Malam sudah semakin larut. Perut keroncongan, badan sudah begitu lelah dan bau apek bermandikan keringat, tapi Ibu belum juga membuka pintu rumah. "Kita sewa kontrakan sekarang saja, Mas. Keluargamu, tidak akan mau membukakan pintu." desah Hella dengan suara parau dan mata berkaca-kaca. Aku meremas rambut dengan geram mengingat uang di dompet hanya ada buat beli bahan bakar saja. Isi atm ku, pasti sudah habis di kuras, Rissa. Dasar istri bodoh bisanya menyusahkan saja! "Mas ..." Hella menatap nanar, menyenderkan tubuh disisi tembok. Hamdan sudah tertidur pulas didalam dekapannya. "Hamdan belum makan malam, aku takut dia masuk angin." keluh Hella sambil membelai rambut Hamdan. Tak lama tubuhnya bergetar, air mata kembali mengalir dipipinya. Ah, cengeng sekali perempuan ini. Nangis teru

