Mata ini mengejrap pelan, kurasa begitu berat untuk sekedar terbuka. Meraba wajah, sudah ada selang oksigen yang menempel di hidung, juga jarum infus yang menembus kulit. Mata ini begitu tebal, mungkin karna air mata yang selalu mengalir tidak mau berhenti, apa lagi saat mengingat kejadian memilukan itu. Ahh ... dadaku kembali ngilu, segera aku mengepal kedua tangan untuk menyamarkan rasa sakitnya. "Hhhh ..." tubuh bergetar seirama dengan hembusan nafas panjang yang keluar dari mulut. "Sayang ... kamu sudah sadar?" Mas Yas menggenggam tangan ini, matanya basah saat melihatku. "I-bu ..." lirihku. "Bagaimana keadaannya?" tanyaku saat mengingat wajahnya. "Ibu sudah melewati masa kritis ... Alhamdulillah," ucap Mas Yas dengan bibir terkulum senyum, namun setetes air bening berhasil lolos

