Suara gawai terdengar bersahut-sahutan, aku mendengkus kesal saat melihat nama di dalam layar. Hella terus menghubungi, puluhan pesan dia kirim untuk menggangguku. "Neng ..." suara Bik Narti terdengar diiringi ketukan pintu. Wajah Dila menyembul di balik pintu, di susul dengan Bik Narti di belakangnya dengan, Hamdan di dalam gendongan. "Mamah." Dila berlari kearahku. "Mamah nangis?" cepat aku menghapus jejak air mata, menggeleng kuat lalu memamerkan senyum tipis. Dila menatap iba, memelukku dengan erat. "Tante Hella diluar teriak-teriak, Mah. Kata Bibik, aku tidak boleh bukain pintu?" Aku kembali mengusap mata yang basah, menahan sesak mengurai pelukkan. "Sudah, Bik?" tanyaku pada Bik Narti, mengabaikan ucapan Dila. "Iya Neng." jawab Bik Narti. "Kemas baju Mas Rudi juga, Hamdan tar

