bagian 13 - Memulai Rencana

1130 Kata
Bik Inah datang membawa nampan berisi beberapa camilan. Sebelum meletakan itu semua diatas meja. Aku langsung bangkit dari sofa. "Tak perlu Bik, bawa kembali makanan itu. Mereka sudah mau pulang," ucapku sambil mengipas tangan diudara. Bik Inah menatapku dengan alis mengkerut. Dia melihat semua orang diruangan ini, sadar suasana tegang menyelimuti kami semua. Bik Inah menggangguk saat pandangannya berhenti kearahku. "Bukan begitu, Mam?" Tanyaku sambil melengkungkan bibir. "Kau mengusir kami?" Balas Mamih dengan bibir mengencang. "Kurasa, tidak ada lagi yang harus dibahas." Dengan sekali hentak Mamih bangkit dari duduknya, disusul Papih juga Arina. "Dasar menantu tidak tahu diri, menyesal aku menikahkan kau dengan Daniel!" Sungutnya sambil mencebik kearahku. Aku terkekeh ringan mendengar ocehannya. Kutantang mata tua, yang dulu selalu kusegani. "Bik Inah!" Teriak Mamih. "I ... iya Nyonya?" Jawab Bik Inah ketakutan. "Jaga baik-baik Daniel dan calon menantuku. Dia sedang mengandung cucuku," ucapnya dengan suara keras, matanya melirik sinis kearahku. "Hai ... biasa saja Nenek tua. Suaramu membuat telingaku sakit," balasku dengan senyum yang merekah. "Ba-baik Nyonya," sahut Bibik. Mamih melangkah dengan kesal, suara high heelsnya memukul lantai granit dengan keras. Sebelum pergi Arina menatapku dengan mata menakutkan, disusul dengan Papih menggangguk kecil kearahku. Husstt ... pergilah, sebelum meluap bara apiku dan membakar kalian semua. Huh ... sekarang tinggal aku dan dua manusia yang tidak punya otak ini. Kakiku mendekati Mas Daniel yang sedari tadi mematung layaknya boneka porselen. Tanganku memegang keningnya menatap khawatir. "Mas sudah sembuh?" tanyaku disertai senyum yang merekah. Mas Daniel menggangguk kecil, lalu mengambil tanganku dan menaruh dipipi tirusnya. Senyum manis langsung tercipta dibibir, matanya menyorot sendu kearahku. Mengisyaratkan kerinduan yang mendalam. "Kamu terlihat lemas, ayo makan kita dulu," ajakku seraya bangkit dari sofa. Melewati Anitta yang memandang kearah kami dengan sinis. Kupamerkan senyum angkuh kearahnya. Kutuntun tubuh lemas Mas Daniel ke meja makan. Dari beberapa bulan, ini kali pertama aku duduk disampingnya. Menuangkan air kedalam gelas, lalu menyodorkannya dibibir suamiku. "Bik ... masakin dua nasi goreng favoritku yak," titahku pada Bik Inah, yang baru saja mengambil gelas kotor dari ruang tamu. "Baik Non," jawabnya sambil menggangguk patuh. "Apa itu sakit?" tanyaku sambil menunjuk tangan berbalut perban dan plester. "Ini tidak seberapa, dengan luka yang kugores di hatimu," jawabnya dengan muka bersalah. Oh ... syukurlah, kau cukup tau diri artinya. Kalau saja tidak ingat, ada sesuatu yang harus kulakukan, sudah aku pecahkan isi kepalamu, Mas. "Maafkan aku, kau mau memulainya dari awalkan?" tanyanya dengan penuh harap. Aku menatap matanya lekat, lalu mengangguk samar. Tentu saja, ini akan menjadi awal kehancuran hidupmu. Kau salah besar, telah membawa masuk gundik ini ke rumahku. Dengan alasan apapun! Mas Daniel langsung merengkuh tubuhku, kata-kata bulshit dia ucapkan ditelinga. Membuat aku ingin merobek mulut bu-suknya. "Trimakasih, kamu memang istriku yang paling baik," ucapnya sambil melepas pelukan. Kedua tangannya membingkai wajahku, raut bahagia terpancar jelas di wajahnya. Baru saja Mas Daniel mendekatkan bibirnya, Anitta datang dengan tas kecil yang dihentakkan kasar diatas meja. Wajahnya memerah melihat kearah kami, bibirnya maju beberapa senti. Sabar sedikit Anitta, aku akan membuatmu membenci hidupmu sendiri. Dua porsi nasi goreng kambing terhidang dihadapan kami, dengan sigap Mas Daniel mengambil sendok dan garpu lalu disodorkan untukku. Memakan dengan lahap, tak peduli ke beradaan Anitta yang terlihat menelan ludah saat Mas Daniel menyuapkan nasi kedalam mulutku. "Bik ... aku laper," ucapnya kemudian, matanya masih fokus melihat kearahku. Aku menyuapkan balik Mas Daniel, sesekali mengelap sudut bibirnya dengan tanganku sendiri. Ahh ... sesungguhnya hal ini sudah biasa kami lakukan, terkadang akupun merindukan hal receh seperti ini. Bedanya kini rasanya tak semanis dulu, berganti dengan pahit dan perih yang menjalar disetiap sudut hatiku. "Maaf mbak, nasi gorengnya cuma ada dua porsi." "Ya ... apa aja yang ada, tidak liat aku lagi hamil jadi bawaannya laper terus," sungut Anitta sambil mengelus perutnya yang masih rata. "Mie goreng mau Mbak?" Tawar Bibik. "Iya boleh, yang special ya," titahnya angkuh. "Jangan terlalu pedes." "Oh iya jangan lupa, telor mata sapinya," titahnya lagi. Kulihat Bik Inah hanya tersenyum dan menganggukan kepala. Ckckckk ... dasar gundik, baru tinggal disini beberapa detik, sudah merasa jadi Nyonya besar. Miris sekali hidupnya. "Apa? kau iri padaku?" tanyanya sambil mengelus perut. "Cih ... aku iri padamu? Lucu sekali, kau bahkan ingin hidup menjadi benalu dirumahku," balasku dingin. "Benalu? Ini rumah Mas Daniel kan? Jadi aku berhak tinggal disini," ucapnya sinis. "Hmm ... sepertinya isi kepalamu hanya serabut kelapa." Mata Anitta membesar, mulutnya tampak komat-kamit. "Aku beri tau satu hal. Aku pemilik tunggal rumah ini, jadi kalau kau mau tinggal didalamnya, kau harus ikut peraturanku, Bik Inah bukan asistenmu. Jadi bersikap baiklah, jangan sampai aku menyumpal bangkai dimulut kotormu" ucapku tegas. Anitta mencebik, tangannya mengepal kuat. Dadanya naik turun, tidak terima dengan ucapanku. "Mas ..." dengan suara manja Anitta merengek pada Mas Daniel. Karna sedari tadi Mas Daniel hanya sibuk dengan santapannya. "Sudahlah Nitt, kau harus jaga sikap. Jangan manja!" Sahut suamiku. "Sayang ... malam ini boleh aku tidur denganmu?" Mas Daniel menatap harap padaku. Dasar buaya, ingin memanfaatkan keadaan rupanya. "Yah ... tentu, kau suamiku. Memang sudahseharusnya kita tidur dalam ranjang yang sama." Mata Mas Daniel berbinar seketika, dengan gerakan cepat dia menghabiskan makanannya. "Yuk sayang," ajak Mas Daniel sambil menarik lembut tanganku. Dengan gerakan manja aku menggandeng tangan, Mas Daniel lalu menaiki tangga. Bisa kulihat mata Anitta memerah, dengan sudut mata yang mengembun. Setelah mencium keningku, Mas Daniel langsung membersihkan diri ditoilet. Mengambil gawai didalam tas, mencari satu nama. Lalu menekan tombol memanggil. Begitu panggilan diterima, suara riang perempuan, langsung memasuki telingaku. "Malam Nyonya, ada angin apa. Tumben menghubungiku?" Sapa Sandra. Teman kuliahku yang begitu mendewakan uang. Seingatku Sandra akan melakukan apa saja demi pundi-pundi rupiah. Tidak beda jauh dengan Anitta. "Kau mau uang?" tanyaku tanpa basa-basi. "Of course, money is my life," sahutnya semangat. Bibirku langsung tersungging. Sudahku duga Sandra masih seperti dulu. "Ada job untukmu, aku akan mengirim detailnya." "Bisa aku minta uang dimuka?" Kekehnya diujung telpon. Dasar ular. Belum kerja, sudah minta upah! "Tentu, aku kirim 10 juta. Sisanya 20 juta, akan aku kirim kalau kau berhasil." "Waow ... fantastik. Aku suka berbisnis denganmu." "Tapi ingat!" Aku menjeda ucapanku. Terdengar Sandra menarik nafas, tak sabar mendengar kalimatku. "Kalau gagal, kau harus kembalikan uangku dua kali lipat," ucapku tegas. Tentu saja, aku tak ingin rugi. Siapa tau, dia akan gagal dalam misi ini. "Ckckck, jangan meremehkanku. Akan ku buktikan, rencana ini lebih maju dari yang kamu fikirkan." ucapnya percaya diri. "Jangan terlalu berlebihan, tugas ini mungkin lebih sulit dari yang kau kira," sindirku. "Haalah ... tidak ada yang bisa menolak pesonaku," balasnya angkuh. "Kau siapkan saja uang berikutnya. Akan kukirim nomer rekeningku yang baru," sambungnya. Aku memutuskan panggilan, lalu mengirim lokasi dan beberapa kalimat. Kupandangi layar gawai yang masih menyala. Bisa kurasakan senyum puas menghiasi bibirku. Hm ... tunggulah sayang, akan ada kejutan istimewa untukmu dan keluargamu. ***ofd. Duh ... kejutan apa yak kira-kira. Ada yang tahu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN