Sepanjang malam, kubiarkan Mas Daniel memeluk tubuhku. dengkuran halus yang kurindukan kini kembali terdengar. Rona bahagia tergambar jelas diwajah lelapnya.
Lihatlah, kau bahkan bisa tertidur pulas, setelah apa yang terjadi.
Hah.. memandangi wajah tampan suamiku, membuat hati berdenyut nyeuri. Andai kau tak mendua, sudah pasti aku bahagia. Semua kenangan indah menari-nari diingatan, membuat air mata mengalir membasahi pipi. Disaat sendiri, dalam keheningan malam, terkadang aku serapuh ini.
Setegar apapun aku, aku akan menangis jika hati tersakiti. Lucu sekali, bukan?
Beringsut pelan menuruni ranjang, berjalan menuju balkon. Membuka sedikit jendela, memandangi bulan yang masih setia menemani bintang.
"Ayah.. kini aku tahu perasaanmu," bisikku lirih.
Hati kembali perih, bayangan masa lalu terlihat jelas dalam ingatan. Saat usia 13 tahun, aku dan Ayah mendapati Bunda berselingkuh dirumah kami sendiri. Ayah kalap melihat Bunda yang memeluk laki-laki lain diranjang yang biasa mereka tiduri.
Dengan membabi buta, Ayah memukuli selingkuhan Bunda. Bunda menjerit histeris memaki Ayah dan membela selingkuhannya. Saat itu Ayah mengusir Bunda dari rumah. Setelah mengemasi barang, Bunda berlalu tanpa menoleh sedikitpun kearahku.
Sampai sekarang, aku tak tahu kabar Bunda seperti apa. Tapi harapanku, semoga Bunda hidup menderita.
Ah.. perih sekali hati ini. Bahagia seolah enggan berlama-lama hinggap di hidupku. Kini aku berada diposisi Ayah. Mengapa hidup sekonyol ini? Aku kini berdampingan dengan para penghianat.
Menoleh kearah Mas Daniel, bahkan dia tidur seperti orang mati saking pulasnya.
Saat ingat kejadian itu, rasanya ingin sekali aku memisahkan kepalamu dari badan dan melemparnya keujung jurang. Mungkin hati, sedikit puas.
Pesan Ayah selalu terngiang.
"Jangan pernah berpasrah oleh takdir yang menyakitkan. Bangkit dan lawan manusia yang menyakitimu, Ayah menyesal melepas Bundamu. Seharusnya Ayah memberi dia pelajaran lebih dulu."
Ayah mengucap dengan nada dingin, mungkin menyesal membiarkan Bunda begitu saja.
Dan aku, tak mau menyesal seperti Ayah. Akanku pastikan Mas Daniel berdarah-darah didepan mataku. Aku takkan membiarkan Mas Daniel pergi begitu saja. Sebelum apa yang menjadi milikku berhasil kurebut kembali. Terlebih keluarganya turut dalam penderitaanku dan itu membuatku sangat marah, kalian harus membayar semuanya.
"Sudah mandi?" Tanya Mas Daniel saat aku keluar dari toilet dengan handuk yang melilit ditubuh.
"Ya.." jawabku sambil tersenyum.
Membuka pintu lemari mengambil dalaman dan pakaian, lalu melempar handuk diatas nakas. Memakai baju didepan Mas Daniel, bisa kulihat jakunnya naik-turun melihat badan polosku.
Aku tersenyum berjalan kearahnya setelah selesai memakai baju. Mas Daniel menatapku tanpa kedip, dan aku sangat mengerti apa yang ada didalam fikirannya.
"Mas mandi dulu ya sayang," bisiknya ditelinga lalu mencium keningku.
Setelah dia menghilang dipintu toilet, aku langsung mengusap kasar telinga dan kening ini. Merasa jijik dengan sentuhannya, mengingat sentuhan itu telah ia berikan pada orang lain. Bayangan dirinya menyentuh liar tubuh Anitta, selalu menari-nari dalam otakku. Semua yang melekat pada tubuhnya kini membuatku merasa bergidik.
"Mas sudah mau kekantor?" Tanyaku saat melihatnya memakai kemeja.
"Iya.. sudah enam hari Mas libur, pasti banyak laporan yang menumpuk," ucapnya sambil menyemprot parfum kebadannya. Aroma maskulin langsung memenuhi ruangan ini.
Hmm.. dulu aroma ini, mencadi candu tersendiri untukku.
Mas Daniel melangkah mendekat, bibirnya terkulum senyum. Menarik tanganku hingga kami berdiri berhadapan. Ditatapnya mataku dalam-dalam, lalu merengkuh tubuhku. Membuat aku bisa mendengar detak jantungnya.
"Trimaksih sayang, sudah menerima Mas kembali," bisiknya sambil mengelus pundakku.
Mas Daniel melonggarkan pelukannya, kembali menatap mataku. Saat wajahnya mendekat, aku mendorong pelan tubuh kekarnya.
"Ayo turun, aku sudah laper," ucapku sambil tersenyum kaku lalu mengambil tas diatas nakas.
Aku tidak ingin muntah dipagi hari, saat bibirnya mendarat dibibirku.
Kami berjalan beriringan menuruni tangga, dimeja makan kulihat Anitta tengah sibuk menata makanan diatas meja makan.
"Hai.. pagi Mas," sapa Anitta saat kami tiba dimeja makan.
"Mau sarapan apa? Ini aku semua loh yang masak," ucapnya riang.
Mas Daniel tampak kikuk melihatku, namun aku melemparkan pandangan ketempat lain. Tak perduli tatapannya.
"Roti bakar keju, special buat kesayangannya aku."
Anitta meletakan roti bakar dihadapan Mas Daniel, lalu menuang air kedalam gelas. Senyumnya selalu merekah menatap suamiku, membuatku muak dan ingin merobek wajahnya.
"Sayang.. mau sarapan apa?" Tanya Mas Daniel.
"s**u coklat saja," ucapku dengan senyuman.
"Bik Inah, tolong s**u coklat buat Fiona," titah Mas Daniel.
Bik Inah menganggukan kepala, tangannya dengan cepat menyiapkan pesananku.
Kulihat Anitta menatap jengkel lalu memotong roti dengan gerakan cepat.
"Silahkan Non," sambil tersenyum Bik Inah menaruh gelas s**u didepanku.
"Eh mau dibawa kemana Bik," tanyaku heran, saat melihat Bibik membawa nampan berisi nasi goreng dan teh hangat.
"Mau dibawa ke pos, buat Paman Non," jawabnya dengan senyum tipis.
"Paman sudah pulang?"
"Sudah Non, tadi pagi jam enam."
"Oh ya.. kalau begitu, suruh Paman masuk kedalam. Aku ingin sarapan dengannya," titahku dengan senyum menyerigai.
Anitta nampak sibuk dengan sarapannya, dan tersenyum pada Mas Daniel. Bisaku lihat sesekali dia melirik sinis kearahku. Ckckck, dasar manusia tidak tau malu, sudah menumpang hidup dirumahku malah mau memusuhiku. Baiklah.
"Pagi Non," suara barinton menyapa gendang telinga. Aku langung menoleh kearah suara.
Prang.. suara sendok dan garpu lolos begitu saja dari tangan Anitta, wajah cerianya berganti menjadi pucat.
"Pagi Paman," ucapku sambil bangkit dari kursi, senyum merekah kupamerkan didepannya.
"Makan disini Paman," aku menunjuk kursi disampingku. Paman langsung mengangguk, lalu menggeser kursi dan mendudukinya.
Anitta langsung menyambar gelas berisi air putih, lalu meneguknya dengan rakus.
"Silahkan Paman," Bik Inah menaruh nasi goreng dan teh hangat didepan Paman.
Mata Paman menatap lekat pada Anitta, lalu menoleh kearahku. Sorot matanya meminta penjelasan.
"Kau tau Paman, sepertinya ada yang merindukanmu," ucapku dengan senyum yang mengembang.
"Uhuk.. uhuk," Anitta terbatuk seketika, wajahnya memerah. Bisa kulihat tangannya bergetar meraih gelas. Dia menepuk-nepuk dadanya lalu meminum air dengan gerakan cepat.
"Datanglah ke kamar Bik Inah, kalau Paman ingin mendapat kehangatan."
Senyum mengerikan menghiasi wajah Paman, dia menganggat sebelah alis lalu menatap Anitta yang membeku ditempat.
Sorot ketakutan tergambar jelas diwajah dan matanya. Bukankah ini keinginanmu. Salah besar bukan? Beginilah jika nafsu menjalar diotak, jadi tidak bisa berfikir dengan jernih. Kau bahkan memaksa memasuki kandang srigala, yang siap mengkoyak dan melahap tubuhmu kapan saja.
Kulihat wajah Mas Daniel takkalah pucat, sorot matanya memandang Anitta dengan penuh rasa khawatir. Dia tak menyadari sedari tadi aku memperhatikannya.
"Dilanjut Mas sarapannya," ucap lembut, namun membuatnya tersentak lalu salah tingkah.
"Eh.. iya sayang," ucapnya dengan senyum samar.
"Gimana liburanya Paman?" Tanyaku setelah menyesap s**u coklat.
"Lumayan," sahutnya datar sambil memasukan sendok berisi nasi goreng kemulutnya.
"Senang bisa liburan dengan keluarga?" Tanyaku memancingnya.
Paman sangat tidak suka pada orang yang banyak bicara.
"Begitulah," ucap Paman setelah menyesap minumannya.
"Tapi sepertinya, disini akan lebih jauh menyenangkan," sambungnya dengan senyum menyerigai kearah Anitta.
Ah.. Paman, kau memang yang terbaik, kau tahu isi hatiku.
***
Hai.. jangan lupa tinggalkan jejak dan komen isi cerita.
Aku menunggu coretanmu di kolom komentar. ☺️