Seena, jadi sekarang yang harus aku lakukan adalah tenangkan diri agar aku tak membuat Shen curiga dengan wajah cemaskan, lalu aku akan mencoba menghampiri Seena yang Shen bilang ada bersama dengan kakaknya di seberang kampus untuk bicara sesuatu.
"Kau mau makan Ben?" tanya Shen, ketika mereka sudah ada di salah satu meja kantin.
" Tidak, terima kasih Shen. Aku tak merasa lapar. Aku sepertinya hanya akan mengerjakan kembali tugas yang aku miliki, kau tak keberatan kan jika aku fokus ke pekerjaan ku dulu sekarang Shen?" jawab Ben, lalu bertanya.
"Ya baiklah jika seperti itu. Ya tentu silahkan Ben, nikmati dan manfaatkanlah waktumu dengan baik," ujar Shen.
Saat itu tentu saja Ben langsung membuka kembali laptopnya untuk mencari informasi mengenai sesuatu yang akan berguna untuk dirinya tentu saja, contohnya sebuah pekerjaan untuk Ben yang bisa dirinya kerjakan online di laptopnya, tapi baru saja Ben membuka laptopnya dan melihat salah satu situs yang biasanya bisa membuat dirinya menemukan pekerjaan tiba-tiba Seena datang bersama dengan Sin lewat ke kantin tersebut sambil tangan Sin yang merangkul bahu Seena.
"Apa yang terjadi paman Seena? apa kau benar-benar baik-baik saja? kemarin kau bilang kau tak mungkin kau bersanding bersama dengan Sin, tapi sekarang kenapa kau jadi berubah 180° karena kau bukan hanya dekat tapi sepertinya kau adalah pacar Sin Sekarang Seena, rangkulan tangan Sin begitu sangat menjelaskan mengenai status kau bersamanya Seena. Apa ini benar-benar kau Seena? sekejap mata apa yang kau lakukan sekarang begitu berbeda dengan apa yang kau katakan kemarin," ujar Ben, merasa sangat aneh ketika melihat Seena yang menghampiri meskipun hanya lewat saja ke bangku tempat Ben duduk, tanpa melirik Ben sedikitpun langsung saja lewat memesan minuman, lalu pergi ke bagian belakang kampus itu sepertinya, membuat Ben begitu sangat memiliki pertanyaan besar.
"Seena aku benar-benar tak menyangka kau bisa berbeda sejauh ini. Aku jadi benar-benar merasa sangat bersalah apa kau berbeda seperti ini karena perkataanku kemarin yang kau anggap salah Seena?" tanya Ben, dalam hatinya.
"Ben kau tak apa-apa? kenapa kau bisa terlihat seperti sangat aneh melihat Seena yang pergi dengan kakakku?" tanya Shen "ah aku tahu, kau sampai melongo melihat kakakku yang menggandeng Seena merasa cemburu kan padanya Ben?" tanya Shen.
"Hentikan Shen? tidak aku tidak merasa cemburu dengan Seena yang dekat dengan kakakmu aku hanya, aku hanya," Ben seketika berhenti bicara, karena ingat siapa yang sedang menjadi lawan bicaranya.
"Hanya? hanya apa Ben?" tanya Shen.
"Tidak, tidak apa-apa Shen sudah lupakan," jawab Ben.
"Aku tahu apa yang sebenarnya akan kau katakan Ben, kau akan bicara jika kau hanya menghawatirkan Seena akan menjadi berprilaku kurang baik, atau mu yakin pribadinya yang baik akan rusak karena malah menerima kakakku yang terkenal dengan berandalan yang memiliki anak buah dengan kepribadian yang buruk. Itukan maksudmu?" tanya Shen kembali.
"Hentikan perkataan mu Shen, aku tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu," jawab Ben. "Meskipun dalam hatiku sebenarnya yang kau katakan itu memang benar, aku khawatir apa yang kau katakan akan terjadi Shen, tapi meskipun begitu aku menghormatimu jadi aku tentu saja tak akan sampai menayangkan hal buruk mengenai kakakmu dihadapanmu," ujar Ben dalam hati.
"Ya baiklah jika seperti itu," ujar Shen.
Tak lama kemudian ketika Shen sudah bicara seperti itu pelayan datang mengantarkan makanan dan minuman yang Shen sudah pesan tadi.
"Ini untukmu Ben," ujar Shen sambil memberikan Ben minuman dingin.
"Apa? untukku? kenapa kau harus repot-repot memesankan minuman untukku Shen? aku kan sudah bilang jika aku tidak apa-apa, kau saja yang makan dan minum," ujar Ben, merasa tak enak karena dipesankan minuman oleh Shen.
"Tidak apa-apa Ben sesekali aku membelikanmu minuman, lagipula dari dulu kita pertama kenal baru kali ini aku bisa duduk di satu bangku denganmu, kapan lagi aku mendapatkan kesempatan seperti ini. Jadi sekarang sudah tak usah dipikirkan, ayo minum Ben," ujar Shen.
"Memangnya aku ini siapa Shen? aku bukan dosen ataupun orang penting yang bisa kau banggakan, dan lagipula jika kau mau makan bersama atau nongkrong bersama denganku, kau tinggal bilang saja tak usah canggung aku tak akan sampai menolak ajakanmu jika aku sedang tak sibuk Shen. Tapi baiklah Shen. Terima kasih untuk minumannya," jawab Ben.
"Ya kau memang bukan seorang dosen atau orang jenius lain tapi kau ini adalah orang yang baik, dan pintar Ben tentu saja orang lain sepertiku memiliki sebuah harapan untuk bisa sepertimu, dengan dekat denganmu dan bisa mendapatkan perhatianmu kau mungkin saja tak keberatan membagi ilmu yang kau miliki kepadaku, agar aku juga bisa pintar sepertimu Ben," ujar Shen.
"Hentikan Shen, kau berlebihan aku hanya orang biasa tak terlalu pintar, kau tak usah terlalu memujikku Shen. Tapi jika kau ingin belajar bersamaku, kau tak usah canggung untuk mengatakannya aku bilang jika aku memiliki waktu luang dan tak sedang sibuk aku tak akan sampai menolak permintaanmu," jawab Ben.
"Baiklah Ben jika seperti itu, aku akan memegang perkataanmu lain kali jika aku sedang membutuhkan orang yang bisa membantuku berpikir aku akan meminta bantuanmu Ben hehe," ujar Shen.
"Ya tentu saja, silahkan Shen tapi dengan catatan bukan berarti aku yang akan mengerjakan tugas yang kau miliki, tapi aku hanya akan membantumu agar bisa mengerjakan tugasmu itu Shen. Dan itupun jika aku bisa," jawab Ben. "baiklah sepertinya aku akan mulai untuk mengerjakan kegiatanku lagi Shen, aku harap kau mengerti jika aku membutuhkan fokus sekarang," ujar Ben.
"Ya baiklah aku mengerti mengenai itu Ben. Oh ya baik maaf Ben, aku malah terlalu banyak bicara tadi, silahkan kau bisa mengerjakan tugasmu kembali Ben," jawab Shen.
Ketika Ben sedang mengerjakan kegiatan yang sudah ada di dalam laptopnya saat itu, sesekali Ben melihat ke arah pintu keluar dari kantin tersebut yang dilewati Seena, dan Sin tadi. Ben yang saat itu penasaran apakah Seena memang benar-benar menjadi pacar Sin hingga Seena mau dirangkul oleh Sin seperti tadi, atau Seena hanya mencoba untuk menggoda Ben saja? mencoba membuat Ben merasa panas karena melihat Seena yang sekarang malah jadi bermesraan dengan Sin.
"Sepertinya aku memang harus benar-benar bicara dengan Seena, dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi? kemarin Seena mengatakan jika dirinya tak mungkin mau kepada Sin, tapi sekarang Seena begitu terlihat nyaman dan bahagia bersama dengan Sin? aku benar-benar harus menghentikan kegilaan ini dan menyadarkan Seena mengenai hal yang dilakukannya ini sebenarnya adalah hal yang aneh, dan tak masuk akal. Aku harus menyadarkan Seena," ujar Ben dalam hatinya.
Tak lama kemudian ketika Ben dan Shen berada di satu bangku sambil Ben yang mengerjakan tugas yang dimiliknya, dosen yang saat itu mengajar kelas Shen bisa Ben lihat.
"Shen, lebih baik kau melihat ke sebelah sana! bukankah itu adalah dosen yang harusnya mengajar di kelasku sekarang?" tanya Ben.
"Oh Ben untung kau melihat dan memberitahuku karena itu memang dosen yang memiliki jadwal mengajar kelas ku sekarang. Baiklah Ben sekarang aku harus pergi untuk mengikuti kelas ku, sampai jumpa lagi lain hari," ujar Shen sambil pergi meninggalkan Ben, untuk langsung masuk ke kelas dosen yang memiliki jadwal mengajar kelasnya saat itu.
"Ya baiklah Shen, silahkan," ujar Ben.