Aneh

2025 Kata
Seena yang beralasan seperti itu langsung saja tak kembali mendapatkan pertanyaan dari Ben, dan Seena pun langsung melihat ke laptopnya yang saat itu sudah Seena katakan kepada Ben yang sebenarnya hanya beralasan saja karena tak ingin menjawab pertanyaan Ben karena Seena yang saat itu bingung mengenai apa yang harus Seena katakan kepada Ben, hingga yang dilakukan Seena saat itu hanya mengalihkan perkataan Ben. Sementara Seena melihat ke laptopnya saat itu Ben pun juga tentu saja langsung saja kembali melihat kearah laptopnya melanjutkan saja dulu artikel yang sedang Ben kerjakan. "Maaf Ben sepertinya sekarang aku belum siap untuk mengatakan jika aku tahu mengenai dirimu yang mengikuti sebuah pelatihan bela diri karena aku yang memata-mataimu Ben, aku masih merasa malu jika aku melakukan aktifitas ini di belakang mu, jadi yang aku bisa lakukan sekarang hanya bisa mengalihkan pertanyaanmu. Tunggu aku sampai aku siap jujur kepadamu Ben," ujar Seena dalam hatinya sambil melihat kearah Ben diam-diam. "Ben sepertinya sekarang sudah waktunya untuk pulang, ini sudah akan sore. Bagaimana denganmu?" tanya Seena. "Oh ya sepertinya begitu Seena, dan karena hari ini sepertinya memang sudah akan beranjak sore mungkin lebih baik aku juga pulang saja. Ayo Seena aku akan antarkan kau ke mobilmu," ujar Ben, sambil menawarkan mengantarkannya ke mobil. "Ya baiklah Ben, terima kasih. Ayo, Ben," ujar Seena. Dan merekapun saat itu tentu saja langsung membereskan semua peralatan mereka termasuk laptop yang sedang Ben gunakan untuk kembali bekerja, untuk langsung saja mengantarkan Seena yang ingin pulang ke mobilnya. "Ben kenapa kau ingin mengantarkanku sampai ke mobilku? padahal sebelumnya kau tak pernah melakukan ini meskipun kau melihatku?" tanya Seena. "Begitukah? sebenarnya karena kau mengatakan hal ini aku juga sadar jika apa yang aku lakukan ini memang sepertinya bukan sesuatu yang biasa aku lakukan, tapi sepertinya aku memiliki jawaban untuk pertanyaanmu ini Seena. Sekarang kebetulan kau sedang ada di dalam perhatianku karena kita dari tadi menghabiskan waktu bersama, jadi tentu saja aku harus bertanggung jawab kepada orang yang menjadi orang yang sedang dekat denganku hari ini, dan semua ini tentu saja aku lakukan karena ingin bertanggung jawab padamu yang sedang menjadi seseorang yang ada di hadapanku sekarang. Kenapa Seena? apa kau merasa keberatan? atau mungkin kau merasa ada sesuatu yang salah?" jawab Ben, lalu bertanya lagi "Ya baiklah Ben jika seperti itu, alasanmu memang sepertinya sangat jelas dan memang benar jadi jika aku tak sedang ada di dekatmu dan sedang tak menjadi perhatianmu kau akan membiarkanku begitu saja? apapun yang terjadi padaku? tidak, tidak ada masalah atau apapun Ben aku hanya bertanya saja" tanya Seena, lalu menjawab. "Tidak Seena, bukan seperti itu. Aku tentu saja aku akan menolongmu jika kau sedang dalam masalah meskipun kau tidak sedang ada di dekatku, hanya saja aku tak menolongmu kemarin-kemarin karena kau memang sedang tak dalam masalah kan Seena? jadi tentu saja kau tak perlu bantuan apapun dariku," jawab Ben. "Ya Ben sepertinya seperti itu, tapi Ben entahlah dengan apa yang aku pikirkan sekarang, karena aku merasa jika ada sesuatu yang akan menjadi sebuah kejadian yang kurang baik yang akan aku alami, entah ini hanya perasaanku atau apa tapi aku benar-benar merasakan hal, mungkin sebuah feeling tak enak. Entah aku tak tahu tepatnya apa Ben, tapi dalam hatiku sedang memikirkan mengenai sesuatu yang kurang enak," ujar Seena. "Apa itu Seena? mungkin kau sedang memikirkan sesuatu? ceritakan saja padaku, aku akan mencoba untuk membantumu menenangkan pikiranmu. Mungkin kau memikirkan mengenai seseorang?" tanya Ben. "Entahlah Ben, aku benar-benar tak bisa memastikan apa yang sebenarnya aku pikirkan dan rasakan. Tapi Ben sepertinya aku tak ingin kita bicara disini, dan sekarang apa kau bisa masuk ke dalam mobilku Ben? ada sesuatu yang sepertinya aku ingin katakan denganmu di dalam," ujar Seena. "Di dalam? bukannya kau akan langsung pergi pulang Seena? jadi tentu saja kau tak harus menyuruhku masukkan dan jika ingin bicara kenapa kau tiba-tiba ingin bicara di dalam mobil denganku? bukankah kita dari tadi sedang bicara? apa ada sesuatu Seena?" tanya Ben aneh. "Tidak Ben tidak ada sesuatu apapun hanya saja aku masih ingin bicara denganmu, tapi karena waktunya sekarang sudah menunjukan waktu untuk pulang, mungkin kita bisa bicara di dalam saja sambil pergi pulang," jawab Seena. "Arah kita kan tak sama Seena, kau harus menempuh jarak yang lebih jauh jika kau berpikir untuk pulang sama-sama dengan ku, jadi lebih baik sekarang kau pulanglah Seena, tenangkan pikiran dan hatimu!" seru Ben. "Ya Ben tentu saja akan akan melakukan itu, tapi Ben sepertinya aku membutuhkanmu, dan kau tak usah khawatir karena aku rela menempuh jalan yang lebih jauh dari biasanya agar aku bisa pulang ke jalan yang sama dengan jalan yang kau akan lewati Ben. Jadi sekarang aku harap kau bisa masuk, dan turuti apa perkataanku kau tak usah memikirkan apapun Ben, karena tidak ada sesuatu hal buruk apapun yang akan aku lakukan selain ingin pulang bersamamu saja," ujar Seena. Ben melihat ke arah jamnya yang saat itu terus saja berjalan. "Kau ini aneh Seena, tapi daripada kita terus bicara disini hingga membuang-buang waktu kita, baiklah ayo kita masuk dan langsung berangkat Seena!" seru Ben. "Itu yang aku maksudkan Ben. Ayo," jawab Seena. Ben dan Seena pun langsung saja masuk ke dalam mobil Seena dengan Seena yang saat itu jadi sopirnya karena Ben yang tak bisa menyetir mobil. Ben yang saat itu sudah ada di dalam mobil Seena dan berangkat untuk menuju ke rumahnya tak melakukan apa-apa, dan tanpa bicara apa-apa juga dan hanya melihat saja keluar jendela saat itu sambil melamun, hingga pada akhirnya Seena pun bertanya. "Ben ada sesuatu yang sedang kau pikirkan? sepertinya kau sedang memiliki sebuah beban pikiran, ada apa Ben?" tanya Seena. "Oh maaf Seena, aku melamun dari tadi. Tapi tak apa-apa Seena, aku sedang tak memikirkan hal yang berat atau buruk, tapi aku hanya melamun saja indah melihat keluar sana. Ada apa?" jawab Ben, lalu bertanya kembali. "Tidak Ben, tidak ada apa-apa, aku hanya bertanya saja karena kau terlihat terus saja melamun seperti orang yang sedang memikirkan suatu beban, tapi karena kau bilang tidak apa-apa sepertinya aku sudah bisa cukup puas dengan pertanyaanmu. Tapi sekarang apa kau tak ingin bertanya sesuatu padaku Ben"? tanya Seena. "Ya kau bisa tenang karena aku tak sedang memikirkan beban apapun, dan aku juga tidak sedang memiliki masalah hanya saja aku ingin bersantai melihat keluar jendela saja sekarang," jawab Ben. "sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, tapi aku tak memaksamu untuk menceritakannya, kau bisa ceritakan jika kau mau tapi kau bisa memilih untuk tutup mulut jika kau tidak ingin menceritakannya kepadaku. Baiklah dan pertanyaannya adalah, kenapa Sin bisa langsung melakukan hal yang mengganggumu seperti tadi Seena? apa kau sudah memiliki hubungan atau mungkin persoalan dengan Sin sebelumnya?" tanya Ben. "Ya syukurlah jika seperti itu Ben," ujar Seena, sambil melamun. "Aku tak tahu kenapa Sin bisa langsung tiba-tiba menghampiriku dan bersikap seperti itu tadi karena aku sebelumnya tak memiliki masalah apa lagi hubungan dengan Sin, dan selama dikampus pun aku sebenarnya tak pernah sedikitpun dekat dengan Sin Ben, tapi entah kenapa tadi dia bisa tiba-tiba seperti itu. Aku tak tahu, dan tak mengerti dengan apa yang Sin lakukan Ben, ada apa kau bertanya mengenai hal ini? kau khawatir kepadaku Ben"? jawab Seena, lalu bertanya lagi. "Tidak ada apa-apa Seena, sekarang aku hanya sedang berpikir jika kau adalah wanita yang sedang atau pernah dengan denah Sin sepertinya aku harus sadar diri dan menjauhi dirimu, karena aku tidak ingin masalah menimpaku karena aku yang kurang ajar dan tak tahu diri ini, mendekati wanita yang sedang Sin dekati. Tapi jika kau berkata kau adalah orang yang tidak memiliki masalah ataupun hubungan apapun dengan Sin, sepertinya karena dia seperti ini dia mulai memiliki sebuah perasaan padamu Ben? dan tentu saja jika seperti itu," "Jika seperti itu kau harus menjauh dariku Ben?" tanya Seena, dengan nada sedikit kesal. "kenapa kau bisa menjadi pengecut seperti ini Ben? kau tak khawatir padaku jika sampai aku menjadi incara Sin dan menjadi wanita seseorang yang b******k seperti Sin? jika itu sampai terjadi dan aku memang menjadi pacar Sin apa kau tak khawatir aku bisa menjadi wanita yang rusak karena Sin?" tanya Seena, masih dengan nada kesal ditambah ngotot. "Wow, wow tenang Seena, tenang! kau tak usah bicara ngotot seperti itu. Kau wanita yang baik dan aku yakin kau adalah wanita yang sabar, aku bisa melewati semua ini, dan jika kau memang sekarang sedang menjadi incaran Sin sepertinya kau akan bisa memilih mana yang baik, dan mana yang kurang baik untukmu Seena, aku percaya dengan apa yang akan kau lakukan untuk mengenai masalah ini adalah hal yang baik untukmu, aku percaya itu Seena," ujar Sin. " Jadi jika kau percaya dengan apa yang aku lakukan untuk menghadapi ini, yang bisa saja adalah sebuah masalah kau jadi tak akan memperhatikan atau tak akan mau ikut campur dengan hal ini Ben? dan meskipun aku di dekati oleh Sin yang sudah jelas bukan orang baik kau hanya akan membiarkan itu terjadi begitu saja Ben?" tanya Seena. "Entahlah Seena, tapi aku bukan siapa-siapa kau kan? jadi tentu saja aku bukan orang yang wajib untuk ikut campur kedalam masalahmu," jawab Ben. "Ya Ben kau benar, maaf aku sepertinya salah bicara dan kau memang benar ini adalah masalahku, dan kau bukan orang yang wajib untuk mencampuri urusanku Ben? ya kau benar Ben, maafkan aku. Aku hanya berharap kau peka jika aku sebenarnya tidak suka dengan Sin yang seperti ini, aku tak berharap aku menjadi wanita incaran Sin tapi sepertinya aku salah berharap kepada orang. Maaf Sin, ngomong-ngomong kemana jalan yang harus kita lewati setelah ini Ben? maaf aku tak tahu, jadi kau bisakan menunjukan jalannya kepadaku?" tanya Seena, set lah bicara dengan nada kesal kembali kepada Ben. "Ya Seena, kau bisa berbelok ke arah kanan didepan karena disana tempatku tinggal," ujar Ben, tanpa menjawab apapun. Setelah Ben menjawab perkataan Seena sambil menunjukan ke arah tempat tinggal Ben, Seena pun seketika berhenti bicara dengan wajah yang Ben lihat seperti orang yang kecewa dengan sesuatu. Ben yang saat itu tidak berpikir ribet tentu saja tak bicara apapun dan sesekali hanya melihat ke arah Seena saja, hingga pada akhirnya Seena pun berhasil sampai di perguruan yang Ben tinggali. Tanpa bicara apa-apa saat itu Ben langsung turun dari mobil Seena, lalu berterima kasih. "Terima kasih Seena atas tumpangannya, aku harap kau bisa terus t uang dan berpikir jernih tanpa harus memikirkan hal yang tentu saja sebenarnya tak baik untukmu karena membebani pikiran," "Ngeng," Seena langsung berangkat ketika Ben belum selesai berbicara, begitu sangat terlihat seperti orang yang kesal dan marah kepada Ben. "Ben siapa itu? kau diantarkan oleh temanmu?" tanya Ster, menghampiri Ben yang saat itu ada diluar. "Oh itu, ya guru dia adalah temanku, kebetulan jalan yang dia tempuh untuk sampai ke rumahnya tak terlalu berbeda denganku, jadi dia berbalik hati membawaku hingga sekarang aku sudah bisa ada disini," jawab Ben. "Baik sekali dia Ben, sudah lama kau tinggal disini bahkan dari kau berseragam sekolah tinggal akhirnya tapi baru kali ini aku melihat ada temanmu yang berbaik hati mengantarkanmu pulang. Dia pasti bukan seorang laki-laki, dan dia tentu saja bukan orang yang hanya menganggapmu teman Ben," ujar Ster. "Ah guru kau bisa saja, dia hanya temanku yang memang berbaik hati saja bersedia membawaku pulang karena kebetulan jalan rumahnya juga satu arah denganku, tapi memang benar jika dia bukan laki-laki, tapi dia benar-benar hanya temanku guru tidak lebih dari itu. Ya sudah guru sekarang sebaiknya aku ganti pakaian ku dan langsung mencoba untuk memulai berlatih saja," ujar Ben, sambil langsung pergi karena Ster tak bicara apapun lagi. "Maaf jika aku salah bicara Seena, tapi tapi aku benar-benar tak bisa melakukan hal apapun, aku percaya dengan apa yang akan kau lakukan dan putuskan tak akan sampai membuatmu dalam masalah. Aku yakin itu," Ujar Ben dalam hati, ketika berjalan ke ruangannya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian Ben langsung saja keluar dari kamarnya untuk pergi ke lapangan dimana Ster sedang kembali melatih semua muridnya, di sore hari yang tidak panas ini, tanpa bicara tentu saja Ben langsung ikut ke barisan dan melakukan latihan fisik yang biasa mereka lakukan di perguruan. Beberapa jam kemudian latihan tersebut bisa Ben selesaikan tanpa mengalami masalah apapun sampai pada akhirnya Ben pun langsung saja menepi ke pinggir lapangan mencoba untuk meluruskan dulu kaki dan tangannya yang saat itu cukup merasakan pegal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN