Suster menyerahkan gawai milik Hanum yang sebelumnya di titipkan untuk mengisi daya batrai. Dia langsung menghubungi Rissa saat gawai ditangannya kembali menyala. "Astagfirulloh ... maaf, Buk." pekik Rissa saat Hanum bertanya mengapa dia tak kunjung datang. "Pulang kerja, Rissa langsung kerumah sakit." jelas Rissa dengan wajah sungkan. Meski tak melihat langsung wajah mertua, Rissa yakin Hanum sangat kecewa menunggunya. "Keadaan Ika gimana, Buk?" tanya Rissa. Hanum menghela nafas, terhitung sudah 16 jam Ika belum juga sadarkan diri. "Keadaan Ika belum ada perkembangan, dia masih kritis." jawab Hanum sambil meremas ujung bajunya dengan gusar. "Ya Alloh ..." Rissa diujung telepon menghela nafas panjang, memejamkan mata merasakan perih di dalam sanubari. Di mata Rissa, Ika adalah sosok

