Pelajaran Baru

2095 Kata
Ben yang saat itu menepi meluruskan kaki dan tangannya beristirahat sebelum masuk ke perguruan untuk benar-benar beristirahat dan melakukan tugasnya yang lain tiba-tiba dihampiri oleh Ster, yang juga sambil membawa minuman botol. "Minumlah ini Ben, agar kau merasa lebih baik!" seru Ster. "Wow, kau baik sekali guru aku tentu saja benar-benar membutuhkan ini untuk menyegarkan tubuhku yang sedang berisi. Terima kasih," ujar Ben. "Ya sama-sama Ben. kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu Ben tak seperti biasanya, apa kau sedang memikirkan teman wanitamu yang sudah berbaik hati mengantarkanmu pulang tadi? tapi pikiran yang ada dalam wajahmu sekarang terlihat sedang memikirkan hal yang kurang baik Ben, bukan memikirkan mengenai kebahagiaan yang harusnya kau rasakan karena ada teman bahkan teman wanitamu yang mau mengantarkanmu pulang yang harusnya membuatmu memiliki perasaan bahagia, tapi yang aku lihat bukan kebahagiaan yang kau sedang rasakan sekarang Ben, tapi seperti sebuah penyesalan dan bahkan kebingunganlah yang sekarang sedang ada di dalam pikiranmu. Kau bisa ceritakan padaku Ben?" ujar Ster, mengatakan apa yang dilihatnya saat itu dari raut wajah Ben. "Masalah? tidak guru, tidak apa-apa aku tidak memikirkan sebuah masalah yang sedang aku bingungkan mengenai teman wanitaku tadi, aku memang bahagia dengan yang sudah aku dapatkan tadi begitu baik t man wanitaku itu, tapi selain itu aku juga memang merasakan hal yang kurang baik, dan kurang menyenangkan untukku guru. Tapi aku tekankan sekali lagi aku bukan merasa tak enak atau merasa ada masalah dengan teman wanitaku yang mengantarkanku pulang tadi,"jawab Ben. "Jika seperti itu apa Ben? karena raut wajahmu sampai begitu tidak enak dilihat seperti itu, masalah apa yang sedang kau rasakan dan alami Ben?" tanya Ster kembali. "Masalah yang aku sedang pikirkan sekarang adalah mengenai tadi dijalan guru, kenapa aku begitu sangat terus saja melihat ada sebuah hal yang aku tak suka, dan hal tersebut begitu sama dengan kejadian-kejadian sebelumnya," jawab Ben. "Kejadian yang sama sebelumnya? masalah apa yang kau maksudkan Ben? kenapa kau bisa terus mengalami masalah tersebut?" tanya lagi Ster. "Sebenarnya bukan masalahku pribadi guru, tadi orang lain yang mengalami masalah ini tapi aku tak bisa menolong orang tersebut karena aku yang tak punya keberanian dan sekarang yang masalah yang aku maksudkan adalah mengenai masalah pelecehan dan penghinaan yang dilakukan oleh oknum yang tak bertanggung jawab, aku melihat itu dengan sangat jelas ada di hadapanku tapi karena aku yang tak percaya diri dan tempat tersebut sedang sepi aku jadi benar-benar tak bisa membantu orang tersebut, aku tak berani menghentikan pelecehan tersebut, dan yang paling aku pikirkan disini adalah aku yang menginginkan keadilan tapi aku tidak bisa menegakkan itu ketika ada sebuah ketidak adilan yang terjadi di hadapanku guru. Aku merasa sangat payah, memiliki cita-cita menjadi seorang pengadil tapi ketika aku melihat ketidak adilan di hadapanku, aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan ketidak adilan itu," ujar Ben menceritakan apa yang dirinya alami sampai sepertinya terbebani dengan masalah tersebut. "Aku mengerti dengan apa yang kau pikirkan sekarang Ben, dan aku pun bisa tahu bagaimana perasaanmu mengenai kau yang ingin mengadili orang tersebut tapi tak didukung dengan keberanianmu, aku mengerti dan sekarang aku katakan kau sebenarnya tak salah Ben, kau memang ingin menjadi seorang pengadil ( hakim ) tapi bukan hakim jalanan, jadi tentu saja ketika kau melihat ketidak adilan di jalanan kau tak bisa langsung menghakimi ketidak adilan tersebut karena itu bukan keadilan yang harus kau tangani langsung. Tak usah kau terlalu pikirkan Ben, yang sekarang harus kau pikirkan sekarang adalah mencoba saja untuk menyelamatkan orang tersebut dengan cara sembunyi-sembunyi, atau kau memang seperti orang yang tak melakukan apa-apa tapi sebenarnya kau melakukan hal yang baik dibelakang hal tersebut. Itu yang juga akan menjadi sesuatu yang penting Ben," ujar Ster, menasehati Ben. "Benarkah itu guru?"tanya Ben. "jika seperti itu yang sekarang sudah aku lakukan sepertinya adalah hal yang tentu saja sudah benar guru? karena sekarang aku sudah melakukan hal yang kau katakan, maksudku adalah aku yang sekarang ini memang tak memiliki keberanian untuk melerai dan menghentikan mereka yang yang melakukan pembullyan tersebut, tapi aku secara diam-diam sedang membuat sebuah berita tentang adanya penganiayaan di tempat tersebut dan tujuannya tentu saja jelas agar aku bisa memberitahukan orang-orang sekitar sana jika ada sesuatu hal buruk yang terjadi disana, dan dengan melihat berita artikel ini aku berharap mereka bisa membantu menghentikan penganiayaan dan pembullyan kepada orang disana," ujar Ben, menceritakan hal yang sudah dirinya lakukan seperti apa yang Ster sarankan saat itu. "Aku sudah menduga jika kau akan mengatakan itu dan aku percaya jika kau sudah melakukan hal yang aku sarankan barusan Ben, aku tahu seperti apa kecerdasan mu dan aku juga tahu hari nuranimu sudah bergerak lebih cepat sebelum kau menerima saranku ini. Bagus Ben teruslah seperti itu, teruslah menjadi orang yang memikirkan orang lain, jangan hanya memikirkan dirimu sendiri meskipun kau belum terlalu memiliki keberanian untuk menghadapi mereka langsung. Aku percaya kau bisa membantu mereka yang membutuhkan bantuan dengan cara diam-diam mu ini Ben," ujar Ster memuji Ben. "Baiklah Ben sepertinya ini sudah waktunya masuk karena latihan sudah selesai, sebaiknya kau masuk dan membersihkan diriku, kita akan lanjutkan latihan kita esok hari disaat kau memiliki waktu yang lenggang kembali tentu saja," ujar Ster. "Ya guru, baik. Terima kasih untuk pelajaran, dan saranmu hari ini guru," ujar Ben, sambil memberi hormat lalu pergi meninggalkan Ben ke ruangannya langsung. Ster pun tentu saja membalas hormat Ben. "Bagus Ben, meskipun kau sepertinya memiliki kekuatan untuk melawan mereka dengan kekuatan mu yang aku yakin itu ada karena kau sudah cukup belajar bela diri denganku, tapi kau tak menyombongkan hal tersebut untuk menghajar seseorang begitu saja. Aku ganggu padamu Ben, teruslah jaga kepribadian mu," ujar Ster dalam hatinya. Ben yang saat itu sudah membersihkan dirinya langsung saja masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, tapi hal yang Ben lakukan saat itu bukan beristirahat melainkan langsung saja mencoba untuk meneruskan pekerjaannya yang berhubungan dengan artikel yang dirinya belum sempat selesaikan tadi di kampus, mengenai penganiayaan di jalan yang dirinya lihat dilakukan oleh beberapa orang. "Aku memang merasa sedikit lelah, tapi aku sadar jika sekarang aku belum memiliki waktu untuk beristirahat, sekarang yang harus aku lakukan sepertinya lebih baik meneruskan artikel itu agar aku bisa secepatnya mempublikasikannya ke publik, hingga artikel yang aku buat akan dibaca oleh mereka yang tentu saja akan meningkatkan keamanan, di tempat penganiayaan yang aku lihat tadi untuk mencegah hak.terdebut kembali terjadi tentu saja," ujar Ben, sambil langsung membuka laptopnya. Dan karena Ben sudah membuka laptopnya saat itu tentu saja yang dilakukannya langsung saja kembali meneruskan membuat artikel mengenai kejadian tadi, yang sudah benar-benar Ben tak sabar ingin atasi dan bahkan jika bisa dengan artikel yang dibuatnya Ben ingin agar seseorang yang melakukan penganiayaan tersebut bisa ditangkap dan mendapatkan keadilan untuk sesuatu yang bisa di katakan kejahatan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab disana. Ben yang saat itu giat dan semangat mengerjakan artikel yang dibuatnya bisa mengerjakan hal tersebut dengan baik, hingga tak butuh waktu yang sangat lama Ben pun pada akhirnya bisa menyelesaikan artikelnya tersebut sampai mempublikasikannya di berbagai sosial media. Dan luar biasa ketika Ben baru mempublikasikan artikelnya tersebut Ben pun langsung saja bisa menarik perhatian para orang yang sedang online di sosial media, meskipun belum terlalu banyak tapi ada beberapa yang membaca dan berkomentar di artikelnya tersebut hingga yang Ben rasakan saat itu tentu saja perasaan senang dan tak percaya jika artikel yang dibuatnya mengundang banyak simpati dari orang-orang yang tentu saja sepertinya akan bisa menolong mengusir orang yang melakukan penganiayaan itu dari tempat tersebut hingga pada akhirnya penganiayaan oleh orang-orang tersebut tak kembali terjadi. "Terima kasih orang-orang baik, aku harap kalian bisa memiliki kelancaran dalam melakukan hal apapun, dan semoga kalian yang membaca artikelku ini memang orang-orang yang sudah terpilih untuk mengusir orang yang melakukan penganiayaan itu. Terima kasih, maaf aku hanya bisa menghentikan penganiayaan ini dengan membuat artikel seperti ini dan berharap kepada kalian, karena aku yang tak punya keberanian lebih jika harus melerai mereka sendirian," ujar Ben dalam hatinya, ketika melihat banyak pembaca artikel yang dirinya buat saat itu. Melihat artikel dirinya yang sudah mengundang banyak simpatisan Ben pun langsung saja menutup dulu laptopnya, dan sekarang yang Ben lakukan langsung saja menyimpan laptopnya tersebut tak sabar ingin melihat kembali jalan tersebut apakah penganiayaan yang terjadi disana sudah bisa Ben hentikan dengan bantuan dari simpatisan atau bagaimana. Tapi ketika Ben sudah membaringkan dirinya di kasur karena ingin langsung saja tidur, Ben tiba-tiba beranjak kembali dari tidurnya karena ada sesuatu yang tiba-tiba masuk ke dalam pikiran Ben. "Kenapa aku tiba-tiba ingat kepada Seena? apa ada sesuatu yang terjadi? tapi apa," Ben melamun. "Dan perasaan ku jadi tak enak, apa karena aku sudah melakukan kesalahan kepada Seena tadi? jawaban yang aku katakan padanya salah?" tanya Ben dalam hati, ketika tiba-tiba ingat kepada Seena. Ben tiba-tiba langsung beranjak dari tempat tidurnya, dan keluar dari kamarnya berniat dengan dirinya yang kurang sadar berjalan pergi ke balkon perguruan tersebut tiba-tiba merasa ingin mencari angin. "Kenapa kau kemari Ben?" tanya Ster tiba-tiba. "Huah, guru!" Ben kaget. "kau mengagetkanku saja, aku pikir tak ada siapa-siapa disini, aku tak melihatmu tadi," ujar Ben sambil kaget. "Tentu saja kau tak melihatku ada disini Ben, karena kau terlihat masih terus saja melamun seperti orang yang memang seperti memiliki beban pikiran. Apa yang sebenarnya kau pikirkan Ben? kau seperti orang yang sedang dirundung oleh rasa bersalah," tanya Ster, kembali mengatakan wajah Ben yang dipenuhi oleh raut wajah cemas, bahkan menyesal. "Maaf guru, aku sepertinya memang sedang begitu memikirkan sesuatu sekarang, tapi bukan mengenai hal yang aneh tapi yang aku pikirkan sekarang adalah mengenai orang tadi guru. Orang yang mengalami penganiayaan tadi," jawab Benz meskipun tak jujur. "Kau benar-benar mencemaskan nya Ben?" tanya Ster. "Ya guru, aku benar-benar mencemaskan nya tapi meskipun begitu sebenarnya ada sesuatu yang membuatku tak sabar untuk melihat kembali ke jalan yang tadi terjadi penganiayaan," ujar Ben. "Benarkah itu? apa yang membuatmu tak sabar ingin melihat kembali jalan tersebut Ben? ada sesuatu penting yang kau dapatkan, informasi?" tanya Ster. "Bukan, bukan itu guru tapi yang membuatku tak sabar ingin melihat esok hari ke jalan tersebut lagi adalah karena ketika aku menyelesaikan artikelku yang sempat aku sudah buat tadi, aku benar-benar tak menyangkan jika akan ada langsung beberapa orang yang membaca artikelku guru, sehingga yang membuatku merasa sangat tak sabar ingin melihat kembali ke tempat tersebut adalah apakah orang-orang yang melihat artikel ku benar-benar bersimpati kepada penganiayaan yang ada di jalan tersebut hingga mereka bergerak itu untuk menghentikan semua itu jika terjadi lagi? itu yang membuatku jadi sangat tidak sabar ingin lihat ke jalan itu guru," jawab Ben. "Seperti itukah Ben? jika benar seperti itu, kau tak usah khawatir anggaplah orang yang bersimpati hanya beberapa, tapi sepertinya penganiayaan itu akan benar-benar bisa dihentikan disana Ben, aku yakin akan ada orang yang bersimpati dan berpikir ingin menghentikan penganiayaan itu. Aku yakin," ujar Ster yakin. "Ya aku juga yakin mengenai itu guru, dan tadi aku juga sudah lihat beberapa orang yang berkomentar memberikan simpati mereka dan jika sudah seperti itu tentu saja mungkin orang tersebut akan benar-benar bersimpati dan mencoba untuk menyelesaikan penganiayaan yang ada di sana kan guru?" tanya Ben. "Wow kau langsung menerima komentar dan respon dari orang yang bersimpati mengenai artikelmu mengenai penganiayaan tersebut Ben? jika seperti itu tentu saja besar kemungkinan orang-orang yang ada di sekitar sana akan membantu menyelesaikan masalah tersebut dan intinya penganiayaan tersebut akan benar-benar bisa diatasi oleh para simpatisan yang akan turun langsung ke tempat itu Ben. Kau hebat bisa langsung mendapatkan atensi langsung dari orang-orang Ben sepertinya jika seperti itu kau sudah populer di sosial media Ben? katakan seberapa populer dirimu?" tanya Ster, dengan sedikit candaan. " Oh ayolah guru, jangan berlebihan. aku bukan orang yang populer dan aku bukan orang yang dengan mudah bisa mendapatkan perhatian warga, mungkin saja ini semua hanya sebuah kebetulan karena topik yang aku bagikan adalah sesuatu seperti halnya meminta bantuan kepada orang lain tentu saja orang-orang pun tertarik hati nurani mereka untuk membaca dan pada akhirnya ingin menolong orang yang ada di dalam artikelku, agar tak ada penganiayaan lagi yang terjadi guru. Itu saja, bukan karena aku populer guru," jawab Ben, merendah tentu saja dengan menunduk sedikit malu. "Hahahaha, tenang saja Ben kau tak usah malu seperti itu. Ini minumlah dulu disini dingin minuman hangat akan membuatmu tahan dari udara dingin yang sekarang ada," ujar Ster, sambil memberikan minuman hangat kepada Ben. "tapi aku bersyukur jika memang sudah banyak orang yang mengunjungi artikelmu Ben, aku tahu semua orang yang membaca artikelku kemungkinan tak akan berpikir sama ingin menolong menghentikan penganiayaan yang ada di sana, tapi pasti ada beberapa orang, pasti ada Ben. Kau lihat saja besok, dan hal yang akan kau bisa lihat besok akan berbeda dari sebelumnya. Akan ada sesuatu yang sepertinya cukup mengejutkanku Ben," ujar Ster.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN