"Mari kita cerai!" sekali hentakkan nafas, aku berucap dengan sangat tegas. Di susul dengan kalimat istigfar yang terdengar bergetar dari mulut kedua mertuaku. "Nak, Rissa ..." Ibu menatap iba, menggeleng lemah. " jangan bicara begitu, mari kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin." Ibu menggenggam tanganku, menatap dengan mata yang sudah di penuhi oleh kabut. "Ce-rai?" Mas Rudi terbelalak kaget mendengar ucapanku. "Ya. Mari kita akhiri semuanya. Aku muak melihat wajahmu!" geramku dengan tatapan tajam. Mas Rudi menarik nafas panjang, menatapku dengan tatapan meremehkan. "Rissa ... Rissa." Mas Rudi menatap lurus mengunci pandangannya di mataku. "Pikirmu enak menjadi janda, hah?" aku melengos muak, rasanya ingin sekali mencengkram wajah dan menikam barang pusakanya dengan bela

