Persendianku begitu lemas, pupus sudah harapan untuk hidup kembali bersama, Rissa. Rissa tersenyum miring saat meraih map dari tangan Bapak, sementara Bapak masih tertunduk enggan menengok kearahku. Melihatnya aku semakin muak, Bapak benar-benar mempermainkan aku. Aku masih ingat betul, dimana saat Bapak mengajari tentang mendidik istri yang mulai membangkang. Aku bahkan masih ingat, dimana Bapak berbicara agar aku memukul Rissa, jika Rissa mulai tak patuh padaku. Aku merasa di pecundangi! "Pak ..." suara familiar terdengar, aku menoleh lemas. Terlihat Ibu datang sambil menenteng plastik belanjaan. "Bu ..." Bapak sangat bersemangat, dia langsung mendekati Ibu dan memeluknya. Mata Ibu terlihat berkaca-kaca, sedetik kemudian air matanya mengalir dengan deras. Entah mengapa aku tak terh

