Tanpa menunggu persetujuanku, Ayah langsung memutuskan panggilan. Membuat aku menangis tergugu pilu, hati ini sakit melebihi sakitnya di khianati. Nafasku kembali sesak, pandanganku menjadi buram. Perlahan semua pandangan menjadi gelap seketika. ***Ofd Kepala berdenyut ngilu, perlahan mata terbuka pelan. Di sampingku sudah ada, Ibu dengan raut begitu khawatir. Belaian tangannya menyentuh rambutku dengan lembut. "Buk ..." lirihku bersuara. "Iya, Nak. Kamu baik-baik saja?" tanyanya cemas. Aku hanya mengangguk, seraya memegangi kepala. "Kalau kecapaian besok di batalkan saja acaranya ya." ucap Ibu. Aku menggelengkan kepala, mencoba untuk bangkit. Dengan sigap Ibu membantu, mengambil bantal di sampingku dan menaruhnya di belakang punggungku. "Minum, Fi ..." Ibu mendekatkan gelas berisi

