bagian 95 - Memaafkan.

1527 Kata

Ayah tidak bisa menyembunyikan wajah harunya, sorot tajam itu bahkan terlihat berkaca-kaca. "Selamat, Fi ..." gumamnya pelan, namun masih bisa aku dengar. "Iya Ayah, trimakasih." jawabku haru. Mas Yas memelukku lalu menghadiahkan kecupan hangat dikening ini. Suara ketukan pintu terdengar dari luar, setelahnya pintu terbuka lalu masuk Suster yang biasa merawatku. "Permisi ... dengan keluarga, Ibu Galih?" tanyanya memastikan. "Iya sus, saya anaknya," jawab Mas Yas antusias. "Pasien sudah mulai merespon, saat ini Ibu Galih sudah sadarkan diri." jelasnya disambut ucapan syukur oleh kami semua. "Silahkan jika ada yang ingin menjenguk. Tapi hanya untuk satu orang ya, yang lain bisa bergantian nanti," sambung suster dengan senyum ramah. Tanpa membuang waktu Mas Yas langsung pamit mengekori

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN