Ben yang saat itu sudah melihat ke arah orang yang so berkuasa dengan tingkah sombong dan tak sopan mereka tak sedikitpun melihat ke arah mereka yang perlahan sudah mendekati tempat Ben duduk dan bekerja hingga pada akhirnya, merekapun dekat dengan tempat Ben duduk dan melewatinya. Ben yang saat itu santai dan tak menganggap mereka sebenarnya tidak mendapatkan bantuan dari orang pertama yang berjalan di depan yang bernama Sin, meskipun dengan wajah sombongnya saat itu Sin tak melakukan apapun dan hanya terus saja berjalan ke depan, tapi semuanya berubah ketika teman Sin atau mungkin anak buah Sin yang tepat lewat di posisi Ben bekerja.
"Duaarrrr,"suara tong sampah ditendang oleh salah seorang anak buah Sin.
Dan posisi tong sampah tersebut berada di dekat Ben yang saat itu yang tentu saja membuatnya merasa tertanggung dengan hal tersebut hingga sedikit perasaan kesal pun Ben rasakan, karena kesal Ben sudah hampir berdiri untuk bicara kepada salah satu anak buah Sin yang kurang ajar tersebut tapi Ben saat itu berpikir lagi jika dirinya mengikuti emosinya saat itu keadaannya akan bertambah kacau karena bukannya meminta maaf tapi anak buah Sin itu sepertinya hanya akan melakukan hal yang lebih buruk lagi bahkan mungkin saja mengacau kembali dengan melakukan hal yang Ben tidak sukai saat itu, hingga yang terjadi sekarang adalah tentu saja Ben langsung meredam amarahnya mencoba menenangkan dirinya meskipun emosinya sudah memuncak.
"Sabar Ben, sabar! kau tentu tahu kan bagaimana sikap mereka yang menyebalkan, dengan kau sama terpancing emosi tak akan membuat ini lebih baik bahkan mungkin dia juga sepertinya akan membuat kekacauan yang lebih aku tidak sukai yang membuat kerjaku jadi terganggu. Jadi sekarang sabar Ben, sabar, jangan sampai kau terpancing emosi dengan mereka yang memang sangat menyebalkan, sekarang teruskan saja kerja bagusmu, dan fokus!" ujar Ben, dalam hatinya.
Saat itupun Ben tentu saja hanya terus saja berdiam diri tanpa melakukan apapun, menenangkan dirinya sampai pada akhirnya Sin dan kedua anak buahnya langsung saja pergi meninggalkan Ben dengan sikap mereka yang masih saja menyebalkan melakukan beberapa kekacauan di sepanjang jalan yang mereka lewati.
"Sin kau ada disini ternyata? apa yang sedang kau lakukan? dosen yang akan mengajar kita sudah datang dan masuk ke kelas, ayo sebaiknya sekarang kita juga masuk agar tidak terlambat," ujar Seena, mengajak Ben masuk ke dalam kelas karena dosen Ben sudah ada di kelas.
"Oh seperti itukah? terima kasih Seena. Ayo sekarang kita masuk ke dalam kelas," ujar Ben.
Ben bersama dengan Seena pun langsung saja pergi berjalan ke ruang kelas yang Seena katakan untuk mengikuti pelajaran mata kuliah yang mereka ambil.
Tak lama kemudian merekapun sampai di sebuah kelas dimana dosen mata kuliah Ben sudah ada di sana, ruang kelas yang saat itu masih terlihat ada beberapa kursi yang kosong. Tanpa memikirkan hal tersebut Ben pun langsung saja duduk di salah satu kursi ruangan tersebut bersama dengan Seena tentu saja. Singkat cerita Ben saat itu sudah bisa selesai mengikuti mata pelajaran yang dirinya harus ikuti lalu tentu saja keluar dari kelas tersebut, berpikir untuk langsung saja kembali melanjutkan pekerjaan yang dirinya miliki yaitu membuat artikel mengenai kejadian yang dirinya sempat lihat diperjalanan yang dirinya lakukan tadi.
"Ben! tunggu, Ben!" ujar Seena.
"Ya ada apa Seena?" tanya Ben.
"Kau akan kemana sekarang?" tanya Seena.
"Sepertinya aku akan berdiam diri saja dikantin, untuk melakukan pekerjaan yang hari ini aku dapatkan," jawab Ben.
"Oh kebetulan sekali aku juga ingin pergi ke kantin untuk mengerjakan beberapa tugas yang belum sempat aku selesaikan. Boleh aku ikut?" tanya Seena.
"Ya tentu Seena," singkat Ben menjawab.
Dan merekapun jadi langsung saja pergi ke kantin bersama-sama. Di salah satu bangku mereka langsung sama-sama membuka laptop yang mereka miliki, Ben yang akan langsung melanjutkan pekerjaannya langsung saja membuka file yang sudah dirinya simpan di laptopnya, dan Seena pun juga langsung saja membuka laptopnya dan sepertinya juga mencari atau melakukan sesuatu
"Ben aku bisa titip ini sebentar kan?" tanya Seena.
"Ya tentu Seena," jawab Ben.
Seena pun pergi dengan menitipkan semua peralatannya kepada Ben saat itu, hingga ketika beberapa saat kemudian Seena pun kembali dengan pelayan kantin yang membawa beberapa makanan.
"Disini saja, terima kasih pak," ujar Seena.
Ben yang bingung saat itu langsung saja menyingkirkan laptopnya agar Seena bisa mendapatkan ruang untuk menyimpan semua makanannya saat itu.
"Baiklah Be ini untukmu. Selamat bekerja," ujar Seena, sambil memberikan makan dan minuman kepada Ben.
"Ah apa kau bercanda? kenapa bisa kau memberikan ini untuk ku? aku tak punya uang untuk,"
"Sudah Ben tak usah dipikirkan, aku yang traktir semua ini sudah aku bayar tenang saja. Ayo silahkan, nikmati," ujar Seena.
"Wow kau baik sekali Seena. Terima kasih," ujar Ben.
Saat itupun Seena langsung kembali ke laptopnya yang sudah dirinya buka, begitupun dengan Ben yang juga sudah membuka laptopnya ingin kembali menyelesaikan tugasnya yang sempat dirinya kerjakan tadi sambil menunggu dosen datang. Tapi ketika Ben melihat ke arah pintu masuk kantin merasakan feeling tak enak sekaligus mendengarkan tertawa orang yang Ben tidak sukai, dan feeling Ben benar dirinya saat itu benar-benar merasa tak enak karena yang datang adalah Sin dengan kedua anak buahnya kembali, dengan sombong dan kedua anak buah Sin yang kembali bersikap tak sopan.
"Sial kenapa juga aku harus memilih kantin ini untuk aku mengerjakan kembali tugasku? Sekarang semuanya sudah terlambat jika aku memutuskan untuk secepatnya pergi, aku akan membuat mereka merasa tersinggung karena kedatangan mereka bisa saja menunjukan terang-terangan rasa tidak sukaku kepada mereka. Baiklah Ben, lagi pula ini dikantin yang tentu saja pemilik kantin tak akan mau jika ada seseorang yang berbuat semena-mena. Dan setelah masuk kemaripun aku lihat mereka hanya seperti itu saja kan, berjalan biasa meskipun hanya dengan wajah dingin dan menyebalkan mereka. Jadi yang sekarang harus aku lakukan hanya diam, dan terus saja mengerjakan proyek yang sedang aku lanjutkan ini," ujar Ben dalam hatinya ketika melihat Sin dan dua anak buahnya lagi saat itu.
Ben dan Seena saat itu sama-sama bersikap biasa saja sampai ketika beberapa saat Ben pun merasa sedikit terganggu karena Ben yang saat itu melihat jika Sin dan kedua anak buahnya menghampiri mereka.
"Halo nona, kalian menikmati makan siang kalian?" ujar Sin sambil sengaja merangkul bahu Seena.
Sementara kedua anak buahnya duduk ditempat Ben duduk, sambil melakukan hal yang tak Ben sukai yaitu mengambil minuman Ben yang saat itu beruntung sudah hanya tinggal sedikit lagi karena Ben yang sudah meminumnya. Ben yang saat itu sebenarnya tak suka dengan perilaku mereka tentu saja merasa risih dan terganggu tapi Ben tak bisa berbuat apa-apa karena Ben yang sadar jika sekarang dirinya sedang berada di posisi yang tak aman, dengan melihat Sin yang saat itu sedang menggoda Seena.
"Lepaskan! kau jangan macam-macam ya!" seru Seena.
"Wow, wow ada apa cantik? kenapa kau begitu galak padaku? tenang saja, aku kan tak melakukan apapun dan hanya bertanya hal biasa saja. Kenapa? apa kau merasa terganggu dengan keberadaan kami?" tanya Sin.
"Jangan ganggu kami, lebih baik kalian pergi karena kami tak ingin kau ganggu Sin," ujar Seena.
"Wow kau mengusirku? berani sekali kau? memangnya siapa kau hingga aku harus menuruti perkataanmu yang menyuruhku pergi dari sini?" ujar Sin. "Tapi baiklah kami akan pergi setelah kau menerima ajakan ku untuk makan malam romantis berdua malam ini. Bagaimana?" tanya Sin.
"Tidak, aku sibuk. Dan lagipula nanti malam aku sudah memiliki janji dengan Ben akan melakukan kerja kelompok, jadi lebih baik kalian pergi sekarang karena aku sudah menolak ajakanmu Sin," jawab Seena.
Mendengar hal seperti itu Ben langsung saja kaget dan jadi melihat ke arah Seena.
"Oh jadi seperti itu? baiklah jika itu yang kau tak bisa pergi denganku karena kau yang sudah memiliki jadwal dengan anak ini ( sambil menoyor-kan kepala Ben ), sepertinya sekarang yang jadi masalahku adalah orang ini benarkan?" ujar Sin.
"Sin jaga tanganmu, jangan melakukan hal yang tak kami sukai!" tegas Seena.
"Oh baiklah jika seperti itu, cantikku aku akan bicara dengan sedikit lebih lembut kepada pacarmu ini, yang sepertinya hanya seorang bocah ingusan," ujar Sin. "Baiklah sekarang karena Seena bilang dia tak mau pergi denganku karena memiliki janji denganmu sekarang aku pikir aku akan bicara padamu, tinggalkan dia sendiri dan batalkan acaramu bersamanya malam ini!" tegas Sin.
Ben yang saat itu bingung tentu saja melihat ke arah Seena yang saat.itu memberikannya isyarat agar Ben bisa dirinya jam kerjasama dan bicara 'iya' saja kepada Sin yang saat itu bicara.
"Maaf Sin sepertinya aku tak bisa membatalkan janjiku dengan Seena ini. Ini kegiatan yang wajib kami lakukan agar kami bisa mendapatkan nilai dari dosen yang mengajar kami? jadi maaf Sin aku tak bisa melakukan apa yang kau inginkan," ujar Ben.
"Trek," Sin menjentikan jarinya hingga bersuara, memberikan sinyal.agar anak buahnya menahan Ben meskipun dengan cara yang keras.
"Ah Sin," teriak Seena sambil akan menghampiri Ben yang saat itu di cekik oleh kedua anak buah Sin.
"Tenang cantik, tak apa-apa tak usah khawatir seperti itu aku tak akan melakukan apapun kepadanya, aku hanya ingin bicara jika sebaiknya dia membatalkan acaranya denganmu malam ini, agar tak ada hal buruk yang terjadi diantara kita sekarang. Dan aku pun bisa secepatnya pergi, jadi silahkan jawab," ujar Sin.
"Kak hentikan!" ujar seseorang seperti wanita sambil berlari menghentikan kelakuan buruk Sin saat itu.
"Oh sial kenapa kau harus datang disaat seperti ini? sekarang lebih baik kau pergi! " seru Sin.
"Tidak kak, aku tak akan pergi sampai kau dan temanmu melepaskan Ben sekarang kak," ujar Shen yang ternyata adalah adik Sin.
"Sial," ujar Sin. "Lepaskan dia!" seru Sin kepada kedua anak buahnya, hingga mereka berdua pun langsung saja melepaskan Ben.
"Baiklah sekarang minta maaflah kak, kau sudah salah tentu saja kau harus meminta maaf padanya!" seru Shen.
Tapi yang dilakukan Sin saat itu langsung saja pergi, tanpa mengucapkan maaf seperti yang dikatakan oleh Shen saat itu dengan tatapan sinis kepada Ben.
"Urusan kita belum selesai tunggu saja nanti," ujar Sin, sinis dan langsung pergi.
"Ben kau tak apa-apa?" tanya Seena, cemas.
"Maaf, maaf Ben aku benar-benar tak habis pikir dengan kakak ku padahal aku sudah beberapa kali bicara padanya agar tak membuat kekacauan di kampus, awalnya dia memang terlihat tak melakukan kekacauan dan justru kedua anak buahnya lah yang malah membuat kekacauan. Sekali lagi maafkan kakakku, dia tak bermaksud itu berlaku so aku yakin itu," ujar Shen meminta maaf mewakili Sin.
"Ya tak apa-apa. Aku baik-baik saja kalian tak usah khawatir," ujar Ben.
"Tak bermaksud so berkuasa bagaimana? kau lihat sendiri kan bagaimana dia melakukan Ben? dan apa yang anak-anak buah Sin suka lakukan?" ujar Seena kesal.
"Iya maaf, maafkan kakakku aku benar-benar sudah mencoba untuk memperingatkannya agar dia tak melakukan hal buruk apapun dan kepada siapapun di kampus ini. Aku akan terus mencoba bicara kepadanya, sekali lagi maafkan aku," ujar Shen.
"Sudahlah Seena tak apa-apa, kau tak usah kesal seperti itu karena aku benar-benar tak apa-apa," ujar Ben kembali. "Yasudah tak usah dipikiran Shen aku memaafkan sikap kakakmu," ujar Ben sabar.
"Terima kasih, sampai jumpa," ujar Shen, sambil pergi.
"Ben kau mau minum?" tanya Seena.
" Ya Seena sepertinya aku membutuhkan itu," jawab Ben.
Seena lantas memberikan minuman miliknya saat itu karena minuman Ben yang sudah tak ada di mejanya.
"Sialan dasar bodoh, seenaknya saja di kampus ini padahal siapa dia hanya bocah pengganggu yang tak punya sopan santun. Ben kenapa kau tak menghajarnya? kau kan salah satu ahli beladiri yang selalu ada di perguruan di kota ini kan? tak mungkin jika kau takut menghadapinya?" tanya Seena.
"Tak semudah itu Seena. Kau harus sabar, aku yang memang berlatih beladiri tapi beladiri yang sesungguhnya bukan diperuntukan mengajar seseorang, tapi lebih aku gunakan untuk melindungi diri," jawab Ben.
"Tapi Ben kau tadi sudah dalam keadaan terancam karena Sin dan anak buahnya yang sudah menggunakan fisik kepadamu, tentu saja jika kau melawanpun kau tak akan salah, karena kau hanya melindungi diriku sendiri," ujar Seena.
"Iya Seena lain kali sepertinya aku akan mencoba melawan untuk melindungi diriku. Aku hanya tak ingin menodai nama baikku di kampus ini karena hanya urusan sepele Seena. Tapi ngomong-ngomong darimana kau tahu jika aku salah satu orang yang berlatih bela diri? aku tak pernah menceritakannya kepadamu kan," ujar Ben aneh.
"Itu, itu, mengenai itu," Seena berpikir. "Ah Ben sepertinya ada sesuatu di laptopku yang harus aku lakukan maaf, tunggu sebentar Ben," ujar Seena langsung saja pergi menghampiri laptopnya.